Hopeless Part 40

.
.
Demi apapun yang ada di dunia ini! Apa yang terjadi dengannya? Tanganku agak gemetar memegang berkas, untung aku masih duduk menunggu semua direktur menempati kursinya masing-masing, kalau tidak aku pasti jatuh meluruh saking kagetnya.
Wajah Rei tampak berantakan. Bahkan bajunya. Euh.. apa itu seorang dirut muda yang sebentar lagi menggantikan Pak Salim? Terlihat seperti pegawai baru yang terlambat datang ke kantor dengan naik bus yang penuh sesak. Yang paling membuatku ingin menghampirinya dan bertanya kemana dia semalam adalah jahitan terbuka di dekat alisnya, di pelipis kirinya. What the hell going on him??
Setelah semua orang duduk di tempatnya masing-masing, aku berdiri, berjalan ke arah podium. Hampir saja kehilangan konsentrasi gara-gara kejutan dari penampilan Rei. Sialan. Aku harus fokus, terlepas dari kerah bajunya yang mencuat berantakan serta dasinya yang terlalu miring untuk seseorang yang perfeksionis. Forget him, please!!
Senyuman telah kembali ke pelukan wajahku, dipersembahkan untuk semua anggota direksi yang duduk manis menatapku dengan pandangan datar, atau bosan?. C'mon, bahkan ini belum dimulai, kalian akan memasang kuping kalian baik-baik setelah aku bicara tentang keuntungan dari proyek ini.
Anggap saja mereka peserta seminar atau para dedengkot sembilan saat rapat. Ya. Aku bisa. Aku memulainya seperti biasa, salam dan seperangkatnya, lalu memainkan digital presentasi yang telah dibuat oleh team. Semua orang di meja bundar juga mulai meraih berkas di depan mereka dan membukanya.
Go with the flow. Tapi sedikit membosankan juga. Aku terus ngoceh tentang alam, global warming, keikut sertaan perusahaan ini dalam menjaga alam dan sebagainya. Sampai ada salah seorang yang tak sabar dan menyelaku.
"Selain keuntungan dari menjaga alam itu, apa keuntungann bagi kami?" seorang wanita awal tiga puluhan bertanya langsung ke intinya. Hm.. sepertinya bom harus dijatuhkan lebih awal agar wajah mereka semua bertekuk lutut menatapku dengan serius.
Aku melompat ke tengah-tengah bagian dalam presentasi. "Saudara sekalian bisa lihat apa yang aneh dari kemasan makanan ini?" aku memperlihatkan sebuah kemasan makanan ringan yang cukup terkenal, namun bukan dari produk dari perusahaan kami.
"Apa yang salah?" gerutu seseorang yang tak sabar.
"Flavour : Air." Kuberi nilai 100 untuk orang dengan ketelitian lebih.
"Ya. Rasa udara. Ini adalah sebuah meme. Sebenarnya masyarakat sekarang lebih pandai menyatakan pendapat mereka melalui gambar-gambar seperti ini. Senang, sedih, dan juga kecewa. Seperti pada produk ini. Mereka mengolok, menyindir produk ini. Dengan kemasan yang begitu besar namun isinya tak lebih dari sepertiga dari kemasannya. Kita akan mengambil keuntungan dari ini. Mengurangi ruang kosong di dalam kemasan. Itu sangat menghemat anggaran untuk bahan pembuatan kemasan. Dan yang lebih penting proses distribusi bisa lebih efektif." Aku memindah gambar bungkus makanan ringan ke slide berikutnya. "Jika sebuah truk mampu mengangkut 50 kardus, maka kita bisa menekan itu hingga 75 sampai 100 kardus. Itu dua kali menghemat biaya distribusi. Dan lagi space di rak penjualan. Kita bisa menaruh lebih banyak barang pada space yang kita punya."
I got you all. Pancaran mata mereka sekarang lapar. Lapar mendengar omonganku selanjutnya. Tentang pengurangan konsentrasi cairan pada produk-produk sabun, detergen dan yang lainnya. Wanita tiga puluhan tadi kembali menyelaku tentang biaya yang digunakan untuk proyek ini. Tentu akan sangat besar, mengubah semua kemasan, beberapa ingredients produk tertentu dan lainnya. Tapi aku meyakinkan dia semua akan kembali dalam kuartal pertama, dan selanjutnya keuntungan akan didapat.
Selama presentasi aku sebisa mungkin menghindari tatapan dari Rei. Meski luka di pelipisnya sangat menarikku untuk menatapnya dan melempar pandangan khawatir. Huh.. apa dia berkelahi dengan preman? Itu bukan gayanya. Satu jam yang melelahkan, tarik menarik antara presentasi dan keadaan Rei. Dan akhirnya aku bisa melewati ini. Dengan cukup baik.
Dewan direksi keluar dengan senyum tipis mereka. Dan itu cukup membuatku hampir meloncat loncat saking senangnya. Gio sudah menungguku diluar, dia merentangan tangan dan memelukku dengan erat.
"Sepertinya Naya bakal dapet job gede." Bisikku.
"Oh. Kau kau membuat istriku bekerja keras sayang." Ia melepas pelukannya dan membalikan badanku. "Ada dua pasang mata yang cemburu dan siap melahapku dalam sekali telan."
