Hopeless Part 22


Film baru mulai diputar dia langsung tertidur begitu saja. Cih..aku menarik kepalanya supaya bersandar dibahuku. Permen karetku yang manis..
Kuhadiahi Viona dengan ciuman-ciuman kecil. "Kau sangat manis.."
Entah dia sadar atau tidak. Dia membalasku, bibirnya bergerak lembut. Namun hal itu hanya berlangsung sebentar saja, detik berikutnya dia sadar dan mendorongku.
"Kenapa berhenti? Bukankah kau juga menikmatiku." Aku menggodanya, dan berhasil membuatnya cemberut. "aku memintamu menemaniku nonton film bukan malah tidur!" kuubah moodku untuk melihat reaksinya lebih lanjut.
"Aku capek." Ujarnya dengan galak dan mata melotot. Lalu matanya beralih ke layar depan. Aku mencuri-curi pandang dari sudut mataku. Kepala Viona mulai terantuk-antuk, tapi dia masih bertahan melihat film yang diputar. Sepertinya dia memang kelelahan.
"Ayo keluar, filmnya nggak menarik." Lengan Viona kutarik dan kugandeng menyusuri bangku penonton turun ke bawah dan keluar studio.
"Kemana lagi?" tanyanya saat sudah berada dalam mobil.
"Terserah gwe mau kemana."
"Alex, please. Aku harus segera ke hotel sekarang." Viona mencoba membujukku. Aku suka sekali pada matanya saat dia memohon sesuatu padaku.
"Tidak."
Viona menggerutu dan memandang sebal ke luar jendela. Aku memandangnya lewat sudut mataku dan lagi-lagi dia tertidur. Kuputar kemudi kembali ke arah hotel dan kuparkirkan mobil di basemen. Kumundurkan sandaran jok Viona agar lebih nyaman.
Rambutnya yang berjatuhan di mukanya kurapikan, kubelai dengan hati-hati. "Selamat malam tuan putri.."
Aku juga mengambil posisi nyaman di jokku. Untuk saat ini, tidur sambil memegang tangannya sudah cukup...
.
.
.
Tubuhku terasa kaku, dan kaki-kakiku ngilu. Perlahan aku membuka mataku, dan melihat pemandangan yang langsung ingin membuatku menutup mata lagi.
Alex sedang tidur menghadapku dan tangan kirinya menggenggam erat tanganku.
"Ergh..." jam berapa ini? Aku memeriksa ponselku. Jam 3 pagi dan ada tiga panggilan tak terjawab dari Rei!! Mampus!!
Segera kupulihkan benar kesadaranku. Dan genggaman Alex.. aku harus bisa melepasnya tanpa membangunkan si mesum ini. Satu persatu jarinya kurenggangkan. Berhasil dengan mulus. Pintu mbilnya terkunci, dimana tombolnya?
Mataku menyisir bagian kemudi. Hmm.. ada di bagian pintu masuk kemudi. Aku harus melewati Alex untuk menekannya.
Ok.. tenang jangan panik, kau bisa melewati ini Viona.
Aku sangat berhati-hati agar tak menyentuh tubuh Alex dan membangunkannya.
"Kau agresif juga ternyata.."
Sial. Alex bangun tepat saat aku berada dia tas tubuhnya dan hampi menekan tombol kuncinya.
"Lepaskan aku!" Alex mendorongku kembali ke tempat dudukku lagi. Memerangkap dengan lengannya yang kokoh.
"Kenapa kau selalu menolakku Viona? Padahal aku tahu kau juga menginginkannya juga."
Menginginkan apa? Aku ingin melakukan ini !
Dugh..
Aku mengadu kepalaku dengan kepala Alex.
"Argh...!!" Alex berteriak. Haha.. aku tahu kepalanya masih belum pulih.
Kudorong dia dan aku langsung beralih ke kursi kemudi, membuka kunci dan keluar.
Hey! Bukankah ini basemen hotel. Ah, tapi syukurlah aku bisa cepat kembali ke kamar.
