.
“Kia kemana Liv?” Rei bertaya pada Liv yang sedang menekuni sarapannya di meja makan. Dengan diresmikannya caffe tadi malam maka aku juga sudah resmi berhenti dari pekerjaan sementaraku. Jadi aku tak perlu lagi datang ke kantor Kia.
“Eh? Cak Kia udah berangkat dari tadi..”
Iyalah udah berangkat dari tadi. Ini kan udah jam 8 lebih. Gara-gara Rei kami jadi keluar kamar jam segini. Untung budhe Lis belum pulang dan hanya ada Liv. “Kamu kenapa Liv kok pucet?” seperti tidak ada darah di wajah Liv.
“Hmm? Ngga kok. Mungkin karna aku tidur kemaleman dan capek gara-gara acara semalam.” Liv tersenyum tipis. Ia memang terlihat lelah. “Maaf kak.. aku ngga masak cuman bikin mie. Kukira kalian nggak pulang.”
Rei menyeringai sedangkan wajahku terasa panas. “Ngga papa Liv. Kamu nggak ada kelas pagi ini?”
“Ada, bentar lagi mau berangkat..” perkataan Liv terpotong bunyi bel rumah. “Itu temanku, aku akan berangkat dulu ya..” Liv membereskan peralatan makannya lalu segera meluncur ke ruang depan.
“Ada yang aneh dengan Liv.” Ujar Rei tiba. Apa yang aneh dengan dia? “Biasanya ia tampak ceria dan cerewet.”
“Dia bilang sedang lelah tadi. Tidak kau juga dengar kan?” Rei menggumamkan sesuatu tentang Kia dan entah apa itu. Aku mengabaikannya dan memeriksa isi lemari pendingin yang ternyata.. hanya terisi 10% dengan air mineral dan beberapa buah.
“Sepertinya kita harus brunch di luar. Tidak ada apa untuk dimakan.” Kataku lesu.
“Bagus. Kita bisa sambil menunggu waktu tayang Tn. Stark.” Rei melambaikan dua tiketnya.
.
.
.
“Kenapa mereka menambah tokoh baru? Padahal kelompok sebelumnya sudah bagus.” Gerutu Rei dengan mulut penuh. Ya Tuhan, tidak bisakah ia menelan pop cornnya lebih dulu. Aku ragu dia adalah calon tunggal pengganti Pak Salim jika sifatnya seperti ini.
Ia menenggak minuman soda yang kusodorkan. “Regenerasi Rei. Mereka sudah tua!”
“Merekan kan punya kekuatan super.” Entah mungkin terlalu stress karena tekanan kerja yang terlalu tinggi atau apa, sepertinya otak Rei sedikit bergeser.
“Mereka akan tua dan mati! Itu Cuma akting. Kekuatan super apanya..” geramku. Rei terkekeh mendengar protesku. Ia mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari saku jaket. Melihatnya dari sudut mataku, Rei tampak asyik membaca pesan yang barusan diterima. “Siapa?”
“Clara, dia bilang salah satu pabrik di Tangerang mengalami kebakaran dan Papa tidak mungkin kesana.”
“Ya Tuhan! Seberapa parah?” Hampir saja aku menjerit jika tak sadar kami sedang berada di bioskop.
“Clara tidak memberitahuku. Hanya saja aku harus cepat mengadakan jumpa pers dan bersiap jika saja ada korban..” Sial. Kuharap tidak separah itu. “Dengarkan aku Vio. Aku tak berniat meninggalkanmu disini sendiri, hanya saja aku harus pergi. Clara telah memesankan tiket untuk sore ini. Aku akan membereskan masalah ini, jika semua sudah selesai baru aku akan menjemputmu.”
Aku menggengam tangannya untuk memberinya kekuatan dan keyakinan bahwa aku mengerti dan akan menunggunya. “Biarkan aku mengantarmu ke bandara.” Tersenyum dan mengecup pipi Rei.
“Tapi aku harus ke Surabaya. Aku bisa sendiri. Sebaiknya kau istirahat saja.” Rei mengusap lembut kepalaku.
“Tidak! Aku tetap akan mengantarmu.”
“Uh.. wanitaku yang keras kepala..” Rei mengacak rambutku.
“Yak!” tak sadar berteriak, penonton di sekitar kami memicing padaku. Sial!
.
.
.
Bersyukur karna kebakaran di salah satu pabrik kosmetik tidak terlalu parah dan tidak memakan korban. Namun proses produksi harus dhentikan sementara waktu. Penyebabnya masih diselidiki pihak berwajib tapi asal api adalah dari ruang mesin. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan apapun.
Yang jadi masalah itu..
“Berapa banyak kerugian yang diakibatkan oleh kejadian ini Pak?”
“Apakah anda sudah tau penyebab kebakaran ini?”
“Apa kebakaran sengaja dipicu oleh pihak luar?”
“Apakah anda akan menutup pabrik tersebut?”
Dan blitz-blitz dari kamera sialan itu seperti mau membutakanku. Tidak bisakah mereka hanya sekali saja mengambil gambarku. Toh dari tadi aku hanya duduk tenang di belakang meja konfrensi pers.
Setelah beberapa orang menenangkan para wartawan dan menghentikan kilat dari para juru kamera aku mulai membuka acara ini. Yeah, semakin cepat dimulai akan semakin cepat pula selesainya. Hanya membacakan lembar yang kuterima beberapa menit yang lalu untuk menjawab semua pertanyaan mereka. Hell. Aku bahan baru sampai di sini dan buta informasi sama seperti mereka.
Setelah memberikan makan pada para piranha. Maksudku wartawan. Aku memutuskan untuk segera undur diri. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Termasuk memantau harga saham. Kukira investor tentu tidak akan dengan kejadian ini.
