.
Apa yang sebenarnya mereka pikirkan! Kenapa mereka melakukannya disini! Oh Tuhan..
Aku mendekati kermunan yang sedang berusaha melerai baku hantam dua pria yang sangat aku kenal. Rei dan Alex..
“Hentikan..!!” suaraku
tak sampai 5 oktaf, itu sudah mengeluarkan tenagaku. Mereka sama sekali
tak bisa mendengarku, dan aku juga tak bisa mendekat karna terlalu
banyak orang yang berusaha memisahkan dua manusia yang sedang dibakar
amarah. Kenapa mereka bisa begitu marah.
“Alex!! Rei !!” aku ingin menerobos kerumunan, tapi sial.. aku malah terdorong jatuh.
Sudah cukup! “berhentiii...!!!!” kemarahan memberiku tenaga untuk berteriak kencang.
Rupanya mereka berdua
mendengarku, juga seluruh penghuni UGD ini karna tiba-tiba semuanya jadi
hening. Dan mereka, ya.. mereka semua, menatap padaku. Oh double sial!
“Nona..” dokter yang tadi sedang memeriksaku, kini dia memegangi sebelah lengan Rei.
“Viona..” Rei
menghempaskan pegangan pada kedua lengannya dan menuju padaku, begitu
juga dengan Alex. Sudut bibir kedua pria ini terluka dan mengeluarkan
darah. Astaga.. mereka tak main-main rupanya..
“Nona tak apa? Kenapa anda malah kemari..” dokter yang tadi dan Rei membantuku berdiri.
“Sudah kubilang kan
untuk menungguku.” Rei menatapku marah, ia benar-benar marah padaku atau
kemarahannya sisa dari perkelahian barusan?
“Jangan marah padanya!” Alex mendorong tubuh Rei menjauhiku.
“Jangan campuri urusan
orang..” Rei mencengkeram kerah baju Alex dan mengancamnya. Beberapa
orang kembali memegangi lengan mereka, mencegah terjadinya lagi
perkelahian. “kau tak seharusnya membawa Viona pergi!”
“Dia bosan! Dan dia pergi karna keinginannya sendiri..”
“Kau membuatnya sakit!”
“Demi Tuhan! Hentikan!”
ada apa dengan mereka berdua! “apa kalian nggak malu?! Ini bukan..” oh
tidak.. aku tak mampu menyelesaikan semua kalimatku. Napasku seakan
berhenti. Aku terengah mencari oksigen yang tiba-tiba seperti menghindar
dariku.
“Nona, sebaiknya anda kembali ke ranjang.” Dokter tadi masih memegangi lenganku dan menghelaku kembali ke ranjang.
.
.
.
.
.
.
Aku kembali lagi ke
kamarku. Maksudku salah satu kamar rumah sakit yang kutempati. Infus
telah terpasang kembali, ditambah lagi selang oksigen nempel di idungku.
Rei duduk sambil bersedekap, belum mengucapkan satu patah katapun sejak
tadi. Dia memandangku secara intens, dan bibirnya yang robek terkatup
rapat-rapat. Sial.. jadi begini kalau dia marah..
“Maaf..” gumamku parau. Aku sudah kehabisan tenaga, benar-benar terkuras habis. Entah kenapa aku juga ingin menangis..
“Istirahatlah..” mata
birunya menghangat, dan aku tak bisa membendung air mataku. “hei..hei..”
kedua tangan Rei dengan lembut menghapus air mata yang mengalir di
pipiku. “jangan begini, aku sudah berjanji untuk tak membuatmu
menangis..”
“Maafkan aku Rei..” ya Tuhan.. entah kenapa aku jadi merasa sangat bersalah.
“Sshh..”jari telunjuknya menempel dibibirku, mengisyaratkanku untuk diam. “dengar. Jika ada yang harus meminta maaf disini, itu adalah aku. Maaf karena tak bisa menjagamu sepanjang waktu, maaf karena mengabaikanmu hanya demi pekerjaan..”
“Sshh..”jari telunjuknya menempel dibibirku, mengisyaratkanku untuk diam. “dengar. Jika ada yang harus meminta maaf disini, itu adalah aku. Maaf karena tak bisa menjagamu sepanjang waktu, maaf karena mengabaikanmu hanya demi pekerjaan..”
