Memang benar Alex mengajakku tempat tertutup, tapi...
“Kau mau mengadopsi
hewan ya?” aku bertanya sambil memperhatikan sekelilingku. Ada puluhan
bahkan ratusan kandang berisi berbagai jenis hewan. Sebagian besar
kucing dan anjing.
“Nggak. Kita akan
berburu. Cepat ganti bajumu.” Alex melemparkan sebuah bungkusan plastik
bening yang menampakkan isinya. Seperti baju seragam, berwarna hijau
tua. “cepat! Atau kau mau aku menggantikannya?”
Tak menunggu Alex
menyuruhku lagi, aku langsung masuk ke ruang ganti. Tadi sewaktu kemari
aku tak begitu kentara melihat papan nama tempat ini, yang kutangkap
hanya hewannya saja. Lalu kalau tak salah Alex tadi menyebutkan kata
berburu. Apa semua hewan yang ada di sini adalah hasil buruan? Tapi
kenapa berburu anjing dan kucing? Apa mereka menjualnya secara ilegal.
Ah.. aku curiga tempat ini sama sekali tak legal. Apa sih yang mereka
lakukan.
Alex langsung memakaikanku sebuah topi saat aku keluar dari kamar ganti.
“Ok, semua sudah siap. Kita berangkat sekarang.”
Ada dua orang yang mengikuti kami, berpakaian sama. Alex juga memakai seragam yang sama denganku.
“Wah kau nemu peri dimana lex? Kok mau diajak kerja beginian?” salah seorang di belakang menyinggung kehadiranku.
“Haha.. dia bukan peri, dia tawananku hari ini.”
Ya.. aku memang
tawanannya. Dan apa maksudnya dengan kerja beginian. Apa yang mereka
kerjakan dengan hewan-hewan ini? Tapi kenapa malah berjalan ke arah
tempat parkir.
“Kita akan kemana?”
“Sudah kubilang kita
akan berburu, masuklah..” Alex menyuruhku masuk ke salah satu mobil box
yang ada di parkiran. Entah ada berapa jumlah mobil seperti itu di
parkiran tempat ini. Yang paling mencolok tentu mobil si Alex ini.
Aku menurut saja. Ketika
sudah di dalamnya aku menengok ke belakanng dan mendapati beberapa
kandang kosong. Apa kami akan benar-benar berburu? Berburu dengan apa?
Lalu kenapa anjing dan kucing?
“Kau enggak alergi sama kucing dan anjing kan?”
“Apa? Eh..enggak, dulu
aku punya kucing kok.” Aku tak sadar Alex bertanya padaku. Aku terlalu
asyik dengan pikiranku yang macam-macam. Setelah mobil meninggalkan
parkiran dan keluar gerbang aku baru benar-benar memperhatikan plakat
tempat ini. Ini adalah penampungan hewan terlantar.
Ya ampun. Jadi yang
dimaksudkan Alex berburu adalah mencari hewan-hewan terlantar. Tapi
kenapa? Kenapa dia harus perduli pada hal-hal seperti ini. Kukira
hidupnya sama saja dengan kalangan orang-orang super jetset.
“Mbak ini pacarnya mas
Alex ya? Jarang lo mas Alex kesini ngajak temen, sekalinya kesini bawa
orang langsung sama cewek cantik.” Si pengemudi mobil box melempar
pertanyaan tak mengeanakkan padaku.
“Iya.. dia pacar saya,
cantik kan pak. Untung saya udah dapet duluan sebelum dinikahin orang.”
Apa? Sejak kapan aku jadi pacarnya? Ihh..sok mengaku-aku, dan apa
maksudnya aku belum nikah. Helloo..?? bukannya lo tadi yang nyelametin
gwe sama Rei atas pernikahan kami? Aku memandangnya protes. Seenak
udelnya banget sih ni orang ngomongnya.
“Cantik banget, kayak peri..” timpal seorang di samping jok kemudi.
Kayak peri? Haha.. apa aku secantik itu?
“Liat deh.. baru dipuji
dikit saja dia sudah merona!” semua orang yang ada di mobil tergelak,
kecuali aku tentunya yang mungkin tambah memerah wajahku gara-gara malu.
