Hopeless Part 44

"Ini kan bukan jalan ke rumah." Aku melirik pada Rei yang duduk di balik kemudi escalade nya.
"Memang bukan. Aku ingin mampir dulu." Rei tersenyum misterius.
"Kemana?"
"Kejutan." Rei masih mempertahankan seyum misteriusnya. Kemana sih?
Ia terus mengemudikan mobilnya menuju.. entah kemana. Setelah beberapa beberapa saat ia memperlambat kecepatan mobilnya dan mengarahkan kemudinya ke subuah pelataran gedung yang sangat luas. Saat aku mengintip apa yang ada di dalam gedung itu ingin rasanya aku memukul kepala Rei. Hei aku tak serius soal limusin itu!
Apa dia mau membelikanku limusin? Em, tapi kemungkinan dia mau beli mobil baru untuk dirinya sendiri sih. Ia kan baru kehilangan range rovernya, yah walau rusak tak bisa dianggap kehilangan. "Kau mau beli mobil baru?"
"Ya. Untukmu."
"Hei kau bercanda kan?"
"Tak pernah seserius ini." Rei mematikan mesin mobilnya dan keluar. Ia berjalan menyebrang mobil dan membukakan pintu untukku. "Ayo."
Kami masuk ke dalam gedung yang dipenuh dengan jajaran mobil-mobil mewah. Aku bahkan tak sanggup menatap mereka semua. Terlalu berkilau. Mewah maksudku. "Rei.. aku bercanda soal limusin waktu itu." Ucapku jujur. Apa dia nggak tau bedanya saat bercanda dan serius, lagian siapa yang menginginkan sebuah limusin untuk dimiliki? Mending nyewa.
Rei tak menghiraukanku dan terus berjalan melenggang menuju seseorang yang sedang serius memandangi ipadnya. "Malam Jack." Sapanya ketika mencapai jarak beberapa kaki dengan pria tinggi dengan ipadnya itu.
Jack. Pria yang di sapa Rei tampak terkejut menyadari keberadaan kami. "Malam Mr. Husain." Ia tersenyum ramah dan menjabat tangan Rei. "Mrs. Husain?" tanyanya saat menyalamiku. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Pesananku?"
Jack merabai sakunya sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah kunci dan menyerahkannya kepada Rei. Rei balas melemparkan kunci itu padaku yang dengan reflek berhasil kutangkap. Aku memperhatikan kunci itu, ada logo dengan sepasang sayap dan huruf B kapital di tengahnya. Perutku langsung tegang melihatnya.
"Ke arah sini." Jack mengantar kami ke 'pesanan' Rei. Perutku semakin melilit penuh antisipasi. Aku sedikit tau logo merk apa yang tertoreh di kunci yang sedang kupegang. Ini puluhan kali aku ingin memukul kepala Rei yang keras dan bebal. Tidak terlalu bebal sih.
Benar saja. Tanganku sangat gatal untuk memukul kepala Rei kala kulihat mobil yang ada di hadapan kami.
"Belum ada platnya, tapi kau bisa membawanya pulang malam ini." Ujar Rei. "Atau kau mau yang lain? Aku tak terlalu pandai memilih, kukira ini cocok untumu. Tak terlalu manly." Ia menekankan pada kata terakhirnya.
Aku menatapnya tajam. Ingin sekali aku berteriak dan memakinya. Yah.. sedikit makian kurasa bagus untuk kekeras kepalaannya.
.
.
.
Sebuah bentley..
Sport convertible dengan kulit yang putih mulus cemerlang dan empat mata yang cantik. Aku bisa membayangkan mobil ini berpacu dengan kecepatan tinggi tapi masih tetap anggun. Sangat berotot tapi halus. Exteriornya saja sudah membuatku hampir meneteskan air liur., dalam arti tak sebenarnya. Semua fitur terbuat dari serat karbon high gloss, rodanya elegan. Interiornya pasti membuat mataku lepas.
Jack mulai menjelaskan seluk beluk mobil ini. "Tenaganya dibekali dengan 616 kekuatan kuda dengan torsinya yang mencapai 796, 5 Nm, dengan itu akselerasinya 599 GTB, transmisi otomatis 8 kecepatan...." suara Jack sudah tak terdengar lagi kala aku mengagumi bagian dalam mobil ini. Fitur teknologinya tak perlu diragukan sudah terpampang apik di dashboard yang sporty dan mewah, LCD layar sentuh sekitar 8 inchi, bisa dihubungkan dengan iPod, CD changer, card reader memori atau flashdisk, crafted veneer case di tengah konsolnya, reversing camera, perangkat audionya entah aku belum mendengar outputnya, tapi rasanya bisa kupastikan yang keluar pasti selembut bludru atau menghentak sekuat gemuruh ombak. Jok kulit bermotif Cobra, uh.. gila!
Aku bersyukur Rei memilih mobil yang ini, convertible tapi punya 4 jok kursi. Bukan jenis mobil yang hanya bisa ditumpangi dua orang saja. Singkat cerita Rei pulang sendiri dengan escalade nya. Dan aku? Ya, dengan coninental putih ini. Kami beriringan dengan sangat kontras seperti ying dan yang. Hitam dan putih. Aku tau aku tak bisa menolak ini, selain karna Rei yang keras kepala, aku juga tak munafik jatuh hati pada mobil ini. Meski aku tak yakin setelah tau harganya. Rei memang tak memberitahuku harganya, dan aku juga tak mau mencari tahu meski aku bisa hanya dengan sekali sentuh. Tapi lebih baik aku mengurungkannya, tak mau shock mengetahui rentetan nol yang berjajar.
