Air hangat sangat menolongku. Setelah sampai di kamar aku langsung menanggalkan semua pakaianku lalu berendam air hangat. Melepaskan semua ketegangan di badanku. Harum aroma minyak mawar sedikit menenangkan kepalaku yang terus berdenyut.
Tapi bayangan itu muncul lagi. Seperti memory yang diputar dari cakram keras. Shit..
Aku tak bisa berdiam diri dan memikirkan ini terus.
Aku membasuh diri dan memakai handuk.
Aku harus segera tidur!
Aku keluar kamar mandi, dan.. oh ya ampun!
Aku membasuh diri dan memakai handuk.
Aku harus segera tidur!
Aku keluar kamar mandi, dan.. oh ya ampun!
“Maaf..” dengan cepat ku
kembali ke kamar mandi. Ternyata Rei sudah kembali kemar. Tapi
ngomong-ngomong tadi dia pegang apaan ya?? Aku berusaha mengingatnya..
“Pakaianku.. argh..!!”
kenapa aku tadi lupa manaruhnya di sana.. dan oh.. pakaian dalamku juga
pasti tergeletak di sana. Ih! Kenapa aku selalu lupa kalau sekarang aku
berbagi kamar dengan seorang pria!
“Aku akan keluar, kau bisa ganti di sini.” Ujar Rei.
“Hah..” aku menghela
nafas lega. Untung Rei orangnya pengertian. Segera kuambil piyama
tidurku dan memakainya. Sebelum tidur, kusempatkan memeriksa ponselku
dan mendapati pesan yang hampir membuatku membanting ponselku sendiri.
Dari Alex, dan pesannya
Have a nice dream good kisser..
Have a nice dream good kisser..
Oh.. haruskah aku
memblokir nomornya dari ponselku! Ah.. persetan, aku mau tidur dan
melupakan semua kejadian hari ini. Aku harus, dan HARUS bisa
menghapuskan memori hari ini bagaimanapun caranya. Jangan lengah Viona,
jangan lengah pada seorang pria manapun..
.
.
.
Lagi-lagi Viona terbangun lebih dulu dari Rei, atau setidaknya itu yang diketahuinya. Tapi bukan dia lagi yang memeluk Rei. melainkan lengan Reilah yang melingkar di pinggang Viona dengan posesif saat ini. Ini mengingatkannya saat hari pernikahan Gio. Saat Viona sakit dan pulang, tiba-tiba saja Rei sudah ada di ranjangnya dan memeluknya seperti saat ini. Seperti ingin melindunginya dari sesuatu..
.
.
.
Lagi-lagi Viona terbangun lebih dulu dari Rei, atau setidaknya itu yang diketahuinya. Tapi bukan dia lagi yang memeluk Rei. melainkan lengan Reilah yang melingkar di pinggang Viona dengan posesif saat ini. Ini mengingatkannya saat hari pernikahan Gio. Saat Viona sakit dan pulang, tiba-tiba saja Rei sudah ada di ranjangnya dan memeluknya seperti saat ini. Seperti ingin melindunginya dari sesuatu..
Pelan-pelan Viona
melerai tangan Rei yang mengait di pinggangnya. Tapi dasar, Rei malah
terusik namun tak bangun dan mempererat pelukannya. Yang membuat Viona
semakin panik adalah karna hembusan nafas Rei yang menembus rambutnya
dan menyentuh tengkuknya.
“Rei..” Viona mencoba lagi.
“Ergh..” kali ini
sepertinya berhasil, berhasil membuat Rei terbangun. “Oh.. maaf.”
Lagi-lagi kata maaflah yang diucapkan Rei pada Viona, sama seperti tadi
malam.
“Aku ingin ke kamar
mandi..” perkataan Viona membuat Rei sadar kalau tangannya masih
melingkar memeluk Viona. Dengan segera Rei melepasnya.
“Vio.. kita harus kembali siang ini. Aku harus segera mengurusi sesuatu..”
“Baiklah.”
“Kau tidak masalah kan?”
Viona berbalik menghadap
Rei, urung masuk ke kamar mandi. “Ya enggak lah Rei.. kau juga memang
harus segera bekerja. Dan aku juga harus mempersiapkan presentasiku. Kau
tau, proyeku sudah diterima dan tinggal menunggu persetujuan akhir.”
Justru Viona tampak bersemangat diajak pulang.
Mungkin jika tak ada si
brengsek itu kita akan lebih lama disini. Sialnya, dia muncul di waktu
yang tidak tepat. Dan aku harus menjauhkannya sebelum terlambat..
.
.
.
.
.
.
Tepat jam dua kami tiba
di rumah, kini rumah Rei resmi jadi rumahku juga. Selama dua tahun ini.
Dan aku tak lagi menempati kamar tamu, melainkan jadi satu dengan kamar
Rei. kami harus seranjang, itu putus Rei. karna salah satu dari kami tak
mungkin tidur di sofa selama dua tahun, bisa remuk kalo harus tidur di
sofa terus. Aku setuju sih, asal kami bisa menjaga sikap.
“Kau bisa libur dulu kalau masih capek.”
“Tidak, aku akan masuk
besok senin. Lagian besok masih hari minggu. Aku bisa beristirahat
sehari lagi.” Yeah.. aku sangat merindukan suasana kantor dan.. para
pegawaiku. Entah kenapa aku merindukan mereka.
“Baiklah kalau itu maumu. Suruh bibi ama membereskan barang kita. Aku harus pergi ke kantor sekarang.”
Secepat itu? Ya ampun.. apa seorang direktur itu sesibuk itu.
“Ya.” Lalu dia bersiap dan pergi.
