Film baru mulai diputar dia langsung tertidur begitu saja. Cih..aku menarik kepalanya supaya bersandar dibahuku. Permen karetku yang manis..
Kuhadiahi Viona dengan ciuman-ciuman kecil. "Kau sangat manis.."
Entah dia sadar atau
tidak. Dia membalasku, bibirnya bergerak lembut. Namun hal itu hanya
berlangsung sebentar saja, detik berikutnya dia sadar dan mendorongku.
"Kenapa berhenti?
Bukankah kau juga menikmatiku." Aku menggodanya, dan berhasil membuatnya
cemberut. "aku memintamu menemaniku nonton film bukan malah tidur!"
kuubah moodku untuk melihat reaksinya lebih lanjut.
"Aku capek." Ujarnya
dengan galak dan mata melotot. Lalu matanya beralih ke layar depan. Aku
mencuri-curi pandang dari sudut mataku. Kepala Viona mulai
terantuk-antuk, tapi dia masih bertahan melihat film yang diputar.
Sepertinya dia memang kelelahan.
"Ayo keluar, filmnya
nggak menarik." Lengan Viona kutarik dan kugandeng menyusuri bangku
penonton turun ke bawah dan keluar studio.
"Kemana lagi?" tanyanya saat sudah berada dalam mobil.
"Terserah gwe mau kemana."
"Alex, please. Aku harus
segera ke hotel sekarang." Viona mencoba membujukku. Aku suka sekali
pada matanya saat dia memohon sesuatu padaku.
"Tidak."
Viona menggerutu dan
memandang sebal ke luar jendela. Aku memandangnya lewat sudut mataku dan
lagi-lagi dia tertidur. Kuputar kemudi kembali ke arah hotel dan
kuparkirkan mobil di basemen. Kumundurkan sandaran jok Viona agar lebih
nyaman.
Rambutnya yang berjatuhan di mukanya kurapikan, kubelai dengan hati-hati. "Selamat malam tuan putri.."
Aku juga mengambil posisi nyaman di jokku. Untuk saat ini, tidur sambil memegang tangannya sudah cukup...
.
.
.
.
.
Tubuhku terasa kaku, dan
kaki-kakiku ngilu. Perlahan aku membuka mataku, dan melihat pemandangan
yang langsung ingin membuatku menutup mata lagi.
Alex sedang tidur menghadapku dan tangan kirinya menggenggam erat tanganku.
"Ergh..." jam berapa ini? Aku memeriksa ponselku. Jam 3 pagi dan ada tiga panggilan tak terjawab dari Rei!! Mampus!!
Segera kupulihkan benar
kesadaranku. Dan genggaman Alex.. aku harus bisa melepasnya tanpa
membangunkan si mesum ini. Satu persatu jarinya kurenggangkan. Berhasil
dengan mulus. Pintu mbilnya terkunci, dimana tombolnya?
Mataku menyisir bagian kemudi. Hmm.. ada di bagian pintu masuk kemudi. Aku harus melewati Alex untuk menekannya.
Ok.. tenang jangan panik, kau bisa melewati ini Viona.
Aku sangat berhati-hati agar tak menyentuh tubuh Alex dan membangunkannya.
"Kau agresif juga ternyata.."
Sial. Alex bangun tepat saat aku berada dia tas tubuhnya dan hampi menekan tombol kuncinya.
"Lepaskan aku!" Alex mendorongku kembali ke tempat dudukku lagi. Memerangkap dengan lengannya yang kokoh.
"Kenapa kau selalu menolakku Viona? Padahal aku tahu kau juga menginginkannya juga."
Menginginkan apa? Aku ingin melakukan ini !
Dugh..
Aku mengadu kepalaku dengan kepala Alex.
"Argh...!!" Alex berteriak. Haha.. aku tahu kepalanya masih belum pulih.
Kudorong dia dan aku langsung beralih ke kursi kemudi, membuka kunci dan keluar.
Hey! Bukankah ini basemen hotel. Ah, tapi syukurlah aku bisa cepat kembali ke kamar.