“Tapi..” aku ingin protes karna dia sama sekali tak mengabaikanku, namun langsung dihentikan.
“Shh.. maaf karna
membuatmu kebosanan di tempat seperti ini. Dulu sewaktu aku sakit, kau
dengan sabar merawatku, menjagaku sampai larut.. Jadi sudah sepantasnya
akulah yang harus meminta maaf.”
“Oh Rei..”aku menyentuh
wajahnya, menelusuri garis-garis ketegasan di wajah timur tengahnya. Dan
mimpi-mimpiku beberapa hari terakhir ini seolah dihadirkan dalam
kenyataan. Rei menciumku dengan sangat lembut, pelan dan halus. Ada
sedikit rasa asin, tentu saja itu dari luka di sudut bibir Rei. Rei..
Aku sangat menikmatinya, bibirnya mengecup dan menggesekku lembut,
lidahnya bertaut pelan berbagi kehangatan di dalam mulutku. Oh.. sungguh
memabukkan, aku tak ingin ini berakhir.. dan sepertinya Rei juga tak
akan membiarkannya.
Aku tak tahu berapa lama
ciuman itu berlangsung, karna Rei terus menciumku hingga aku tertidur.
Dengan kelembutannya Rei mengantarku ke alam bawah sadarku. Itu hal
termanis yang pernah dilakukan seseorang untukku.
.
.
.
Aku terbangun, dengan lengan seseorang melingkar dipinggangku. “hmm..” aku ingin menggeliat tapi susah. Rei terlalu erat memelukku. Dia masih tidur. Wajah kokohnya tampak tenang dan damai. Luka di sudut bibirnya telah mengering namun disekitarnya nampak membiru. Hah.. bagaimana aku bisa berakhir seperti ini.. ini di rumah sakit! Dan dia memelukku erat di ranjang.
.
.
.
Aku terbangun, dengan lengan seseorang melingkar dipinggangku. “hmm..” aku ingin menggeliat tapi susah. Rei terlalu erat memelukku. Dia masih tidur. Wajah kokohnya tampak tenang dan damai. Luka di sudut bibirnya telah mengering namun disekitarnya nampak membiru. Hah.. bagaimana aku bisa berakhir seperti ini.. ini di rumah sakit! Dan dia memelukku erat di ranjang.
Bulu mata Rei bergerak.
“selamat pagi..” suara berat pagi harinya menyapa hangat. “sepertinya di
luar hujan, kita bisa tidur lagi..” Rei memperat pelukannya. Tunggu..
ada sesuatu... yang mengganjal di bagian bawah perutku.. oh shit.. apa
dia..
“Rei kau harus bangun! Bukannya kau harus ke kantor.” Tanganku mendesak, berusaha menciptakan jarak tapi Rei tak juga bergeming.
“Rei kau harus bangun! Bukannya kau harus ke kantor.” Tanganku mendesak, berusaha menciptakan jarak tapi Rei tak juga bergeming.
“Aku akan menemanimu
hari ini..” Rei makin mempererat pelukannya, memenamkan wajahku ke
lekukan di lehernya. Wangi parfumnya sedikit.. memabukkan..
“Oh.. mataku!!”
“Oh.. mataku!!”
Aku terlonjak kaget, begitu juga dengan Rei. Suara cempreng khas anak kecil itu..
“Wah..wah.. kalian ini.. pagi-pagi dah bikin iri aja.” Suara sekretarisku mengekor istrinya.
“Kalian kenapa dateng
pagi-pagi gini, gangguin orang lagi mesra-mesraan aja.” Bukannya
menyapa, Rei malah kembali membalikkan badan dan mendekap kepalaku.
“Rei..” rengekku.
Akhirnya Rei ngalah, dia mengecup puncak kepalaku lalu beranjak turun
dari bed. Rambutnya berantakan, kemeja birunya kusut keluar dari celana
panjang.
“Aku dan istriku
tercinta ini bela-belain pagi-pagi kesini sebelum ngantor, ehh.. tapi
yang dijenguk kayaknya udah sehat wal afiat deh, mana udah bisa olahraga
malam pula. Ck..ck..ck.. sebaiknya kau bawa saja pulang istrimu itu
Rei..”
Mukaku agak panas
mendengar kata olahraga malam yang seenak jidatnya diucapkan oleh Gio.
Dasar.. entah makhluk itu semakin berani semenjak menikah dengan Naya.