Bibi ama sedang menyiapkan sesuatu di dapur, aku memanggilnya untuk membereskan barang-barang di koperku dan Rei.
“Bibi, bisa bantu sebentar?”
“Nona Viona? Anda sudah kembali..”
“Ya.. lebih awal dari
rencana, ada sesuatu yang harus Rei kerjakan. bibi, bukankah kita sudah
janji untuk tidak memakai panggilan itu?” aku mengingatkannya.
“Tapi sekarang kan..”
“Ya, lalu apa bedanya?
Aku tetap tak suka panggilan seperti itu.” Aku tahu maksudnya bibi ama
bahwa kini aku istrinya Rei, bukan orang yang numpang lagi.
“Ah.. ya, baiklah. Apa yang bisa bibi bantu?”
“Tolong bereskan barang yang ada di kamar. Dan biar saya saja yang menyiapkan makan nanti.”
“Ya. Kalau begitu saya akan ke atas.”
Hmm.. aku juga rindu
dapur ini, sejak pertunanganku tak pernah sekalipun aku menyentuh dapur
ini. Ah.. apa yang harus kumasak untuk makan malam. Sesuatu yang hangat
sepertinya enak, daging domba atau daging sapi. Emm.. aku harus
memeriksa isi lemari pendingin dulu.
Agak shok, hampir kosong
mlompong ni frezer :3 . Mungkin karna bibi ama mengira kami akan
kembali seminggu lagi. Oh.. aku harus belanja dulu.
Kalau harus keluar.. hm.. semoga mobilku baik-baik saja. Aku takut si kuning ngambek dan mogok lagi.
“Neng Vio mau kemana?
Biar mang Jajang anterin.” Aku berpapasan dengan mang Jajang yang sedang
nyiramin tanaman di halaman depan saat akan menuju garasi.
“Nggak usah mang, saya cuman mau ke supermarket deket sini.” Aku menolaknya, aku lebih suka pergi sendiri.
“Oh.. ya udah neng, ati-ati.”
“Ya, mang.”
Mang Jajang membantuku
membukakan pintu garasi. Untunglah vwku nggak kenapa-napa. Rei sempat
bilang mau mengganti mobilku tapi aku menolaknya mentah-mentah. Aku
lumayan sayang sama vw ini, soalnya ini mobil pertama yang kubeli dengan
hasil kerja kerasku, yah.. meski kadang-kadang suka nyebelin karna suka
mogok-mogok sendiri.
Supermarketnya deket
banget. Cuma beberapa puluh meter dari gerbang masuk perumahan.
Sebenernya jalan kaki juga bisa, cuman nanti ngebawa barangnya mau
gimana? Bisa tekle tangan saya kalau bawa belanjaan berkilo-kilo.
Banyak banget deh duit
yang aku habisin buat belanja kali ini. Soalnya bukan duit gwe sendiri.
Rei memaksa untuk memberikan ‘jatah bulanan’ untukku. Kayak gaji aja.
Katanya terserah mau digunakan untuk apa dan NGGAK BOLEH NOLAK. Pas aku
liat di rekening, aku sempet mau jantungan. Gilak tu orang. Itu dua kali
gaji gwe kelless.. jadi untuk menebusnya aku belanjakan saja untuk
keperluan semua orang. Emang keluarga husain itu kekayaannya berapa
nolnya ya, ngebayangin aja jadi ngiler, ngeri juga sih. Kebanyakan orang
kaya katanya stress mikirin duitnya dimana-mana, mikir jaganya gimana,
takut kalo ngilang, diambil orang, bangkrut, rugi besar dan
bla..bla..bla.. tapi nggak semuanya gitu juga kali. Kulihat Rei
baik-baik saja, pak salim juga selalu tampak ceria. Yah meski nggak
memungkiri kalau dia sakit.
“Vi..??” suara khas anak kecil yang sangat familiar memanggilku dari belakang.
“Naya..” dan Gio -_- .
kenapa mereka ada di dekat rumahku? Eh rumah Rei. eh sama saja ding.
Rumah Gio ataupun Naya kan lumayan jauh dari sini. Dari yang kulihat isi
troli mereka yang sudah tampak sesak, kenapa mereka belanja di tempat
ini. Dan ergh.. namanya juga penganten baru yak, pake gandeng-gandengan
rangkul-rangkulan mulu ni.
“Lo kok ada di sini sih? Bukannya lagi honeymoon di bali?” Gio langsung curiga.
“Udah pulang. Soalnya Rei ada urusan.”
“Oh..” Naya dan Gio koor bareng. Kompak banget sih mereka >_< .
“Eh, kalian mau makan
malem bareng kami nggak? Aku lagi belanja bahan-bahannya, kalian boleh
kok reques sesuatu. Asal jangan yang aneh-aneh.” Mungkin makan malam
dengan mereka akan seru kali ya. Aku kangen berat sama mereka.
“Bener boleh nih? Ah.. terserah kamu ajalah Vi. Yang pasti yang enak aja.”
“Elo juga tahu kan gi kalo gwe yang masak pasti enak deh. Asli, dijamin.”
“Ya udah, entar malem jam berapa Vi. Biar nanti aku dan Gio siap-siap.”
“Jam delapanan.”
“Ya udah, kita ke kasir dulu. Udah mau tumpe-tumpe ni troli.” Gio niruin tag line iklan yang dibintangin si jupe.
Kulanjutkan lagi acara
berburuku. Berburu bahan makanan untuk seminggu ini. Dan mungkin juga
persedian bulan ini. Makanan kaleng, buah-buahan dan yang lainnya.
Pokoknya aku menggila. Hmm.. wanita kok dikasih uang banyak, ya pasti
abis dibuat shoping lah..
.
.
TBC
.
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 26"
Post a Comment