Hopeless Part 33


.
Apa yang sebenarnya mereka pikirkan! Kenapa mereka melakukannya disini! Oh Tuhan..
Aku mendekati kermunan yang sedang berusaha melerai baku hantam dua pria yang sangat aku kenal. Rei dan Alex..
“Hentikan..!!” suaraku tak sampai 5 oktaf, itu sudah mengeluarkan tenagaku. Mereka sama sekali tak bisa mendengarku, dan aku juga tak bisa mendekat karna terlalu banyak orang yang berusaha memisahkan dua manusia yang sedang dibakar amarah. Kenapa mereka bisa begitu marah.
“Alex!! Rei !!” aku ingin menerobos kerumunan, tapi sial.. aku malah terdorong jatuh.
Sudah cukup! “berhentiii...!!!!” kemarahan memberiku tenaga untuk berteriak kencang.
Rupanya mereka berdua mendengarku, juga seluruh penghuni UGD ini karna tiba-tiba semuanya jadi hening. Dan mereka, ya.. mereka semua, menatap padaku. Oh double sial!
“Nona..” dokter yang tadi sedang memeriksaku, kini dia memegangi sebelah lengan Rei.
“Viona..” Rei menghempaskan pegangan pada kedua lengannya dan menuju padaku, begitu juga dengan Alex. Sudut bibir kedua pria ini terluka dan mengeluarkan darah. Astaga.. mereka tak main-main rupanya..
“Nona tak apa? Kenapa anda malah kemari..” dokter yang tadi dan Rei membantuku berdiri.
“Sudah kubilang kan untuk menungguku.” Rei menatapku marah, ia benar-benar marah padaku atau kemarahannya sisa dari perkelahian barusan?
“Jangan marah padanya!” Alex mendorong tubuh Rei menjauhiku.
“Jangan campuri urusan orang..” Rei mencengkeram kerah baju Alex dan mengancamnya. Beberapa orang kembali memegangi lengan mereka, mencegah terjadinya lagi perkelahian. “kau tak seharusnya membawa Viona pergi!”
“Dia bosan! Dan dia pergi karna keinginannya sendiri..”
“Kau membuatnya sakit!”
“Demi Tuhan! Hentikan!” ada apa dengan mereka berdua! “apa kalian nggak malu?! Ini bukan..” oh tidak.. aku tak mampu menyelesaikan semua kalimatku. Napasku seakan berhenti. Aku terengah mencari oksigen yang tiba-tiba seperti menghindar dariku.
“Nona, sebaiknya anda kembali ke ranjang.” Dokter tadi masih memegangi lenganku dan menghelaku kembali ke ranjang.
.
.
.
Aku kembali lagi ke kamarku. Maksudku salah satu kamar rumah sakit yang kutempati. Infus telah terpasang kembali, ditambah lagi selang oksigen nempel di idungku. Rei duduk sambil bersedekap, belum mengucapkan satu patah katapun sejak tadi. Dia memandangku secara intens, dan bibirnya yang robek terkatup rapat-rapat. Sial.. jadi begini kalau dia marah..
“Maaf..” gumamku parau. Aku sudah kehabisan tenaga, benar-benar terkuras habis. Entah kenapa aku juga ingin menangis..
“Istirahatlah..” mata birunya menghangat, dan aku tak bisa membendung air mataku. “hei..hei..” kedua tangan Rei dengan lembut menghapus air mata yang mengalir di pipiku. “jangan begini, aku sudah berjanji untuk tak membuatmu menangis..”
“Maafkan aku Rei..” ya Tuhan.. entah kenapa aku jadi merasa sangat  bersalah.
“Sshh..”jari telunjuknya menempel dibibirku, mengisyaratkanku untuk diam. “dengar. Jika ada yang harus meminta maaf disini, itu adalah aku. Maaf karena tak bisa menjagamu sepanjang waktu, maaf karena mengabaikanmu hanya demi pekerjaan..”
