"Ini kan bukan jalan ke rumah." Aku melirik pada Rei yang duduk di balik kemudi escalade nya.
"Memang bukan. Aku ingin mampir dulu." Rei tersenyum misterius.
"Kemana?"
"Kejutan." Rei masih mempertahankan seyum misteriusnya. Kemana sih?
Ia terus mengemudikan
mobilnya menuju.. entah kemana. Setelah beberapa beberapa saat ia
memperlambat kecepatan mobilnya dan mengarahkan kemudinya ke subuah
pelataran gedung yang sangat luas. Saat aku mengintip apa yang ada di
dalam gedung itu ingin rasanya aku memukul kepala Rei. Hei aku tak
serius soal limusin itu!
Apa dia mau membelikanku
limusin? Em, tapi kemungkinan dia mau beli mobil baru untuk dirinya
sendiri sih. Ia kan baru kehilangan range rovernya, yah walau rusak tak
bisa dianggap kehilangan. "Kau mau beli mobil baru?"
"Ya. Untukmu."
"Hei kau bercanda kan?"
"Tak pernah seserius
ini." Rei mematikan mesin mobilnya dan keluar. Ia berjalan menyebrang
mobil dan membukakan pintu untukku. "Ayo."
Kami masuk ke dalam
gedung yang dipenuh dengan jajaran mobil-mobil mewah. Aku bahkan tak
sanggup menatap mereka semua. Terlalu berkilau. Mewah maksudku. "Rei..
aku bercanda soal limusin waktu itu." Ucapku jujur. Apa dia nggak tau
bedanya saat bercanda dan serius, lagian siapa yang menginginkan sebuah
limusin untuk dimiliki? Mending nyewa.
Rei tak menghiraukanku
dan terus berjalan melenggang menuju seseorang yang sedang serius
memandangi ipadnya. "Malam Jack." Sapanya ketika mencapai jarak beberapa
kaki dengan pria tinggi dengan ipadnya itu.
Jack. Pria yang di sapa
Rei tampak terkejut menyadari keberadaan kami. "Malam Mr. Husain." Ia
tersenyum ramah dan menjabat tangan Rei. "Mrs. Husain?" tanyanya saat
menyalamiku. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Pesananku?"
Jack merabai sakunya
sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah kunci dan menyerahkannya kepada
Rei. Rei balas melemparkan kunci itu padaku yang dengan reflek berhasil
kutangkap. Aku memperhatikan kunci itu, ada logo dengan sepasang sayap
dan huruf B kapital di tengahnya. Perutku langsung tegang melihatnya.
"Ke arah sini." Jack
mengantar kami ke 'pesanan' Rei. Perutku semakin melilit penuh
antisipasi. Aku sedikit tau logo merk apa yang tertoreh di kunci yang
sedang kupegang. Ini puluhan kali aku ingin memukul kepala Rei yang
keras dan bebal. Tidak terlalu bebal sih.
Benar saja. Tanganku sangat gatal untuk memukul kepala Rei kala kulihat mobil yang ada di hadapan kami.
"Belum ada platnya, tapi
kau bisa membawanya pulang malam ini." Ujar Rei. "Atau kau mau yang
lain? Aku tak terlalu pandai memilih, kukira ini cocok untumu. Tak
terlalu manly." Ia menekankan pada kata terakhirnya.
Aku menatapnya tajam. Ingin sekali aku berteriak dan memakinya. Yah.. sedikit makian kurasa bagus untuk kekeras kepalaannya.
.
.
.
Sebuah bentley..
.
.
.
Sebuah bentley..
Sport convertible dengan
kulit yang putih mulus cemerlang dan empat mata yang cantik. Aku bisa
membayangkan mobil ini berpacu dengan kecepatan tinggi tapi masih tetap
anggun. Sangat berotot tapi halus. Exteriornya saja sudah membuatku
hampir meneteskan air liur., dalam arti tak sebenarnya. Semua fitur
terbuat dari serat karbon high gloss, rodanya elegan. Interiornya pasti
membuat mataku lepas.
Jack mulai menjelaskan
seluk beluk mobil ini. "Tenaganya dibekali dengan 616 kekuatan kuda
dengan torsinya yang mencapai 796, 5 Nm, dengan itu akselerasinya 599
GTB, transmisi otomatis 8 kecepatan...." suara Jack sudah tak terdengar
lagi kala aku mengagumi bagian dalam mobil ini. Fitur teknologinya tak
perlu diragukan sudah terpampang apik di dashboard yang sporty dan
mewah, LCD layar sentuh sekitar 8 inchi, bisa dihubungkan dengan iPod,
CD changer, card reader memori atau flashdisk, crafted veneer case di
tengah konsolnya, reversing camera, perangkat audionya entah aku belum
mendengar outputnya, tapi rasanya bisa kupastikan yang keluar pasti
selembut bludru atau menghentak sekuat gemuruh ombak. Jok kulit bermotif
Cobra, uh.. gila!
Aku bersyukur Rei
memilih mobil yang ini, convertible tapi punya 4 jok kursi. Bukan jenis
mobil yang hanya bisa ditumpangi dua orang saja. Singkat cerita Rei
pulang sendiri dengan escalade nya. Dan aku? Ya, dengan coninental
putih ini. Kami beriringan dengan sangat kontras seperti ying dan yang.