Setelah mengembalikan
jaket milik salah satu karyawan hotel, aku kembali ke kamar dan
mendapati Rei masih tertidur pulas. Aku harus punya alasan kuat atas
kepergianku tadi malam. Semoga dia percaya..
Lebih baik aku tidur
lagi. Rasanya badanku masih capek banget. Dan lebih baik lagi kalau
tidur di sofa. Ogah tidur sama Rei lagi, nanti bisa-bisa petahananku
runtuh..
.
.
.
.
.
Rei percaya begitu saja
pada yang aku katakan bahwa aku pergi mencari udara segar karna tak bisa
tidur. Tapi aku meragukan kepercayaannya itu padaku.
"Kita akan sampai
setengah jam lagi, kalau kau masih lelah tidurlah." Entah ada di
ketinggian berapa ribu kaki kami sekarang berada. Menuju pulau para dewa
dulu tinggal. Untung hanya ke bali, kukira akan keliling eropa kayak
Gio. Bisa bisa malah sakit ati doang, mending besok sama suami beneran
aja, atau malah lebih baik pergi ke eropa sendiri saja.
Rei memposisikan kursiku
agar aku nyaman dan memasangkan bantal pengganjal leher. Kemungkinan
tiba pada siang hari, entah apa yang akan kami lakukan setelah itu.
Hmm.. jalan-jalan ke pantai sepertinya bagus. Sudah lama aku tak
menjumpai birunya air laut.
.
.
.
.
.
Langit biru, cuaca
sangat cerah. Awan hanya menggaris tipis di angkasa. Aku tak perduli
jika kulitku terbakar matahari. Aku hanya ingin menikmati hari ini.
Menikmati ombak yang membelai hangat kaki-kakiku, pasir yang menggelitik
telapak kakiku dan angin yang menerbangkan ujung-ujung rambutku.
Semua tampak begitu
indah, pohon kelapanya, tebing karangnya. Rei membawa slrnya, dia
memberikannya padaku. Dia menyuruhku berkeliling untuk mengambil gambar.
Dengan senang hati aku menerimanya.
Aku menangkap beberapa
obyek, pemandangannya tentu saja, lalu orang-orang yang sedang bermain
ombak, berkejaran dengan ombak, anak-anak yang sedang membuat istana
pasir. Lalu ada siluet seseorang yang termenung di pinggir karang. Oh..
ini obyek kesukaanku, aku mendekatinya untuk bisa mendapatkan hasil yang
lebih jelas.
Saat aku membidiknya, dia malah terlihat melambai. Tunggu.. dia melambai padaku??
Aku memperbesar tampilan
hasil jepretanku. Dan mendapati wajah yang sangat kukenal, kakiku
hampir lemas dibuatnya. Bagaimana bisa dia ada di sini!
Kenapa dia selalu datang di waktu yang tidak tepat?
Alex melambai padaku dan
berjalan mendekat. Tidak! Itu tak mungkin dia! Aku menggelengkan
kepala. Rei! Dimana dia? Aku harus segera menemukannya dan pergi dari
tempat ini.
Oh, dia sedang menikmati kelapa muda di salah satu meja berpayung pantai.
"Rei.. bisakah kita pergi dari sini?" kegugupan sulit kuhilangkan dari nada suaraku.
"Kenapa? Bukankah kita baru tiba?"
"Eh.. emm.. terlalu panas, aku tak terbiasa."
"Kau bisa pakai sunblock, atau duduklah disini. Kau tidak akan kepanasan dan bisa menikmati pemandangan laut dengan bebas."
Aduh Rei... bukan itu. "kita kembali saja ke hotel dulu baru kesini lagi."
"Kau ini lucu, buat apa
kembali ke hotel lalu kemari lagi. Apa kau tak enak badan?" Rei membuka
kacamata hitamnya, memperlihatkan matanya yang khawatir.
Bukan itu juga Rei.. tapi iyalah jika itu jalan satu-satunya.
"Aku masih sedikit jet lag.."
"Baiklah. Mari kita ke hotel saja. Lagi pula kita masih punya banyak waktu di sini"
Maafkan aku Rei.. aku lagi-lagi terpaksa berbohong. Ini semua gara-gara Alex!!
.
.
.
TBC
.
.
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 22"
Post a Comment