“Tapi..” aku ingin protes karna dia sama sekali tak mengabaikanku, namun langsung dihentikan.
“Shh.. maaf karna membuatmu kebosanan di tempat seperti ini. Dulu sewaktu aku sakit, kau dengan sabar merawatku, menjagaku sampai larut.. Jadi sudah sepantasnya akulah yang harus meminta maaf.”
“Oh Rei..”aku menyentuh wajahnya, menelusuri garis-garis ketegasan di wajah timur tengahnya. Dan mimpi-mimpiku beberapa hari terakhir ini seolah dihadirkan dalam kenyataan. Rei menciumku dengan sangat lembut, pelan dan halus. Ada sedikit rasa asin, tentu saja itu dari luka di sudut bibir Rei. Rei.. Aku sangat menikmatinya, bibirnya mengecup dan menggesekku lembut, lidahnya bertaut pelan berbagi kehangatan di dalam mulutku. Oh.. sungguh memabukkan, aku tak ingin ini berakhir.. dan sepertinya Rei juga tak akan membiarkannya.
Aku tak tahu berapa lama ciuman itu berlangsung, karna Rei terus menciumku hingga aku tertidur. Dengan kelembutannya Rei mengantarku ke alam bawah sadarku. Itu hal termanis yang pernah dilakukan seseorang untukku.
.
.
.
Aku terbangun, dengan lengan seseorang melingkar dipinggangku. “hmm..” aku ingin menggeliat tapi susah. Rei terlalu erat memelukku. Dia masih tidur. Wajah kokohnya tampak tenang dan damai. Luka di sudut bibirnya telah mengering namun disekitarnya nampak membiru. Hah.. bagaimana aku bisa berakhir seperti ini.. ini di rumah sakit! Dan dia memelukku erat di ranjang.
Bulu mata Rei bergerak. “selamat pagi..” suara berat pagi harinya menyapa hangat. “sepertinya di luar hujan, kita bisa tidur lagi..” Rei memperat pelukannya. Tunggu.. ada sesuatu... yang mengganjal di bagian bawah perutku.. oh shit.. apa dia..
“Rei kau harus bangun! Bukannya kau harus ke kantor.” Tanganku mendesak, berusaha menciptakan jarak tapi Rei tak juga bergeming.
“Aku akan menemanimu hari ini..” Rei makin mempererat pelukannya, memenamkan wajahku ke lekukan di lehernya. Wangi parfumnya sedikit.. memabukkan..
“Oh.. mataku!!”
Aku terlonjak kaget, begitu juga dengan Rei. Suara cempreng khas anak kecil itu..
“Wah..wah.. kalian ini.. pagi-pagi dah bikin iri aja.” Suara sekretarisku mengekor istrinya.
“Kalian kenapa dateng pagi-pagi gini, gangguin orang lagi mesra-mesraan aja.” Bukannya menyapa, Rei malah kembali membalikkan badan dan mendekap kepalaku.
“Rei..” rengekku. Akhirnya Rei ngalah, dia mengecup puncak kepalaku lalu beranjak turun dari bed. Rambutnya berantakan, kemeja birunya kusut keluar dari celana panjang.
“Aku dan istriku tercinta ini bela-belain pagi-pagi kesini sebelum ngantor, ehh.. tapi yang dijenguk kayaknya udah sehat wal afiat deh, mana udah bisa olahraga malam pula. Ck..ck..ck.. sebaiknya kau bawa saja pulang istrimu itu Rei..”
Mukaku agak panas mendengar kata olahraga malam yang seenak jidatnya diucapkan oleh Gio. Dasar.. entah makhluk itu semakin berani semenjak menikah dengan Naya.
“Secepatnya memang lebih baik.. tapi kondisinya juga belum memungkinkan..” ada nada sedih yang kutangkap dari suara Rei, dan itu benar tulus.. jadi ngerasa bersalah gara-gara kejadian kemarin.