Hitam dan putih. Aku tau aku tak bisa menolak ini, selain karna Rei yang
keras kepala, aku juga tak munafik jatuh hati pada mobil ini. Meski aku
tak yakin setelah tau harganya. Rei memang tak memberitahuku harganya,
dan aku juga tak mau mencari tahu meski aku bisa hanya dengan sekali
sentuh. Tapi lebih baik aku mengurungkannya, tak mau shock mengetahui
rentetan nol yang berjajar.
Jalanan sangat lengang.
Anda aku tak dibelakang Rei mungkin aku sudah memacu mubil ini
gila-gilaan. Tapi Rei telah mewanti-wantiku untuk tak mengemudi dengan
kecepatan melebihi 100 km/jam. Sempat ingin berdebat namun kuurungkan.
Lagian buat apa coba mobil sport kalau dipake cuman buat mejeng doang
tanpa dipacu dengan tinggi.
Ingin rasanya aku
menyalip Rei dan mengemudi gila-gilaan. Sayang cuman angan-angan saja,
bisa-bisa dia memenggalku setelah itu. Bentley ini sangat nyaman
dikendarai, sangat ringan dan.. bagaimana ya aku mengatakannya? Beda
sekali dengan VW kuningku itu,eh.. ngomong-ngomong gimana kabar VW itu,
aku harus segera mencari tahu, bagaimanapun juga itu mobilku. Yang harus
dihadapi hanya Alex. Yeah just Alex and his big ass.
.
.
.
Viona :
Ada waktu siang ini?
.
.
.
Viona :
Ada waktu siang ini?
Alex :
Apapun untukmu tuan putri..
Apapun untukmu tuan putri..
Viona :
Kampung Kafe, jam makan siang.
Kampung Kafe, jam makan siang.
Alex :
Yes, sweety
Yes, sweety
Kukira aku datang lebih
dulu, ternyata Alex yang lebih awal. Ia duduk di sudut dekat jendela
yang menampilkan pemandangan luar kafe dan melambaikan tangannya padaku.
Aku segera menghampirinya. Kulihat sudah ada secangkir kopi yang
tinggal setengah di hadapannya. Akupun memanggil waiter dan memesan
minuman.
"Sudah lama?" tanyaku basa basi.
"Selamanya pun aku akan menunggumu." Aku memutar mata jengah mendengar jawabannya.
"Alex, dimana mobilku?" aku tak mau basa basi lagi.
"Kukira kau sudah lupa
pada mobil itu. Dan bersenang-senang dengan tunggangan barumu." Dagunya
menunjuk kearah luar, ke bentley putih yang terparkir di halaman depan
kafe.
"Itu mobilku Alex.
Kenapa aku harus lupa pada mobilku. Soal mobil di luar itu memang
mobilnya Rei. Kau sendiri yang bilang bahwa aku istrinya, jadi berhak
dong memakai salah saty mobilnya."
"Seingatku Raihan tak
punya bentley." Alex menyesap kopinya. "Itu bukan seleranya." Bagaimana
dia bisa hapal mobilnya Rei, dan sepertinya ia tau betul selera Rei.
"Dia membelikan itu untukmu kan?"
"Tidak." Memang untukku,
tapi bukan hak milik jika itu yang dimaksud Alex. Itu terlalu mahal
untuk diberikan pada seseorang, aku kekasihnya tapi bukan berarti dia
mau kasih aku barang kayak gitu kan? "Bisakah kau memberiku alamat
bengkelnya? Aku harus segera pergi."
"Kenapa buru-buru, kau baru datang. Mau pesan apa?" Alex megamati daftar menu di tangannya.
"Alex, please?"
"Temani aku Viona." itu sebuah perintah, bukan permintaana karna ada ketegasan yang sangat kental dalam nada bicaranya.
"Kau tak bisa
mengancamku." Awalnya aku hanya ingin mengambil VW ku, tapi rasanya
ingin kuselesaikan semua masalahku dengan Alex.
Alex meletakkan kembali daftar menunya ke meja dan menatapku lekat. Tersenyum miring, "Yes, i can."
"Tidak. Terserah apa kau
mengadukan hubunganku dan Rei ke papanya atau tentang rekaman itu."
Sudah kubulatkan tekadku, ini saatnya melepas masalahku dengannya.
"Kau tak takut jika menyakiti Pak Salim di akhir hidupnya?" Ia memiringkan kepalanya.
"Tidak. Itu tak akan
terjadi. Pernikahan itu memang awalnya hanya untuk membahagiakan Pak
Salim, tapi sekarang kami memulai sebuah hubungan. Melupakan kontrak
itu." Aku bohong yang terakhir, kontraknya masih ada, entah masih
diperlukan atau tidak. Kulihat rahang Alex mengatup dan saling menekan
dengan keras. "Soal rekaman cctv itu.. aku bisa melawannya. Toh di dalam
kamar itu tak ada kamera, hanya di loronglah kamera itu berada. Dan kau
tak bisa menuntutku hanya gara-gara aku memapahmu yang terluka, kau tak
bisa membuktikan bahwa penyebabnya adalah aku. Kutebak kau juga tak
melakukan visum.."
Senyum di wajah Alex
lenyap berganti garis lurus dari bibirnya. Yeah, you lose. "Kau tak tau
apa yang kau lakukan." Apa? Apa maksudnya. "Aku yakin kau akan menyesali
keputusanmu sendiri." Huh.. gertakan itu tak akan mempan padaku. Alex
berdiri mengeluarkan lembaran kartu nama dan uang seratus ribuan lalu
meletakkannya di atas meja, alamat bengkel tempat VW ku berada dan uang
bon. Ia lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
.
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 44"
Post a Comment