“Yah, dan dia sudah jadi chef pribadiku. Tanpa harus menggajinya.” Canda Rei. “seperti yang kau bilang kan gi?”
Tawa kami menggema memenuhi ruang makan.
“Kemarin aku sempat
dimasakin sama Naya. Dan rasanya bikin terharu sampai mau lompat ke
kolam renang.” Gio bercerita sambil memasang muka memelas.
“Sayang kok kamu gitu
sih..” Naya menarik lengan Gio sambil cemberut manja. Naya memang sosok
pribadi yang sangat berbeda ketika berhadapan dengan bisnis dan
kehidupan pribadinya. Aku pernah mengikuti salah satu rapat yang
dipimpinya. Dan itu benar-benar berbalik 180° dengan pribadinya
sehari-hari. Sangat tegas, berwibawa dan sedikit arogan menurutku. Wajah
cantiknya bahkan suka ditekuk saat ada yang tidak sesuai keinginannya.
Dan nggak segan-segan menyemprot bawahannya. Wii.. denger-denger gosip
dia yang paling ditakutin kalau lagi marah di kantornya. Tapi dia akan
berubah menjadi power ranger. Eh.. bukan jadi gadis, sekarang dia bukan
gadis lagi ding. Aku yang masih gadis ^_^ . berubah menjadi wanita yang
manja minta ampun ketika keluar dari tempat kerjanya, dan kadang sedikit
lemot. Nggak tahu ya, tapi itu yang kutangkap darinya. Pernah suatu
kali dia menanyakan padaku soal gimana sih cara membuat emotikon yang
kayak gini kayak gitu.. ya ampun... lo gaptek atau apa sih nay.. atau
saat aku berkunjung ke rumahnya. Di kamarnya ada sebuah pengharum yang
diletakkan di nakas. Aku tanya kenapa kok nggak di colokin. Malah dia
balik nanya ‘lo itu dicolokin ya? Kukira otomatis. Pantesan dari beli
pas waktu itu nggak kecium baunya.’ Astaghfirullah hal adzim... ni anak.
Udah tau nggak harum kenapa nggak di utak-atik baca petunjuknya atau
dibuang aja kalau emang nggak wangi. Aku memberi tahunya bahwa
colokannya ketutup dan harus di buka. Kutunjukkan caranya, baru dia
ngeh. O me gat...
“Kamu kan suka masakan yang pedes-pedes katanya..”
“Iya aku emang suka yang pedes sayang. Tapi nggak cabe sekillo dimasak juga kali.”
“Ih.. aku kan nggak pake
cabe sekilo. Aku cuman pake bubuk cabe. Dan emang agak kebanyakan sih
hehe..” Naya malu-malu mengakuinya. Tawa kami kembali menggelegar
mendengarnya
“Eh.. ngomong-ngomong
bulan madu kalian gimana nih? Kok malah dipersingkat? Atau kalian udah
ngerencanain mau bulan madu lagi ya?” erg.. si Gio udah mulai bicaraain
yang ngejurus-jurus ke situ deh. Males naggepinnya.
“Nay, bisa bantu aku beresin ini?” alasan. Sebenernya aku pengen ngindari pembicaraan ini.
“Boleh.” Naya bersedia membantuku membereskan piring-piring kotor ke dapur. “eh. Gimana?”
“Gimana apanya?”
“Ya itu..” mata Naya memicing sambil menkan kata itu.
“Itu apa?” aku makin penasaran. Apa sih yang diomongin ni orang.
“Malam pertama lo..”
Oouupss.. entah kenapa wajahku terasa panas seketika mendengarnya. Mungkin sekarang udah keliatan kayak kepiting rebus.
“O..oh.. itu..” apa yang harus aku katakan?? “ ya lancar.. hehe” ah , jawaban macam apa itu.
“Lancar? Hmm... aku malah agak kacau.”
“Kenapa?” oh.. aku benci reflekku. Kenapa aku harus tanya??!! Bukannya menyudahi pembicaraan ini aku malah memperpanjangnya.
“Iya waktu itu aku nggak
kuat, abisnya susah banget trus sakit minta ampun. Gio jadi nggak tega,
kasian juga sih sama sayangku jadi nggak kebagian jatah malam itu. Ya
udah malam pertamanya ditunda, abis itu pas malam keduanya aku
kuat-kuatin deh. Aku bilang ke Gio jangan peduliin kalo aku nangis.
Akhirnya berhasil deh malam itu, emang awalnya sakit, tapi setelanya gwe
malah ketagihan hehehe..” ampuun.. mulut sii Naya kenapa jadi vulgar
banget sih. Mukaku pasti tambah merah padam.
“Eh, kita balik ke ruang
makan aja, biar ini yang nyuci bibi ama.” Aku nggak mau berlama dengan
Naya berdua saja di dapur. Ah bisa-bisa aku nanti malah kebakar. Kebakar
kata-katanya.
Rei dan Gio menatapku penuh arti saat aku dan Naya kembali ke meja makan. Kenapa mereka, aku jadi parno diliatin begitu.
“Naya kita pulang sekarang ya..”
“Loh ini kan baru jam setengah sembilan.” Aku memrotes ide Gio.
“Kita nggak mau ganggu privasi penganten baru.” Gio menarik turunkan alisnya ssecara menyebalkan.
“Ya udah! Pulang sana!”
“Ye.. bu manager marah. Ayo nay, entar kita semprot lagi.” Gio menggamit pinggang Naya.
“Makasih makan malamnya Vi.. kami pulang dulu.” Pamit Naya.
Aku menatap curiga pada Rei. “Apa yang kalian bicarakan?”
“Nggak penting kami
berbicara tentang apa. Tapi yang penting mereka sudah pergi. Aku tahu
kau tak nyaman dengan tema yang mereka bincangkan. Jadi aku mengusir
mereka, secara halus tentu saja.”
Rei perhatian banget.. tau aja aku nggak suka mereka bertanya-tanya tentang itu.
“Terima kasih.” Ucapku lirih.
“Jadi, kau sudah ngantuk? Kita bisa tidur setelah ini.” Entah kenapa perkataan Rei terdengar sensual. Membuat pipiku terbakar.
.
.
TBC
.
.
.
TBC
.
0 Response to "Hopeless Part 27"
Post a Comment