Shit. Rei dan Pak Salim lah yang dimaksud Gio. Pak Salim memberiku selamat atas presentasi yang cerdas dan menarik. "Tidak salah kamu jadi menantu papa. Rei memang paandai memilih istri." Aku cukup terharu mendengar pengakuan mertuaku ini.
Aku beralih pada Rei, agak ragu. "Selamat sayang.." ucapnya sambil memelukku. Aku sedikit tersentak, selain penampilannya yang kacau, aku merasakan hawa panas dari tubuhnya.
"Kau demam?" aku mendiagnosanya.
"Bisa bicara sebentar?" itu bukan pertanyaan meminta ijin karna Rei langsung menyeretku ke sebuah ruangan. Dingin. Telapak tangannya dingin seperti mayat. Well, aku belum pernah nyentuh mayat, tapi suhu tangannya sangat dingin, membuatku merinding.
"Kau kemana semalam?" aku langsung bertanya setelah memastikan tak ada orang yang mendengar kami di ruangan itu.
"Kau yang kemana. Aku mencarimu seperti orang gila. Ponselmu tak aktif dan segalanya jadi kacau!" Rei berteriak sambil mencengkeram lenganku. Ok, ini sedikit menakutkan.
"Aku di rumah Rei! Maaf untuk tidak menghubungimu.. kukira kau sedang ada urusan di luar.." ya, aku bersalah karna tak menghubunginya dan oh? Dia mencariku?
"Kau membuatku gila dari kemarin.." Rei memelukku, sangat erat. Entah kenapa aku merasakan ini sejenis pelukan keputus asaan. Apa yang terjadi sebenarnya?
"Kau demam dan.." aku memegang pinggiran luka di wajahnya.
"Tak apa. Aku sedikit hilang akal dan menabrak pohon."
"Dengan mobil?" jantungku serasa diremas.
"Ya.. sepertinya begitu."
"Oh.. Tuhan.." aku menutup mata dan menggelengkan kepala tak sanggup untuk membayangkannya.
"Tidak apa. Yag penting kau masih bersamaku. Aku bersyukur untuk itu." Rei kembali memelukku lebih erat lagi.
Rei mengajakku makan siang di luar kantor. Dia ingin berbicara berdua saja, ada hal yang harus diberitahukannya. Aku juga begitu, aku ingin membicarakan kontrak pernikahanku. Dia membawaku ke rumah makan yang sama saat dia melamarku. Nuansa homy langsung terasa saat kami masuk, disana hanya ada beberapa meja yang terpisah cukup jauh, menyajikan privasi bagi pengunjung. Kali ini kulihat ada pengunjung lainnya selain kami tentu.
Kami tak membicarakan hal-hal yang berat hingga selesai makan. Kulihat Rei sedikit gugup, ia meneguk minumannya dan berdehem pelan. "Begini.. tentang malam itu.. aku minta maaf. Aku.."
"Aku tau Rei.." aku menggenggam tangannya, menguatkan pada apapun itu. Tangannya sekarang lebih hangat, tak seperti tadi. "Kau lepas kontrol, aku tak bisa menyalahkanmu sepenuhnya."
Dahi Rei agak berkerut, "Ya, tapi itu memang salahku. Maksudku, aku.. aku lepas tapi aku juga.." Rei bergerak gelisah di kursinya. "Aku sadar aku menginginkannya juga."
"Apa?!" tanpa sadar aku berteriak cukup kencang hingga menarik beberapa pengunjung menoleh ke arah kami. Aku segera menutup mulut dengan kedua tanganku. Rei sudah gila. Itu yang ada di pikiranku. Apa dia lupa soal kontrak itu.
"Kau harus tahu Vio. Aku tak bisa dekat denganmu lagi tanpa membuatku bergaurah." Oh Tuhan. Sudah cukup.
"Rei! Apa kau lupa soal perjanjian itu? Aku disini untuk membantumu. Membantu membuat ayahmu bahagia." Segera kuingatkan lagi alasan aku bersedia melakukan semua ini. Dan sampai sejauh ini.
"ya ya.. aku tau. Tapi siapa yang bisa mengontrol perasaan. Dan aku tak tau akan begini jadinya."
"God.. please.. kenapa jadi rumit kayak gini sih.." aku menggumam pada diriku sendiri.
"Bisakah kita mencoba? Kumohon Viona.. bisakah kita mencoba hubungan yang lebih. Aku mencintaimu hingga hampir gila. Dan aku tak sanggup kehilanganmu.. kemarin adalah hari terburuk dalam hidupku dan aku sama sekali tak ingin merasakannya lagi.." nafasku semakin sesak saja mendengar pernyataan Rei. Perutku melilit penuh antisipasi. Ini lebih dari rumit sepertinya. Rei meneruskan lagi omongan gilanya. "Aku tak ingin memaksamu, tapi kumohon jangan menghindariku.."
Haaahhh.. apa benar dia jadi seperti ini gara-gara aku?? "Aku tak tau Rei.. aku bingung." Aku berkata dengan sejujur-jujurnya. Otakku macet, udah dibuat kerja keras untuk proyekku lalu dikejutkan dengan yang satu ini. Berharap kalau ini cuma mimpi dan aku segera bangun. Somebody please wake me up!!
.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 40"

Post a Comment