“Secepatnya memang lebih
baik.. tapi kondisinya juga belum memungkinkan..” ada nada sedih yang
kutangkap dari suara Rei, dan itu benar tulus.. jadi ngerasa bersalah
gara-gara kejadian kemarin.
“Kau boleh makan buah kan Vi? Aku kupasin.” Naya menawarkanku buah yang ia bawa bersama Gio.
“Boleh asal yang nggak asem-asem, eh.. by the way kalian emang nggak kerja apa?”
“Kalau gitu apel sama pir aja” Naya mengambil dua jenis buah tersebut untuk dikupas dan dipotong.
“Aku mah nyante aja Vi, udah ada yang ngatur jadwalnya.”
“Aku mah nyante aja Vi, udah ada yang ngatur jadwalnya.”
“Elo gi?” aku melempar tatapan maut padanya.
“Hmm.. udah nitip absen ma Yuni tadi..”
“Apa?!” sontak aku dan Rei memelototinya. Ceilleh.. kek sinetron aje tereak barengan.
“Ups..” reflek Gio membekap mulutnya.
“Ya ampun sayaang..”
Naya tertawa geli. “kamu itu polos banget ya.. udah tau yang dijenguk
atasannya ehh malah ngasih tau kalau bolos.” Lanjutnya
“Sorry deh Rei.. Vi.. kali ini doang. Lagian kan demi jenguk bu manager.” Muka Gio jadi berubah melas gitu.
“Kalo bukan temen gwe, udah gwe tendang dari orion lu gi.” Tukas Rei. Makan tuh..
“Ye.. kalau ada waktu
mah udah dari kemaren-kemaren kesininya. Ini gara-gara bu managenya
tepar ninggalin kerjaan seabrek, jadi pada kewalahan lemburnya.” Gio
beralasan.
“Nah tu proyek gimana kabar pas kutinggal?”
“Aku gantiin kamu, trus lagi-lagi rama jadi sekretaris. Kasian tu anak dioper-oper mulu dari perencana ke sekretaris.”
“Secepatnya aku harus balik, dead line makin deket.”
“Vio.. kamu nggak akan berangkat sampe kamu bener-bener sembuh!” tegas Rei.
“Vio? Ouw... so sweet
banget panggilan sayang dari suami kamu Vi..” perkataan Naya membuatku
merona, ya.. entah sejak awal itu menjadi panggilan yang disematkan oleh
Rei. “nih..” dia menyerahkan sepiring apel dan pir yang telah berhasil
dikupasnya.
Getar ponsel Rei di
nakas mengintrupsi Rei yang tampak ingin berbicara sesuatu. Dia segera
menyambar ponselnya dan men swipe ke tombol hijau. “ya?” ia tampak
menunggu jawaban dari sebrang. “jam berapa?” tanyanya seraya menarik
kenop pintu hendak keluar menjaga keprivasian percakapannya.
“Ehh.. Vi, lo dah isi belom?”
Hek..
Pertanyaan spontan dari Gio berhasil membuatku melotot dan tersedak apel yang sedang kumakan. Damn!
“Hati-hati dong Vi
makannya.” Naya dengan tanggap memberiku segelas air. “hmm.. kayaknya
kamu bakal dapet keponakan deh bentar lagi..” ucap Naya malu-malu.
What the.. aku memandang
Gio dan Naya bergantian. Seperti orang bodoh meminta penjelasan. Gio
menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang seraya mengusap perut
Naya dengan gerakan melingkar. Berbarengan dengan itu Rei kembali masuk
dan mengerti maksud dari Naya dan Gio.
“Three weeks..” keduanya tampak tersenyum dan.. BAHAGIA..
Kedua ujung bibirku ikut
tertarik. Ada rasa membuncah di dadaku. Apa aku ikut berbahagia?
Entahlah.. yang ku tau aku senang mendengar berita ini.
“Congrats..” ucap Rei sambil bersalaman dan berpelukan ala pria dengan Gio. “semoga Gionino junior tak semenyebalkan ayahnya..”
“Sial lo Rei.” Gio memukul pundak sahabatnya itu pelan. “dia bakal jadi seganteng bapaknya nanti.”
“Atau secantik ibunya.” Timpalku. Kami pun tertawa terbahak.
.
.
TBC
.
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 33"
Post a Comment