Jalanan sangat lengang. Anda aku tak dibelakang Rei mungkin aku sudah memacu mubil ini gila-gilaan. Tapi Rei telah mewanti-wantiku untuk tak mengemudi dengan kecepatan melebihi 100 km/jam. Sempat ingin berdebat namun kuurungkan. Lagian buat apa coba mobil sport kalau dipake cuman buat mejeng doang tanpa dipacu dengan tinggi.
Ingin rasanya aku menyalip Rei dan mengemudi gila-gilaan. Sayang cuman angan-angan saja, bisa-bisa dia memenggalku setelah itu. Bentley ini sangat nyaman dikendarai, sangat ringan dan.. bagaimana ya aku mengatakannya? Beda sekali dengan VW kuningku itu,eh.. ngomong-ngomong gimana kabar VW itu, aku harus segera mencari tahu, bagaimanapun juga itu mobilku. Yang harus dihadapi hanya Alex. Yeah just Alex and his big ass.
.
.
.
Viona :
Ada waktu siang ini?
Alex :
Apapun untukmu tuan putri..
Viona :
Kampung Kafe, jam makan siang.
Alex :
Yes, sweety
Kukira aku datang lebih dulu, ternyata Alex yang lebih awal. Ia duduk di sudut dekat jendela yang menampilkan pemandangan luar kafe dan melambaikan tangannya padaku. Aku segera menghampirinya. Kulihat sudah ada secangkir kopi yang tinggal setengah di hadapannya. Akupun memanggil waiter dan memesan minuman.
"Sudah lama?" tanyaku basa basi.
"Selamanya pun aku akan menunggumu." Aku memutar mata jengah mendengar jawabannya.
"Alex, dimana mobilku?" aku tak mau basa basi lagi.
"Kukira kau sudah lupa pada mobil itu. Dan bersenang-senang dengan tunggangan barumu." Dagunya menunjuk kearah luar, ke bentley putih yang terparkir di halaman depan kafe.
"Itu mobilku Alex. Kenapa aku harus lupa pada mobilku. Soal mobil di luar itu memang mobilnya Rei. Kau sendiri yang bilang bahwa aku istrinya, jadi berhak dong memakai salah saty mobilnya."
"Seingatku Raihan tak punya bentley." Alex menyesap kopinya. "Itu bukan seleranya." Bagaimana dia bisa hapal mobilnya Rei, dan sepertinya ia tau betul selera Rei. "Dia membelikan itu untukmu kan?"
"Tidak." Memang untukku, tapi bukan hak milik jika itu yang dimaksud Alex. Itu terlalu mahal untuk diberikan pada seseorang, aku kekasihnya tapi bukan berarti dia mau kasih aku barang kayak gitu kan? "Bisakah kau memberiku alamat bengkelnya? Aku harus segera pergi."
"Kenapa buru-buru, kau baru datang. Mau pesan apa?" Alex megamati daftar menu di tangannya.
"Alex, please?"
"Temani aku Viona." itu sebuah perintah, bukan permintaana karna ada ketegasan yang sangat kental dalam nada bicaranya.
"Kau tak bisa mengancamku." Awalnya aku hanya ingin mengambil VW ku, tapi rasanya ingin kuselesaikan semua masalahku dengan Alex.
Alex meletakkan kembali daftar menunya ke meja dan menatapku lekat. Tersenyum miring, "Yes, i can."
"Tidak. Terserah apa kau mengadukan hubunganku dan Rei ke papanya atau tentang rekaman itu." Sudah kubulatkan tekadku, ini saatnya melepas masalahku dengannya.
"Kau tak takut jika menyakiti Pak Salim di akhir hidupnya?" Ia memiringkan kepalanya.
"Tidak. Itu tak akan terjadi. Pernikahan itu memang awalnya hanya untuk membahagiakan Pak Salim, tapi sekarang kami memulai sebuah hubungan. Melupakan kontrak itu." Aku bohong yang terakhir, kontraknya masih ada, entah masih diperlukan atau tidak. Kulihat rahang Alex mengatup dan saling menekan dengan keras. "Soal rekaman cctv itu.. aku bisa melawannya. Toh di dalam kamar itu tak ada kamera, hanya di loronglah kamera itu berada. Dan kau tak bisa menuntutku hanya gara-gara aku memapahmu yang terluka, kau tak bisa membuktikan bahwa penyebabnya adalah aku. Kutebak kau juga tak melakukan visum.."
Senyum di wajah Alex lenyap berganti garis lurus dari bibirnya. Yeah, you lose. "Kau tak tau apa yang kau lakukan." Apa? Apa maksudnya. "Aku yakin kau akan menyesali keputusanmu sendiri." Huh.. gertakan itu tak akan mempan padaku. Alex berdiri mengeluarkan lembaran kartu nama dan uang seratus ribuan lalu meletakkannya di atas meja, alamat bengkel tempat VW ku berada dan uang bon. Ia lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 44"

Post a Comment