“Ehh.. itu ada satu dekat bak sampah.”
Mobil ditepikan dan diparkir di bahu jalan.
“Pakai sarung tangan..” Alex melemparkan sepasang sarung tangan untukku.
Kami mulai bekerja.
Menangkap kucing jalanan yang terlantar. Kami berkeliling ke gang-gang
mencari jika ada kucing dan anjing yang terlihat tak ada pemiliknya.
Kebanyakan yang kami bawa terlihat kurus dan kumal. Setelah semua
kandang berisi dan matahari sudah mulai menguning, kami kembali ke
tempat penampungan.
“Alex udah lama ya ikut serta kegiatan kayak gini?” aku bertanya pada salah seorang yang ikut menangkap hewan tadi.
“Lho..mbak Viona nggak
tahu ya? Tempat ini yang bangun ya mas Alex. Dia suka kesini kalau lagi
ada waktu luang atau habis ngurusin bisnisnya yang disini..” jelasnya.
Nggak salah tuh. Jadi dia masih punya kepedulian sosial di hatinya selain kemesumannya itu.
“Vi, ayo pergi..” panjang umur tu orang, baru diomongin langsung muncul.
.
.
.
.
.
.
“Ini..” Alex memberiku
sebotol minuman dingin. Kami berhenti di sebuah pantai kosong. Entah
bagaimana dia bisa tahu tempat ini. Aku duduk selonjoran di pasir, di
bawah pohon kelapa.
“Thank’s.”
Alex duduk di sampingku, dan menekuk kakinya.
“Kalau kakimu capek jangan posisikan seperti, nanti kena varises.” Saranku.
“Eh.. kau bicara padaku?” Alex sepertinya mengabaikanku.
“Terserahlah..” aku mau beranjak tapi dia malah menahanku.
“Tetap disini, aku
lelah..” Alex menyandarkan kepalanya di pangkuanku. “Diamlah selama
beberapa saat, aku sedang tak ingin mendengar omelanmu saat ini.”
Lagi-lagi dia bertingkah
seenaknya. Baiklah.. aku juga capek. Aku akan menikmati pemandangan
pantai ini, menghayati suaran deburan ombak yang menghempas
karang-karang yang berdiri kokoh. Dan yang paling aku nikmati adalah
sepinya pantai ini dan matahari yang sedang dalam proses kembali ke
garis cakrawala. Pemandangan yang sangat langka tentunya.
“Alex.. ayo kita pergi, sudah hampir malam.”
“Jangan pergi..” Alex menggumam
“Alex, kita akan kemalaman!” aku berusaha kembali membangunkannya.
“Ergh...” Alex menggeliat. “Jam berapa ini?”
“Nggak tahu, ponselku ada di mobil. Sebaiknya antar aku pulang sekarang atau Rei akan marah.”
“Ngapain sih ngurusin dia.”
“Emang dia suami palsu. Tapi kan seenggaknya harus ngormatin dia dong. Ayo.. kita cepat pulang.”
“Kenapa kau tak pernah menghormatiku?” tanya Alex tiba-tiba.
“Apa kau pernah menghormatiku?” kubalikkan pertanyaannya.
Alex berubah murung.
“Ayo kita pulang..”. akhirnya dia mau kembali juga. Alex beranjak dari
pangkuanku. Aku juga bangkit berdiri. Untuk terakhir kalinya aku
memandangi sunset terindah dalam hidupku. Aku rasa aku harus berterima
kasih pada Alex karena telah mengajakku kemari.
“Karna kita sudah di
pantai, nggak asyik dong kalau nggak kita nggak nyobain ombaknya..”
sebuah bisikan tepat di telingaku disertai lengan yang tiba-tiba saja
sudah melingkar di pinggangku.
“Alex! Lepasin!” Alex membopongku seperti seonggok karung beras. “Alex jangan bercanda! Aku tak bisa berenang di lautan!”
Air kolam itu beda dengan air laut. Maksudku bukan karna tawar dan asinnya, tapi ketenangannya. Aku tak pandai melawan ombak.
“Kau tak bisa berenang? Aku akan dengan senang hati mengajarimu!”
