Semalam kami, aku, Rei
dan ayah, telah membahas langkah apa yang akan kami lakukan. Rumah ayah
telah dikosongkan, entah dikemakan isinya oleh Keyra. Mengingat itu
darahku serasa mendidih. Berani-beraninya dia melakukan itu pada rumah
ayah. Aku terlalu bodoh dulu meninggalkan ayah dengan wanita itu.
Seandainya aku tak menuruti permintaan ayah dan masih tinggal di rumah,
mungkin ini semua tak akan terjadi. Bahkan mungkin aku tak akan menikah
dengan Rei. Ok, itu satu hal yang mungkin tak kusesali. Selalu ada
kebaikan yang berjalan dengan keburukan bukan?
Menurut Rei, perusahaan
ayah bisa digugat kembali mengingat ayah tidak melakukan transaksi
apapun. Ia akan mencari pengacara terbaik untuk ayah. Kuharap Keyra bisa
dijbloskan ke balik jeruji. Tapi lagi-lagi sepertinya ayah tak ingin
menuntut wanita itu, ia hanya ingin hasil usaha yang dikerjakannya dari
nol dulu kembali padanya. Bahkan setelah kuceritakan kalau Keyra meminta
sejumlah uang beberapa waktu lalu dengan alasan pengobatan ayah, ayah
masih sedikit membelanya. Segitu cintanya kah ayah pada wanita ular itu?
Aku tak habis pikir.
"Kau sebaiknya mengambil
libur dan menemani ayah membeli perabot rumah." Yah aku memang
berencana seperti itu karna sudah jam tujuh pagi dan aku masih
mengenakan baju tidur. Tidak berolah raga, belum sarapan, belum mandi
sama sekali bahkan belum beranjak dari ranjang. Terlalu capek untuk
beraktifitas terlalu pagi. Mungkin karena lagi tanggal merahku juga.
"Hmm.. ya, aku akan menguras kartu kreditmu kali ini Sir." Aku menekan mukaku ke arah guling dan memeluknya erat.
"Terserah padamu, tapi hentikan aksimu. Kau tau aku iri dengan guling itu?" aku mengangkat wajahku dan tersenyum nakal padanya.
"Jadi kemarilah dan jadi
gulingku." Godaku yang sukses mendapat pelototan darinya. Aku tau Rei
menahan umpatannya karna bibirnya bergerak tak tentu sambil menggeram.
Rei sudah rapi dengan setelan kerjanya dan tak mungkin meladeni
permintaan gilaku.
"Nikmati hari-hari
terakhirmu sebagai seorang Kamal Miss. Viona." bantal terlempar tepat ke
wajahnya. Seharusnya dia lebih menjaga mulutnya.
"Pergi sana!" usirku tak tahan. Dia malah tertawa geli, uh!
.
.
.
Aku benar-benar mencongkel sedikit pundi-pundi Rei. Salah sendiri nggak ada batesan pada credit card yang diberikan padaku. Aku memilih perabot baru serta hal-hal tetek bengek lainnya. Setelah kami pagi tadi (pagi menjelang siang) menengok rumah, ternyata memang rumah dalam keadaan kosong. Benar-benar membuatku muak, terlebih ketika melihat wajah sedih ayah. Rumah itu tentu saja memiliki banyak kenangan, terutama kenangan tentang Ibu. Aku segera mengajak ayah untuk pergi dari sana dan mencari apa saja yang dibutuhkan. Sebenarnya aku yang tak mau lama-lama memandangi wajah ayah yang muram, bisa kupastikan ia teringat kenangan-kenangannya selama di rumah ini dan tak menyangka ini terjadi padanya.
.
.
.
Aku benar-benar mencongkel sedikit pundi-pundi Rei. Salah sendiri nggak ada batesan pada credit card yang diberikan padaku. Aku memilih perabot baru serta hal-hal tetek bengek lainnya. Setelah kami pagi tadi (pagi menjelang siang) menengok rumah, ternyata memang rumah dalam keadaan kosong. Benar-benar membuatku muak, terlebih ketika melihat wajah sedih ayah. Rumah itu tentu saja memiliki banyak kenangan, terutama kenangan tentang Ibu. Aku segera mengajak ayah untuk pergi dari sana dan mencari apa saja yang dibutuhkan. Sebenarnya aku yang tak mau lama-lama memandangi wajah ayah yang muram, bisa kupastikan ia teringat kenangan-kenangannya selama di rumah ini dan tak menyangka ini terjadi padanya.
"Ayah pilih yang mana?"
"Apa ini nggak
berlebihan?" kami sedang ada di bagian ranjang dan bed, dan sedang
mengamati dua ranjang berukuran king yang terlihat cukup wow.
"Nggak, lagian Rei nggak batesin kartuku kok."
"Justru kalau kamu tidak dibatasi itu kamu harus bertanggung jawab dalam menggunakannya."
