Esoknya aku dan Rei
seperti biasa berangkat ke kantor bersama. Meski aku agak kagok jadinya.
Waktu meninggalkan parkiran, kami berpapasan dengan pak salim. Dia
tersenyum hangat dan mendekati kami.. ya Tuhan!! Aku masih kikuk
menghadapi calon mertuaku..
"Pagi Rei, Viona.." sapanya renyah. Aku tak habis pikirm bagaimana orang sebugar dan setegap pak salim punya penyakit dalam dan dalam keadaan kritis..
"Pagi Rei, Viona.." sapanya renyah. Aku tak habis pikirm bagaimana orang sebugar dan setegap pak salim punya penyakit dalam dan dalam keadaan kritis..
"Pagi pa.."
"Pa..pagi om." Sapaku
gagap. Apa Rei sudah memberitahu om salim bahwa aku telah menerima
lamarannya? Tapikan Rei baru melamarku tadi malam, masa secepat itu
kasih tahunya.
"Mama udah pulang kemaren sore. Kamu nanti pulang ya, sekalian ajak Viona."
Deg...gila! sedikit lagi
kejutan pasti aku kena serangan jantung dan mati di tempat. Pak salim
to the point banget sih ngomongnya.
"Iya nanti Rei pulang." Jawab Rei.
Selama di lift aku
membisu tak berani berkata apa-apa. Dihimpit antara pak salim dan Rei
membuat nafasku tercekik. Lantai 9 ayo cepatlah sampai!! Kenapa jalannya
lift serasa seabad sih!!
Ting..
Lantai 9.
"Mari om, Rei.." suaraku
serak karna tenggorokanku amat kering. Uhh... kenapa aku segrogi ini,
padahal seharusnya aku sudah terlatih dengan pengalamanku menghadapi
para klien dan atasan. Sekeluarnya aku dari lift, aku disambut tatapan
aneh dari para pegawai. Kenapa? Tau deh. Mereka saling berbisik sesuatu.
Tapi kenapa meraka nggak menyapaku. Dan senyum kecut yang mereka lempar
padaku. Bah..apa-apaan itu. Aku tak sungkan membalas sapaan seperti
itu.
Melenggang terus ke
ruanganku aku menemukan sesosok pria sedang asyik mengetik di meja Gio.
Baru setelah aku ada di depan mejaku dia berdiri terkejut menyadari
kehadiranku.
"Oh..bu Viona.
Perkenalkan.." tangannya terjulur. Aku menyambutnya agak ragu. "Saya
rama. Sekretaris sementara ibu Viona selama pak Gio cuti."
Oh..sekretaris baru. "Selamat bekerja rama. Walau hanya sementara kuharap kau bekerja dengan sebaik mungkin."
"Pasti bu."
Aku tersenyum
menanggapinya lalu masuk ke ruang kerjaku. Di meja ternyata sudah ada
resume milik rama. Ubayyu rama aji. Aku membacanya secara sekilas.
Yah..cuman sebulan, kuharap bisa membantu.
Tok tok..
"Masuk"
Rama
Rama
"Teh bu?"
"Ya. Boleh." Dia membawakanku secangkir teh hangat. Meletakkannya dengan hati-hati di mejaku.
"Saya sudah mengatur
pertemuan untuk siang ini membahas proposal yang diajukan hotel jullian
dengan para manager dan koordinator manager. Ibu bisa menyiapkan
proposal itu."
Wawww.. dia memang
tanggap, padahal aku belum memberinya tugas apa-apa. Akupun baru akan
mengurus tentang proposal itu untuk dirundingkan. Komputer di kantorku
saling terhubung dan khusus komputer sekretarisku bisa mengakses
sebagian besar file-file yang ada di komputerku. Mungkin dia sudah
memeriksa semuanya, dan mendapati tugas baru yang belum dikerjakan itu.
"Ok. Terima kasih rama. Kau bisa cetak filenya dan copykan jadi 15." Perintahku.
"Yes mam" dia undur diri.
.
.
.
.
.
As my prediction.
Proposalnya 100% disetujui. Well meski masih harus melalui prosedur
peninjauan juga. Tapi itu cuman basa basi. Proposal itu sudah secara
mutlak diloloskan. Huh... aku jadi harus berhubungan terus dengan Alex
curtiz itu! Kuharap dia tak turun langsung dalam proyek ini.
"Ibu kenapa nggak senang
dengan proyek ini? Bukankah ini lumayan bagus?" rama rupanya langsung
mengerti bahasa wajahku. Atau memang wajahku ini sudah menggambarkan isi
hatiku dengan jelas terpampang bahwa aku nggak suka sama proposal itu
ya.
