Hopeless Part 59


Oh my.. Bangun dengan badan yang serasa remuk redam itu.. Pengen tenggelam lagi ke alam mimpi saja. Apalagi sakit pada..
Ya Tuhan! Mataku langsung terbuka lebar dan meringis. Kedua lengan Rei dan sepasang kakinya melilit di tubuhku bagai tanaman jalar yang merambati pagarnya. Untung aku tak mati kehabisan napas semalaman ‘diikat’ seperti ini.
“Rei..” rengekku minta dilepaskan. Matahari sepertinya sudah agak tinggi, aku tak mau tiba-tiba ada pelayan kamar yang memergoki kami. Atau malah Gio dan Naya! “Rei bangun!” aku memukul lengannya, bukan jenis pukulan main-main untuk bisa membuatnya membuka seperti sekarang.
Sebelah tangannya yang melilitku dibebaskan untuk mengucek matanya. Dia terlihat seperti bocah saat bangun dari tidur. “Good morning my lady..” wajah dengan mata yang masih tertutup miliknya mendekat dan memberiku kecupan ringan di dahi. Setelah itu dia diam. Tidur lagi.
“Hey! Bangun! Apa kau mau Gio dan Naya kemari dan memergoki kita seperti ini?!”
“Yah.. terserah mereka.” Gumam Rei. ia kembali memerangkapku dalam dekapannya yang erat dan aku merasakan..
“Rei apa kau gila? Aku.. aku masih belum bisa..” yang benar saja.. bagian intimku masih perih hanya bergerak sedikit saja.
“Apa?” Rei membuka mata dan menatapku bingung. Ia telah melepas pelukannya yang menyesakkan.
“A..aku belum bisa melakukan itu lagi..” apa aku harus menjelaskan detailnya? Jangan membuatku mati karena malu Rei!
Rei tertawa renyah mendengar alasanku. “Siapa yang mau mengajakmu bercinta di pagi hari sayang? Aku tau milikmu masih sakit dan aku tentu tak ingin menyakiti dirimu.” Rei mencium puncak hidungku. Lagi-lagi ungkapan yang meluluh lantakan hatiku dengan menghormati hilangnya keperawanan yang baru saja kualami.
“Tapi kenapa dia keras?” dan entah kenapa mulutku lepas kendali. Sial! Kuharap Rei tuli tadi dan tak mendengar pertanyaan gilaku. Tapi sepertinya harapanku sia-sia karna tawa Rei makin kencang.
“Vio.. apa kau tak pernah mendengar bagaimana pria terbangun di pagi hari? Otak mereka memerintah untuk bangun sementara tubuh mereka menginginkan istirahat lebih, and the dick always say ‘This is spartaa!!’ tau kan maksudku?”
“Lalu siapa yang menang?” ah terkutuklah mulutku.
“Tergantung..” seringai indahnya membunyikan alarmku. “Kalau ada hal penting maka otakmu menang, jika kau lelah maka badanmu menang dan.. hmm.. if there is a beautiful woman beside you, the dick win..”
Aku melotot tajam. “Otakmu kan udah sinkron tuh, lebih baik bangun deh.” Aku berusaha menarik selimutku saat bangun. Pengen banget cepat sampai kamar mandi dan menenggelamkan diri di bath tube.
“Mau kemana?” sebelah tangan Rei mencegahku untuk bangun.
“Mandi. Ini udah hampir siang Rei.. Kasian kalau Naya dan Gio nungguin kita,” Rengekku.
“Oke.. oke.. kau menang. Tapi biarkan aku membantumu mandi.”
Seketika aku menjerit ketika tangan Rei terselip di bawah lutut dan punggungku, mengangkatku dengan sangat mudah ke kamar mandi.
Di kamar mand Rei memperlakukanku dengan lembut, bersyukur karna Rey membawaku beserta selimutnya. Hey! Jangan berpikiran macam-macam! Dia benar-benar seorang gentleman sejati. Setelah menggendongku dan mendudukkanku di atas wastafel, ia menyiapkan air hangat di tube sementara aku hanya memperhatikan gerak-geriknya dengan tubuh yang.. naked. Kenapa dia bisa begitu santai dengan keadaannya? Ya ampun..
Setelah suhu sudah dipastikan sesuai, busa juga telah mengembang. Rei membawaku ke tube, membaringkanku secara perlahan seolah aku ini terbuat dari kaca ringkih, setelah melepaskan selimut yang meliliti tubuhku. Tubuhku meremang, aku Kalian jangan harap akan ada adegan sex panas di kamar mandi. Karna kalian akan kecewa. Kami hanya mandi, aku berendam dan dia mengguyur diri di bawah shower. Hanya itu, dan aku bahagia karna dia begitu menghormatiku.
Aku sempat melirik sekilas pada selimut yang teronggok di lantai kamar mandi. Ada bercak darah yang secara simbolis menandakan lepasnya keperawananku. Aku tak menyesal, malah bersyukur. Karna Rei adalah suamiku, orang yang kupercayai dan kucintai..
.
.
.
Tanpa Rei mintapun aku pastinya tak akan pernah melupakan akhir pekan kali ini. Selain karna itu adalah malam suci bagi kami berdua juga karena keindahan tempat ini. Hari pertama Rei tak memperbolehkanku menyentuh air laut, itu karena beralasan tak mau aku merasa lebih ‘perih’ lagi. Aku menurut saja walau dalam hati juga sedikit mendongkol. Bagaimana kamu bisa tahan untuk tak menceburkan diri dan menikmati keragaman biota laut saat itu terletak tepat di bawahmu?