"Aku hanya ingin yang
terbaik untuk ayah.." ya! Aku ingin yang terbaik untuknya, agar dia
segera melupakan kejadian ini, bukan melupakan melainkan mengalihkan dan
menyembuhkannya. Aku tau dia sangat terluka. "Maaf karna aku terlambat
mengetahui ini dan tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kita kehilangan
album kita." Itu sebenarnya yang bikin aku muak sekaligus marah. Kalau
perabot saja mungkin aku masih bisa mencari gantinya, tapi foto-foto
itu, bagaimana aku bisa mendapatkannya kembali? Aku tak tau apa Keyra
masih menyimpannya atau sudah melenyapkan semua itu karna Keyra saja
masih belum ketemu. Rencananya Rei akan menyuruh orangnya untuk mencari
Keyra, ia juga meminta bantuan polisi. Tentu tanpa sepengetahuan ayah,
karna ayah pasti melarang untuk mencari wanita itu.
"Sayang, ayah tak pernah
sekalipun menyalahkanmu. Kamu sama sekali tak salah, justru ayahlah
yang meminta maaf. Ayah telah terperdaya bahkan mengusirmu.." Ayah
memelukku, aku tak tahan untuk tak menangis haru. "Maafkan ayah Viona.."
dan aku menangis semakin keras. Tak peduli tatapan aneh dari beberapa
pasangan, yang mungkin pengantin baru sedang mencari perabot untuk rumah
mereka, menatap kami yang saling berpelukan dan menangis.
.
.
.
"Apa semuanya lancar?"
.
.
.
"Apa semuanya lancar?"
"Hmm.. ya. Kami telah
membeli semua perabot dan besok semuanya akan diantar." Aku menjawab
pertanyaan Rei sambil fokus mengoreksi laporan dari Gio.
"Kau bisa mengambil libur lagi jika mau." Tawar Rei.
"Tidak Rei, aku nggak
mau pekerjaanku numpuk dan berantakan. Aku sudah beresin semuanya kok
tadi, ayah juga sudah kubelikan baju." Mataku masih fokus dengan monitor
di depanku. Mac silverku nangkring dengan indah di atas bantal
menampilkan sederet angka serta beberapa keterangan.
"Biarkan ayah tinggal
disini dulu, jika dia kembali maka dia akan sendirian di rumah itu."
Huh.. basa basi yang pintar Rei! Dia mulai berbaring meletakkan
kepalanya di atas tulang keringku. Rambut hitamnya cukup membuat kakiku
meremang geli. Aku tau pasti apa yang diinginkannya.
"Aku sudah bilang begitu
pada Ayah. Tapi ayah seperti tak mau mendengarku, ia berkata bahwa
sangat merindukan rumah itu. Dia akan kembali beberapa hari lagi."
"Aku bisa menyuruh seseorang untuk menjaganya."
"Benarkah? Kalau begitu
aku bisa lega." Tanpa sadar aku mendesah lega. "Aku tak mungkin
meninggalkan ayah sendirian. Lagipula Keyra belum ditemukan. Entah
bersembunyi dimana wanita itu." Sekali lagi aku belum bisa bernafas lega
mengingat Keyra yang masih hilang dan bisa muncul dengan tiba-tiba,
kutebak dia pasti punya suatu rencana.
"Aku sudah bicara lagi
dengan Bayu. Dia mengerti dan mau bekerja sama." Rei mulai membuat
lingkarang lingkaran kecil di sepanjang tulang keringku, kepalanya yang
miring membuatku bisa merasakan nafasnya berhembus membelai kedua
kakiku. Sial aku tak bisa menggerakkan kakiku.
"Maksudmu?"
"Bagaimana kalau kita menuntut Keyra?"
Mendengar nama itu
disebut membuatku bergidik marah. "Tentu saja, itu hal yang paling
kuinginkan di dunia saat ini. Tapi masalahnya ayah seperti tak mau
memejahijaukan wanita ular itu."
"Kita bisa melakukannya
secara diam-diam. Bayu menerima untuk bekerja sama, dia punya bukti
pemalsuan sertifikat pastinya. Dan kurasa itu cukup." Rei masih membuat
lingkarannya.
"Baiklah aku setuju. Ngomong-ngomong kita mau pergi ke mana akhir pekan ini? Gio mengajak kita untuk pergi bersama."
"Gio? Apa dia tidak ada rencana dengan Naya?"
"Itu keinginan Naya, dia ingin kita pergi bersama."
"Ya ampun.. hormon ibu hamil!" gerutu Rei. "Dia ingin pergi kemana?"
"Nggak tau, katanya
terserah." Aku menutup layar Mac ku dan meletakkannya di nakas.
"Hentikan kelakuanmu Rei atau akan kubuat adikmu menderita." Salah satu
kakiku kusentakkan.
Rei bangun dan memposisikan kepalanya di atas bantal. "Kapan sih tamunya pergi!?"
"Emang kalau tamuku pergi kau mau apa?" tanyaku geram sambil menaikkan selimut.
"Memasukkan milikku ke dalam milikmu." Oh sial itu sangat..
"Mr. Husain, apa perlu aku mengambil lakban untuk membungkam mulut kotormu."
"Tak perlu sayang, hanya ini bisa membungakamku." Rei menarikku, menciumku keras dan panas. Oh! A hot french kiss before sleep.
.
TBC
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 55"
Post a Comment