Tapi sebelum itu.. aku akan menghubungi wanitaku dulu. Keras kepala sekali ia mengantarku sampai ke bandara padahal aku tau ia lelah. Well.. setelah malam yang hebat serta paginya yang luar biasa, tentu ia lelah bukan?
“Ayah anda telah menghubungi secara pribadi investor serta sebagian pemegang saham utama. Anda tidak perlu khawatir dan bisa langsung pulang.” Salah satu tangan kanan papa yang menjemput dan membawaku ke konferensi pers memberikan info yang sedikit memberiku nafas lega. Lebih baik aku menjawab pertanyaan ganas dari para piranha. Maksudku para wartawan. Dibanding harus berbicara pada kebanyakan investor berkepala batu. Yeah, aku menyadari memang harus ada sikap tegas dari seorang pemimpin. Tapi mereka kadang sangat menyebalkan.
“Terima kasih Pak Andri.” Seulas senyum diberikan oleh asisten papa itu.
“Sama-sama nak Rei. beliau juga nitip pesan kalau anda harus pulang ke kediaman Pak Salim malam ini.”
Ergh.. ya ampun papa.. apa yang diinginkannya sekarang? Hmm.. tapi jika papa ingin bertanya tentang Viona maka aku punya kabar gembira untuknya. “Baik Pak, tolong antarkan saya segera.”
Selama perjalanan ke rumah papa aku mencoba menghubungi Viona tapi tak ada jawaban. Pesanku juga tidak dibaca. Mungkin saja ia sudah tidur. Tapi ini baru jam 8 mala. Ahh.. tentu saja ia kelelahan. Lebih baik besok pagi saja kuhubungi lagi.
.
.
.
“Pagi pagi Pa.”
“Pagi.” Papa sedang menekuni korannya dengan kopi hitam yang mengepul di menja sampingnya. Mama masih mengurusi si bungsu. Memberinya makan dan susu. Entah mengapa kucing gemuk itu jadi kesayangan mama padahal ia kucing pemalas yang hobinya saban hari hanya tidur di singgasananya. Mama masih saja memanjakannya, jadi aku sering menganggap ia adalah anak mama selain aku. “Bagaimana keadaan Viona?” memang tadi malam belum kujelaskan secara terperinci. Aku hanya mengatakan bahwa hubungan kami sudah membaik.
“Dia baik-baik saja. Aku belum membawanya pulang karena kukira kejadiaannya parah. Besok mungkin dia sudah akan pulang.”
“Siapa yang akan pulang Rei?” mama baru keluar dari wilayah kerajaan anak bungsunya a.k.a. Bubu yang suka bobo sapanjang waktu.
“Menantu satu-satunya yang paling cantik Ma..”
“Yang benar?! Mama udah kangen banget sama Viona.. kamu sih lelet banget nyarinya.” Aku hanya bisa meringis mendengar keluhan mama. Tapi ngomong-ngomong, pagi ini aku lupa untuk menghubunginya lagi.
Tepat saat ponsel di meja makan ingin kuraih, ponsel itu berdering. Menampilkan ID caller bernama Kia. Hmm.. aku bahkan belum berpamitan padanya kemarin, dengan budhe juga. Mungkin aku harus menjemput Viona ke Malang dan berpamitan pada mereka.
“Halo?”
“Hallo Raihan. Aku melihat berita pagi ini juga Liv mengatakan kau terpaksa pulang. Err.. apa disana baik-baik saja?”
“Ya, kami bisa mengatasinya. Untunglah tidak terlalu parah. Kenapa kau baru tau dari Liv pagi ini? Apa kau menghindarinya?” Kia jelas menghindari Liv, pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.
“Entahlah.. kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya. Aku juga disuruh budhe untuk menanyakan kabar Viona.” Apa?
“Maksudnya? Bukannya Viona ada disitu?” Shit.. kurasa ada yang tidak salah.
“Lho.. Kami kira Viona menemanimu pulang. Dia tidak ada disini..” sialan.. calm down Rei... sebelum pertanyaanku meluncur kembali dengan emosi yang membara, lebih baik aku pindah ke ruang depan agar Papa dan Mama tidak curiga.
“Tidak. Dia hanya mengantarku sampai bandara dan bilang akan menungguku..” sebenarnya ada apa dengan wanita itu! Bukankah kami sudah sepakat? Bahkan kami melewati hari yang luar biasa kemarin. Tidak mungkin jika Viona ingin lari lagi.
“Apa kalian bertengkar hebat lagi?” tuduh Kia. Aku mengerang mengingat bagaimana kebersamaan kami kemarin.
“Tidak! Ya Tuhan.. bahkan kami kemarin baru berbaikan dan semuanya berjalan lancar. Sangat lancar kalau boleh kubilang.. apakah tidak ada kerabat lain di Malang yang biasanya ia kunjungi?”
“Hanya kami keluarganya disini.. aku tak tau jika ada teman atau siapa. Tenang dulu Rei, kami akan berusaha mencarinya.”
“Oke.. oke.. aku akan segera kesana.”
“Tapi..” Kia seakan ingin protes tapi aku segera memutuskan sambungan. Hollyshit! Apa yang sebenarnya terjadi.
Bahkan ponsel Viona tidak aktif saat kucoba menghubunginya sekarang ini. Pesan yang tadi malam juga belum dibaca.. Sialan...
Kemana kamu.. tidakkah kamu lelah berlari.. bukanah kita sangat bahagia kemarin.. kenapa kau kembali menghilang?!?!
.
.
.
0 Response to "Hopeless Part 76"
Post a Comment