Oh my.. Bangun dengan badan yang serasa remuk redam itu.. Pengen tenggelam lagi ke alam mimpi saja. Apalagi sakit pada..
Ya Tuhan! Mataku
langsung terbuka lebar dan meringis. Kedua lengan Rei dan sepasang
kakinya melilit di tubuhku bagai tanaman jalar yang merambati pagarnya.
Untung aku tak mati kehabisan napas semalaman ‘diikat’ seperti ini.
“Rei..” rengekku minta
dilepaskan. Matahari sepertinya sudah agak tinggi, aku tak mau tiba-tiba
ada pelayan kamar yang memergoki kami. Atau malah Gio dan Naya! “Rei
bangun!” aku memukul lengannya, bukan jenis pukulan main-main untuk bisa
membuatnya membuka seperti sekarang.
Sebelah tangannya yang
melilitku dibebaskan untuk mengucek matanya. Dia terlihat seperti bocah
saat bangun dari tidur. “Good morning my lady..” wajah dengan mata yang
masih tertutup miliknya mendekat dan memberiku kecupan ringan di dahi.
Setelah itu dia diam. Tidur lagi.
“Hey! Bangun! Apa kau mau Gio dan Naya kemari dan memergoki kita seperti ini?!”
“Yah.. terserah mereka.” Gumam Rei. ia kembali memerangkapku dalam dekapannya yang erat dan aku merasakan..
“Rei apa kau gila? Aku.. aku masih belum bisa..” yang benar saja.. bagian intimku masih perih hanya bergerak sedikit saja.
“Apa?” Rei membuka mata dan menatapku bingung. Ia telah melepas pelukannya yang menyesakkan.
“A..aku belum bisa melakukan itu lagi..” apa aku harus menjelaskan detailnya? Jangan membuatku mati karena malu Rei!
Rei tertawa renyah
mendengar alasanku. “Siapa yang mau mengajakmu bercinta di pagi hari
sayang? Aku tau milikmu masih sakit dan aku tentu tak ingin menyakiti
dirimu.” Rei mencium puncak hidungku. Lagi-lagi ungkapan yang meluluh
lantakan hatiku dengan menghormati hilangnya keperawanan yang baru saja
kualami.
“Tapi kenapa dia keras?”
dan entah kenapa mulutku lepas kendali. Sial! Kuharap Rei tuli tadi dan
tak mendengar pertanyaan gilaku. Tapi sepertinya harapanku sia-sia
karna tawa Rei makin kencang.
“Vio.. apa kau tak
pernah mendengar bagaimana pria terbangun di pagi hari? Otak mereka
memerintah untuk bangun sementara tubuh mereka menginginkan istirahat
lebih, and the dick always say ‘This is spartaa!!’ tau kan maksudku?”
“Lalu siapa yang menang?” ah terkutuklah mulutku.
“Tergantung..” seringai
indahnya membunyikan alarmku. “Kalau ada hal penting maka otakmu menang,
jika kau lelah maka badanmu menang dan.. hmm.. if there is a beautiful
woman beside you, the dick win..”
Aku melotot tajam.
“Otakmu kan udah sinkron tuh, lebih baik bangun deh.” Aku berusaha
menarik selimutku saat bangun. Pengen banget cepat sampai kamar mandi
dan menenggelamkan diri di bath tube.
“Mau kemana?” sebelah tangan Rei mencegahku untuk bangun.
“Mandi. Ini udah hampir siang Rei.. Kasian kalau Naya dan Gio nungguin kita,” Rengekku.
“Oke.. oke.. kau menang. Tapi biarkan aku membantumu mandi.”
Seketika aku menjerit ketika tangan Rei terselip di bawah lutut dan punggungku, mengangkatku dengan sangat mudah ke kamar mandi.