"Tidak." Bohong. "aku hanya sedang ada masalah saja." Sedikit benar :v
"Ohh.." rama enggan bertanya labih lanjut. Dia tahu diri juga rupanya.
"Kalau begitu aku akan segera menghubungi hotel jullian dan mengkonfirmasi peninjauan kita."
"Jangan!" cegahku.
"Lho kenapa bu?"
"Ehh.." kenapa aku
melarangnya ya. Bodoh. "itu. Kita akan lakukan besok, tapi jangan beri
tahu mereka. Aku ingin tahu kualitas asli hotel tersebut." Ide cemerlang
langsung terbersit untuk menjatuhkan Alex.
"Hmm.. kunjungan
mendadak ya bu.. bagus juga itu." Rama mendukung usulanku. Hah.. padahal
aku cuman mau mencari kekurangan hotel itu.
Rrr...rrr...
Aku memeriksa ponselku yang bergetar. Panggilan dari Rei.
"Hallo?"
"kau malam ini ada waktu tidak?"
"Nanti sepulang kantor
aku akan menemui ayahku dulu, aku tak pasti akan pulang jam berapa." Aku
mengontrol nada dan tata bahasaku agar rama tak curiga dengan apa yang
kubicarakan.
"Kalau begitu aku ikut
saja menemui ayahmu. Nanti habis itu sekalian ke rumah papa menemui
mamaku. Dia pasti terkejut aku membawamu ke rumah."
"Menemui mamamu?" ups.. aku keceplosan. Rama please, kuharap kau bukan ahli gosip seperti si Yuni.
"Iya.. mama habis pulang dari turki. Nanti kita mampir sebentar saja jika kau masih lelah."
"Baik."
"Sampai jumpa sore nanti Vio. Bye.."
"Sampai jumpa sore nanti Vio. Bye.."
"Bye.." sudah berakhir. "huft.."
"Pacar ibu ya? Kok mukanya tegang gitu sih." Tegur rama
"Iya..eh bukan.. eh iya ding." Aduh aku ngomong apa sih. Bingung apa hubungan ini harus dibeberkan atau tidak.
"Hahaha..kok jawabnya kayak gitu bu."
"Eh..ngomong-ngomong
jangan panggil saya ibu dong, kesannya jadi tua banget," padahal aku
jauh lebih muda, 3 tahun lebih muda cuy... dan gwe dipanggil ibu,
kesannya kayak emak2.
"Ok. Vi o na." Rama mengeja namaku dengan pelan.
"Bagus. Aku kurang suka di panggil bu. Lagi pula kau lebih tua dariku."
"Tapi itu juga panggilan
kehormatan kan. Masih muda sudah jadi manager yang handal. Kalau tak
ada yang diperlukan saya permisi dulu. Akan saya saya siapkan jadwal
untuk besok."
.
.
.
.
.
"Aku akan menikah." Ayah sangat terkejut, sampai-sampai sendok tehnya terlepas dari genggaman tangannya.
"De..dengan siapa?" tanyanya gugup.
"Tak penting dengan siapa aku menikah. Tapi ayah harus datang. Sekitar sebulan lagi, akan kuberitahu tanggal tepatnya."
"Tak penting dengan siapa aku menikah. Tapi ayah harus datang. Sekitar sebulan lagi, akan kuberitahu tanggal tepatnya."
"Tapi apa dia
benar-benar pria yang baik untukmu?" aku memandang jengah ke luar
jendela, dimana lalu lintas tampak padat merayap.
"Memang harus sebaik
apa? Kau tak pantas menilai pria seperti apa yang harus kunikahi." Yah.
Mengapa ayah harus menilai pria yang akan kunikahi sedangkan dia bahkan
tak mendengarkan pendapatku saat menikah lagi. Meski ini hanya
pura-pura, aku tak sudi ayah menilai pasanganku. "Maaf aku harus segera
pergi, aku akan menemui calon mertuaku." Aku segera meminta bon dan
membayarnya. Ayah masih duduk termenung sambil terus mengaduk teh
sepeninggalanku dari sebuah caffe tempat kami berjanji temu tadi. Rei
sebenernya ngotot ingin ikut, tapi aku berhasil menghalangi niatnya. Aku
tak ingin dia menghadiri pertemuan yang kaku dan penuh dengan konflik
ini. Sebagai gantinya dia akan menjemputku dan mengantarku ke calon
mertuaku..
TBC
0 Response to "Hopeless Part 14"
Post a Comment