Rei berkali-kali meyakinkanku untuk membawaku kemari lagi asal aku menuruti katanya. Hah.. terserah dia lah, lagian kenapa dia membawaku ke tempat seperti ini jika aku tak diperbolehkan berenang setelah kami melakukannya? Kenapa nggak ke puncak? Paris? Atau kemana gitu kek.. sepertinya aku banyak berharap.
Untung hari Minggunya aku diperbolehkan menikmati air laut. Kalau tidak aku bisa gila, gimana nggak? Sudah lama sekali tidak ke pantai sekalinya datang malah dilarang berenang, yang benar saja. Memang untuk apa menyewa pantai pribadi kalau tidak menggunakannya. Dan ketakutan Rei sepertinya tak terjadi, buktinya aku baik-baik saja berada di laut. And oh my... bagaimana aku menggambarkan semua terumbu yang ada di bawah laut habitat ratusan jenis biota laut. Sangat mengagumkan. Ombak yang berayun secara perlahan dan kejernihan air yang luar biasa. Ini tempat yang sempurna untuk snorkeling.
“Kau tak apa Viona?” Rei bertanya dari dek boat yang membawa kami agak ke tengah laut. Aku menyahutnya dengan dua acungan jempol. Menandakan aku baik-baik saja dan ini sangat menakjubkan.
Rei sepertinya lebih menikmati cuaca cerah dengan berbincang bersama Gio. Entah apa yang sedang merka bahas, aku tak dapat melihat ekspresi mata mereka yang tertutup kaca mata hitam. Mereka membiarkan para istri bersenang-senang mengeksplor lautan.
Ngomong-ngomong aku memakai bikini yang dibawakan oleh Rei. Dia memaksaku kalau perlu dicatat. Memaksaku! Awalnya aku agak risih.. itu seperti kau keluar hanya dengan menggunakan under wear, tapi lama-kelamaan tidak buruk juga, lagian tidak akan ada yang melihat karna aku du bawah air.
“Suamimu pandai memilih tempat.” Puji Naya, ia mengambang tak bergerak menikmati belaian air laut. Perut buncitnya yang timbul tenggelam pada permukaan air membuatku tersenyum geli, seperti balon dalam air.
“Segera keluar dari air sayang! Kulitmu bisa mengeriput.” Gio memberi.
Kami berenang mendekat ke arah boat. Para pria memantu kami naik dan menyambut kami dengan handuk besar. Seprtinya mereka tak ingin masing-masing mencuri pandang. Ya ampun, jadi kenapa Rei memaksaku berpakaian seperti ini jika tak mengijinkan orang lain melihatku. Bukankah kemarin dia sendiri yang bilang hanya ada kita, Gio dan Naya. Dasar plin plan.
“Kita harus segera kembali ke kota. Sebaiknya kalian cepat berbilas.” Rei dengan gagah mengemudikan boat kembali ke dermaga, air laut mengibaskan rambutnya ke belakang secara indah. Pemandangan yang langka, aku sedikit bersyukur Rei tak mencukur rambutnya akhir-akhir ini. Kembali ke cottage kami masing-masing untuk bersiap meninggalkan secuil surga yang terdampar di bumi ini.
Waktu perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat. Padahal sebenarnya sama saja, entah ketidakrelaan meninggalkan tempat seindah, sesejuk, sebiru dan semenakjubkan itu atau hanya kelelahan karna euphoria kami jadi tak merasakan lamanya perjalanan pulang.
Aku bahkan menolak untuk sekedar mampir berbelanja oleh-oleh atau cinderamata di pusat kota. Tapi berhubung Naya merajuk, tak ada yang berani menghalangi bumil yang merengek meminta sesuatu. Aku heran, bagaimana Naya bisa masih mempunyai energi setelah kegiatan kemarin dan seharian tadi berenang? Dan dia sedang hami! Membawa beban di perutnya tentu sudah sangat melelahakan bukan? Tapi sepertinya dia enjoy saja berjalan antara satu toko ke toko yang lainnya.
Kepalaku kusandarkan pada bahu Rei. kami bertiga seperti orang  idiot yang sedang menunggui ibu hamil mencobai beberapa sepatu. Rei asyk sendiri dengan ponselnya, entah dia sedang baca apa aku tak berniat untuk mengintip. Gio menggumam beberapa kali ketika ditanyai oleh Naya mengenai sepatu-sepatu yang tengah di cobanya.
“Kapan sih istri lo selesai belanjanya?” cibir Rei, ia bahkan tak mengalihkan matanya dari layar ponsel. Aku menyeku perutnya atas sindiran itu. kukira ia sudah mengalihkan kebosanannya pada ponsel itu, ternyata masih sama-sama sekarat dalam penantian.
“Kalian kenapa? Kok mukanya kusut gitu, apa kalian tidak senang aku berbelanja..?” Oh Tidak..
“Eh nggak kok Nay? Aku juga mau belanja, tadi kaki kram doang..” aku bangkit dan menghampirinya. Ya ampun.. kenapa itu air mata udah ngintip aja, bikin orang kelabakan.
“Iya sayang, yang tadi itu bagus loh.. kenapa ambil yang ada tali-talinya sekalian?” Gio tergagap dan secara reflek memilah-milah sepatu yang ada di rak.
“Vio kamu ambil yang itu aja, yang ada batunya.” Rei menunuk pada sebuah sandal teplek dengan beberapa tempelan batu.
Waow.. hanya dengan muka melas si ibu hamil kami semua harus menaikkan mood, padahal daya kami sudah hampir mencapai batas pemakaian. Sialnya Naya masih terus merajuk karena merasa diacuhkan tadi, wajahnya tertekuk bahkan hingga kami tiba kembali ke rumah. Dan Gio lah yang paling frustasi menghadapinya.
.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 59"

Post a Comment