Di kamar mand Rei
memperlakukanku dengan lembut, bersyukur karna Rey membawaku beserta
selimutnya. Hey! Jangan berpikiran macam-macam! Dia benar-benar seorang
gentleman sejati. Setelah menggendongku dan mendudukkanku di atas
wastafel, ia menyiapkan air hangat di tube sementara aku hanya
memperhatikan gerak-geriknya dengan tubuh yang.. naked. Kenapa dia bisa
begitu santai dengan keadaannya? Ya ampun..
Setelah suhu sudah
dipastikan sesuai, busa juga telah mengembang. Rei membawaku ke tube,
membaringkanku secara perlahan seolah aku ini terbuat dari kaca ringkih,
setelah melepaskan selimut yang meliliti tubuhku. Tubuhku meremang, aku
Kalian jangan harap akan ada adegan sex panas di kamar mandi. Karna
kalian akan kecewa. Kami hanya mandi, aku berendam dan dia mengguyur
diri di bawah shower. Hanya itu, dan aku bahagia karna dia begitu
menghormatiku.
Aku sempat melirik
sekilas pada selimut yang teronggok di lantai kamar mandi. Ada bercak
darah yang secara simbolis menandakan lepasnya keperawananku. Aku tak
menyesal, malah bersyukur. Karna Rei adalah suamiku, orang yang
kupercayai dan kucintai..
.
.
.
.
.
.
Tanpa Rei mintapun aku
pastinya tak akan pernah melupakan akhir pekan kali ini. Selain karna
itu adalah malam suci bagi kami berdua juga karena keindahan tempat ini.
Hari pertama Rei tak memperbolehkanku menyentuh air laut, itu karena
beralasan tak mau aku merasa lebih ‘perih’ lagi. Aku menurut saja walau
dalam hati juga sedikit mendongkol. Bagaimana kamu bisa tahan untuk tak
menceburkan diri dan menikmati keragaman biota laut saat itu terletak
tepat di bawahmu?
Rei berkali-kali
meyakinkanku untuk membawaku kemari lagi asal aku menuruti katanya.
Hah.. terserah dia lah, lagian kenapa dia membawaku ke tempat seperti
ini jika aku tak diperbolehkan berenang setelah kami melakukannya?
Kenapa nggak ke puncak? Paris? Atau kemana gitu kek.. sepertinya aku
banyak berharap.
Untung hari Minggunya
aku diperbolehkan menikmati air laut. Kalau tidak aku bisa gila, gimana
nggak? Sudah lama sekali tidak ke pantai sekalinya datang malah dilarang
berenang, yang benar saja. Memang untuk apa menyewa pantai pribadi
kalau tidak menggunakannya. Dan ketakutan Rei sepertinya tak terjadi,
buktinya aku baik-baik saja berada di laut. And oh my... bagaimana aku
menggambarkan semua terumbu yang ada di bawah laut habitat ratusan jenis
biota laut. Sangat mengagumkan. Ombak yang berayun secara perlahan dan
kejernihan air yang luar biasa. Ini tempat yang sempurna untuk
snorkeling.
“Kau tak apa Viona?” Rei
bertanya dari dek boat yang membawa kami agak ke tengah laut. Aku
menyahutnya dengan dua acungan jempol. Menandakan aku baik-baik saja dan
ini sangat menakjubkan.
Rei sepertinya lebih
menikmati cuaca cerah dengan berbincang bersama Gio. Entah apa yang
sedang merka bahas, aku tak dapat melihat ekspresi mata mereka yang
tertutup kaca mata hitam. Mereka membiarkan para istri bersenang-senang
mengeksplor lautan.
Ngomong-ngomong aku
memakai bikini yang dibawakan oleh Rei. Dia memaksaku kalau perlu
dicatat. Memaksaku! Awalnya aku agak risih.. itu seperti kau keluar
hanya dengan menggunakan under wear, tapi lama-kelamaan tidak buruk
juga, lagian tidak akan ada yang melihat karna aku du bawah air.