“Kau boleh makan buah kan Vi? Aku kupasin.” Naya menawarkanku buah yang ia bawa bersama Gio.
“Boleh asal yang nggak asem-asem, eh.. by the way kalian emang nggak kerja apa?”
“Kalau gitu apel sama pir aja” Naya mengambil dua jenis buah tersebut untuk dikupas dan dipotong.
“Aku mah nyante aja Vi, udah ada yang ngatur jadwalnya.”
“Elo gi?” aku melempar tatapan maut padanya.
“Hmm.. udah nitip absen ma Yuni tadi..”
“Apa?!” sontak aku dan Rei memelototinya. Ceilleh.. kek sinetron aje tereak barengan.
“Ups..” reflek Gio membekap mulutnya.
“Ya ampun sayaang..” Naya tertawa geli. “kamu itu polos banget ya.. udah tau yang dijenguk atasannya ehh malah ngasih tau kalau bolos.” Lanjutnya
“Sorry deh Rei.. Vi.. kali ini doang. Lagian kan demi jenguk bu manager.” Muka Gio jadi berubah melas gitu.
“Kalo bukan temen gwe, udah gwe tendang dari orion lu gi.” Tukas Rei. Makan tuh..
“Ye.. kalau ada waktu mah udah dari kemaren-kemaren kesininya. Ini gara-gara bu managenya tepar ninggalin kerjaan seabrek, jadi pada kewalahan lemburnya.” Gio beralasan.
“Nah tu proyek gimana kabar pas kutinggal?”
“Aku gantiin kamu, trus lagi-lagi rama jadi sekretaris. Kasian tu anak dioper-oper mulu dari perencana ke sekretaris.”
“Secepatnya aku harus balik, dead line makin deket.”
“Vio.. kamu nggak akan berangkat sampe kamu bener-bener sembuh!” tegas Rei.
“Vio? Ouw... so sweet banget panggilan sayang dari suami kamu Vi..” perkataan Naya membuatku merona, ya.. entah sejak awal itu menjadi panggilan yang disematkan oleh Rei. “nih..” dia menyerahkan sepiring apel dan pir yang telah berhasil dikupasnya.
Getar ponsel Rei di nakas mengintrupsi Rei yang tampak ingin berbicara sesuatu. Dia segera menyambar ponselnya dan men swipe ke tombol hijau. “ya?” ia tampak menunggu jawaban dari sebrang. “jam berapa?” tanyanya seraya menarik kenop pintu hendak keluar menjaga keprivasian percakapannya.
“Ehh.. Vi, lo dah isi belom?”
Hek..
Pertanyaan spontan dari Gio berhasil membuatku melotot dan tersedak apel yang sedang kumakan. Damn!
“Hati-hati dong Vi makannya.” Naya dengan tanggap memberiku segelas air. “hmm.. kayaknya kamu bakal dapet keponakan deh bentar lagi..” ucap Naya malu-malu.
What the.. aku memandang Gio dan Naya bergantian. Seperti orang bodoh meminta penjelasan. Gio menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang seraya mengusap perut Naya dengan gerakan melingkar. Berbarengan dengan itu Rei kembali masuk dan mengerti maksud dari Naya dan Gio.
“Three weeks..” keduanya tampak tersenyum dan.. BAHAGIA..
Kedua ujung bibirku ikut tertarik. Ada rasa membuncah di dadaku. Apa aku ikut berbahagia? Entahlah.. yang ku tau aku senang mendengar berita ini.
“Congrats..” ucap Rei sambil bersalaman dan berpelukan ala pria dengan Gio. “semoga Gionino junior tak semenyebalkan ayahnya..”
“Sial lo Rei.” Gio memukul pundak sahabatnya itu pelan. “dia bakal jadi seganteng bapaknya nanti.”
“Atau secantik ibunya.” Timpalku. Kami pun tertawa terbahak.
.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 33"

Post a Comment