Setelah mengembalikan jaket milik salah satu karyawan hotel, aku kembali ke kamar dan mendapati Rei masih tertidur pulas. Aku harus punya alasan kuat atas kepergianku tadi malam. Semoga dia percaya..
Lebih baik aku tidur lagi. Rasanya badanku masih capek banget. Dan lebih baik lagi kalau tidur di sofa. Ogah tidur sama Rei lagi, nanti bisa-bisa petahananku runtuh..
.
.
.
Rei percaya begitu saja pada yang aku katakan bahwa aku pergi mencari udara segar karna tak bisa tidur. Tapi aku meragukan kepercayaannya itu padaku.
"Kita akan sampai setengah jam lagi, kalau kau masih lelah tidurlah." Entah ada di ketinggian berapa ribu kaki kami sekarang berada. Menuju pulau para dewa dulu tinggal. Untung hanya ke bali, kukira akan keliling eropa kayak Gio. Bisa bisa malah sakit ati doang, mending besok sama suami beneran aja, atau malah lebih baik pergi ke eropa sendiri saja.
Rei memposisikan kursiku agar aku nyaman dan memasangkan bantal pengganjal leher. Kemungkinan tiba pada siang hari, entah apa yang akan kami lakukan setelah itu. Hmm.. jalan-jalan ke pantai sepertinya bagus. Sudah lama aku tak menjumpai birunya air laut.
.
.
.
Langit biru, cuaca sangat cerah. Awan hanya menggaris tipis di angkasa. Aku tak perduli jika kulitku terbakar matahari. Aku hanya ingin menikmati hari ini. Menikmati ombak yang membelai hangat kaki-kakiku, pasir yang menggelitik telapak kakiku dan angin yang menerbangkan ujung-ujung rambutku.
Semua tampak begitu indah, pohon kelapanya, tebing karangnya. Rei membawa slrnya, dia memberikannya padaku. Dia menyuruhku berkeliling untuk mengambil gambar. Dengan senang hati aku menerimanya.
Aku menangkap beberapa obyek, pemandangannya tentu saja, lalu orang-orang yang sedang bermain ombak, berkejaran dengan ombak, anak-anak yang sedang membuat istana pasir. Lalu ada siluet seseorang yang termenung di pinggir karang. Oh.. ini obyek kesukaanku, aku mendekatinya untuk bisa mendapatkan hasil yang lebih jelas.
Saat aku membidiknya, dia malah terlihat melambai. Tunggu.. dia melambai padaku??
Aku memperbesar tampilan hasil jepretanku. Dan mendapati wajah yang sangat kukenal, kakiku hampir lemas dibuatnya. Bagaimana bisa dia ada di sini!
Kenapa dia selalu datang di waktu yang tidak tepat?
Alex melambai padaku dan berjalan mendekat. Tidak! Itu tak mungkin dia! Aku menggelengkan kepala. Rei! Dimana dia? Aku harus segera menemukannya dan pergi dari tempat ini.
Oh, dia sedang menikmati kelapa muda di salah satu meja berpayung pantai.
"Rei.. bisakah kita pergi dari sini?" kegugupan sulit kuhilangkan dari nada suaraku.
"Kenapa? Bukankah kita baru tiba?"
"Eh.. emm.. terlalu panas, aku tak terbiasa."
"Kau bisa pakai sunblock, atau duduklah disini. Kau tidak akan kepanasan dan bisa menikmati pemandangan laut dengan bebas."
Aduh Rei... bukan itu. "kita kembali saja ke hotel dulu baru kesini lagi."
"Kau ini lucu, buat apa kembali ke hotel lalu kemari lagi. Apa kau tak enak badan?" Rei membuka kacamata hitamnya, memperlihatkan matanya yang khawatir.
Bukan itu juga Rei.. tapi iyalah jika itu jalan satu-satunya.
"Aku masih sedikit jet lag.."
"Baiklah. Mari kita ke hotel saja. Lagi pula kita masih punya banyak waktu di sini"
Maafkan aku Rei.. aku lagi-lagi terpaksa berbohong. Ini semua gara-gara Alex!!
.
.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 22"

Post a Comment