Dan dengan segera aku diceburkan ke laut.
“Argh...pih..pih..” kumuntahkan air asin yang masuk ke mulutku.
“Kau bilang nggak bisa berenang kan. Pegang tanganku.”
Terpaksa. Kubilang ya..
TERPAKSA.. aku menerima uluran tangan Alex. Aku masih pengen idup kali
dari pada tenggelam di lautan keserat ombak.
“Akan lebih baik lagi, kalau begini..” Alex menarikku ke dalam dekapannya. “kau tak akan pernah tenggelam bersamaku Viona..”
Aku kesal karna ombak berpihak padanya, tubuhku terdorong merapat karna ombak semakin pasang.
“Dengarkan aku Viona..
aku tak akan mengulanginya, jadi dengarkan baik-baik.” Alex menghela
napas panjang. Apa sih yang mau dikatakan.
“..aku mencintaimu..”
“..aku mencintaimu..”
“Apa?” tanpa sadar aku
bertanya. Padahal aku bisa mendengarnya dengan jelas, dan mengerti
maksudnya. Tapi alasannya itu apa -_- .
“Sudah ku bilang kan.. dengarkan aku baik-baik.” Alex memutar bola matanya. “kau itu.. memang selalu tak mengerti kata-kataku..”
Dan begitulah.. Alex
menjelaskannya lagi melalui tindakannya. Kali ini sebenarnya bukan
paksaan, karna dia sama sekali tak kasar, sama sekali..
Justru aku.. aku.. ada
sesuatu yang bangkit dalam tubuhku. Jiwa jalangku.. entah apa ini karna
dinginnya air laut yang menyebabkan aku membutuhkan kehangatan..
Aku meresponnya.. dengan begitu gila. Aku bahkan kesal karna Alex tak membalasku.
Kenapa? Kenapa dia hanya diam saja?
Kenapa? Kenapa dia hanya diam saja?
Aku berhenti karna kecewa.. namun, tepat sebelum aku melepasnya. Alex memberikan apa yang aku inginkan saat ini.
Dia melakukannya dengan
pelan sekali, hingga aku tak sabar dengan darahku yang sudah
menggelegak. Dan sepertinya Alex sangat tahu dengan gairahku. Dia
memperdalam ciumannya. Memuaskan hasratku yang tiba-tiba terbakar.
Entah berapa lama kami
berciuman, saling memagut. Karna ketika kami selesai dengan napas
memburu dan detak jantung sudah kalang kabut, sinar jingga sudah tak
nampak lagi.
“Jadi kau juga mengakuinya kan Viona?”
Pertanyaan itu langsung membuatku menegang. Aku melepaskan pelukannya dan berusaha menepi ke pantai.
Apa aku sudah gila? Tadi itu...
.
.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan
kembali ke hotel Viona hanya diam. Diam dalam pikiran yang berkecamuk.
Dia masih tak habis pikir dengan tindakannya tadi. Dan sekarang dia ada
dalam mobil pria ini, dalam balutan jasnya karna bajunya basah dan dia
butuh kehangatan.
Tapi jas itu saja
sepertinya tidak cukup untuk mengusir dinginnya air laut yang membasahi
pakaiannya dan angin yang langsung menerpa ke wajah dan tubuhnya membuat
menggigil. Tapi Viona berusaha keras menahannya.
Alex menangkap hal itu,
tahu bahwa gigi Viona gemertak karna kedinginan. Dengan gesit dia
menekan sebuah tombol dan secara otomatis atap mobilnya tertutup. Viona
memandang Alex lalu kembali mengarahkan matanya ke luar kaca mobil. Ia
kesal, marah.. dan malu pada dirinya sendiri.
Saat sampai di hotelpun Viona tak mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya membungkuk dan berbalik begitu saja.
Viona tak tahu, ada
wajah yang mengeras memandangi kehadirannya. Bukan, bukan karena
kembalinya Viona, melainkan pria bermobil yang mengantarnya. Matanya
nyalang seakan ingin menghabisinya.Saat sampai di hotelpun Viona tak mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya membungkuk dan berbalik begitu saja.
.
TBC
.
.
0 Response to "Hopeless Part 25"
Post a Comment