“Suamimu pandai memilih
tempat.” Puji Naya, ia mengambang tak bergerak menikmati belaian air
laut. Perut buncitnya yang timbul tenggelam pada permukaan air membuatku
tersenyum geli, seperti balon dalam air.
“Segera keluar dari air sayang! Kulitmu bisa mengeriput.” Gio memberi.
Kami berenang mendekat
ke arah boat. Para pria memantu kami naik dan menyambut kami dengan
handuk besar. Seprtinya mereka tak ingin masing-masing mencuri pandang.
Ya ampun, jadi kenapa Rei memaksaku berpakaian seperti ini jika tak
mengijinkan orang lain melihatku. Bukankah kemarin dia sendiri yang
bilang hanya ada kita, Gio dan Naya. Dasar plin plan.
“Kita harus segera
kembali ke kota. Sebaiknya kalian cepat berbilas.” Rei dengan gagah
mengemudikan boat kembali ke dermaga, air laut mengibaskan rambutnya ke
belakang secara indah. Pemandangan yang langka, aku sedikit bersyukur
Rei tak mencukur rambutnya akhir-akhir ini. Kembali ke cottage kami
masing-masing untuk bersiap meninggalkan secuil surga yang terdampar di
bumi ini.
Waktu perjalanan pulang
selalu terasa lebih cepat. Padahal sebenarnya sama saja, entah
ketidakrelaan meninggalkan tempat seindah, sesejuk, sebiru dan
semenakjubkan itu atau hanya kelelahan karna euphoria kami jadi tak
merasakan lamanya perjalanan pulang.
Aku bahkan menolak untuk
sekedar mampir berbelanja oleh-oleh atau cinderamata di pusat kota.
Tapi berhubung Naya merajuk, tak ada yang berani menghalangi bumil yang
merengek meminta sesuatu. Aku heran, bagaimana Naya bisa masih mempunyai
energi setelah kegiatan kemarin dan seharian tadi berenang? Dan dia
sedang hami! Membawa beban di perutnya tentu sudah sangat melelahakan
bukan? Tapi sepertinya dia enjoy saja berjalan antara satu toko ke toko
yang lainnya.
Kepalaku kusandarkan
pada bahu Rei. kami bertiga seperti orang idiot yang sedang menunggui
ibu hamil mencobai beberapa sepatu. Rei asyk sendiri dengan ponselnya,
entah dia sedang baca apa aku tak berniat untuk mengintip. Gio menggumam
beberapa kali ketika ditanyai oleh Naya mengenai sepatu-sepatu yang
tengah di cobanya.
“Kapan sih istri lo
selesai belanjanya?” cibir Rei, ia bahkan tak mengalihkan matanya dari
layar ponsel. Aku menyeku perutnya atas sindiran itu. kukira ia sudah
mengalihkan kebosanannya pada ponsel itu, ternyata masih sama-sama
sekarat dalam penantian.
“Kalian kenapa? Kok mukanya kusut gitu, apa kalian tidak senang aku berbelanja..?” Oh Tidak..
“Eh nggak kok Nay? Aku
juga mau belanja, tadi kaki kram doang..” aku bangkit dan
menghampirinya. Ya ampun.. kenapa itu air mata udah ngintip aja, bikin
orang kelabakan.
“Iya sayang, yang tadi
itu bagus loh.. kenapa ambil yang ada tali-talinya sekalian?” Gio
tergagap dan secara reflek memilah-milah sepatu yang ada di rak.
“Vio kamu ambil yang itu aja, yang ada batunya.” Rei menunuk pada sebuah sandal teplek dengan beberapa tempelan batu.
Waow.. hanya dengan muka
melas si ibu hamil kami semua harus menaikkan mood, padahal daya kami
sudah hampir mencapai batas pemakaian. Sialnya Naya masih terus merajuk
karena merasa diacuhkan tadi, wajahnya tertekuk bahkan hingga kami tiba
kembali ke rumah. Dan Gio lah yang paling frustasi menghadapinya.
.
.
TBC
.
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 59"
Post a Comment