Hopeless Part 27

“Sepertinya Naya harus belajar privat sama Viona deh. Masakannya gini banget.” Gio mengacungkan jempolnya.
“Yah, dan dia sudah jadi chef pribadiku. Tanpa harus menggajinya.” Canda Rei. “seperti yang kau bilang kan gi?”
Tawa kami menggema memenuhi ruang makan.
“Kemarin aku sempat dimasakin sama Naya. Dan rasanya bikin terharu sampai mau lompat ke kolam renang.” Gio bercerita sambil memasang muka memelas.
“Sayang kok kamu gitu sih..” Naya menarik lengan Gio sambil cemberut manja. Naya memang sosok pribadi yang sangat berbeda ketika berhadapan dengan bisnis dan kehidupan pribadinya. Aku pernah mengikuti salah satu rapat yang dipimpinya. Dan itu benar-benar berbalik 180° dengan pribadinya sehari-hari. Sangat tegas, berwibawa dan sedikit arogan menurutku. Wajah cantiknya bahkan suka ditekuk saat ada yang tidak sesuai keinginannya. Dan nggak segan-segan menyemprot bawahannya. Wii.. denger-denger gosip dia yang paling ditakutin kalau lagi marah di kantornya. Tapi dia akan berubah menjadi power ranger. Eh.. bukan jadi gadis, sekarang dia bukan gadis lagi ding. Aku yang masih gadis ^_^ . berubah menjadi wanita yang manja minta ampun ketika keluar dari tempat kerjanya, dan kadang sedikit lemot. Nggak tahu ya, tapi itu yang kutangkap darinya. Pernah suatu kali dia menanyakan padaku soal gimana sih cara membuat emotikon yang kayak gini kayak gitu.. ya ampun... lo gaptek atau apa sih nay.. atau saat aku berkunjung ke rumahnya. Di kamarnya ada sebuah pengharum yang diletakkan di nakas. Aku tanya kenapa kok nggak di colokin. Malah dia balik nanya ‘lo itu dicolokin ya? Kukira otomatis. Pantesan dari beli pas waktu itu nggak kecium baunya.’ Astaghfirullah hal adzim... ni anak. Udah tau nggak harum kenapa nggak di utak-atik baca petunjuknya atau dibuang aja kalau emang nggak wangi. Aku memberi tahunya bahwa colokannya ketutup dan harus di buka. Kutunjukkan caranya, baru dia ngeh. O me gat...
“Kamu kan suka masakan yang pedes-pedes katanya..”
“Iya aku emang suka yang pedes sayang. Tapi nggak cabe sekillo dimasak juga kali.”
“Ih.. aku kan nggak pake cabe sekilo. Aku cuman pake bubuk cabe. Dan emang agak kebanyakan sih hehe..” Naya malu-malu mengakuinya. Tawa kami kembali menggelegar mendengarnya
“Eh.. ngomong-ngomong bulan madu kalian gimana nih? Kok malah dipersingkat? Atau kalian udah ngerencanain mau bulan madu lagi ya?” erg.. si Gio udah mulai bicaraain yang ngejurus-jurus ke situ deh. Males naggepinnya.
“Nay, bisa bantu aku beresin ini?” alasan. Sebenernya aku pengen ngindari pembicaraan ini.
“Boleh.” Naya bersedia membantuku membereskan piring-piring kotor ke dapur. “eh. Gimana?”
“Gimana apanya?”
“Ya itu..” mata Naya memicing sambil menkan kata itu.
“Itu apa?” aku makin penasaran. Apa sih yang diomongin ni orang.
“Malam pertama lo..”
Oouupss.. entah kenapa wajahku terasa panas seketika mendengarnya. Mungkin sekarang udah keliatan kayak kepiting rebus.
“O..oh.. itu..” apa yang harus aku katakan?? “ ya lancar.. hehe” ah , jawaban macam apa itu.
“Lancar? Hmm... aku malah agak kacau.”
“Kenapa?” oh.. aku benci reflekku. Kenapa aku harus tanya??!! Bukannya menyudahi pembicaraan ini aku malah memperpanjangnya.
“Iya waktu itu aku nggak kuat, abisnya susah banget trus sakit minta ampun. Gio jadi nggak tega, kasian juga sih sama sayangku jadi nggak kebagian jatah malam itu. Ya udah malam pertamanya ditunda, abis itu pas malam keduanya aku kuat-kuatin deh. Aku bilang ke Gio jangan peduliin kalo aku nangis. Akhirnya berhasil deh malam itu, emang awalnya sakit, tapi setelanya gwe malah ketagihan hehehe..” ampuun.. mulut sii Naya kenapa jadi vulgar banget sih. Mukaku pasti tambah merah padam.
“Eh, kita balik ke ruang makan aja, biar ini yang nyuci bibi ama.” Aku nggak mau berlama dengan Naya berdua saja di dapur. Ah bisa-bisa aku nanti malah kebakar. Kebakar kata-katanya.
Rei dan Gio menatapku penuh arti saat aku dan Naya kembali ke meja makan. Kenapa mereka, aku jadi parno diliatin begitu.
“Naya kita pulang sekarang ya..”
“Loh ini kan baru jam setengah sembilan.” Aku memrotes ide Gio.
“Kita nggak mau ganggu privasi penganten baru.” Gio menarik turunkan alisnya ssecara menyebalkan.
“Ya udah! Pulang sana!”
“Ye.. bu manager marah. Ayo nay, entar kita semprot lagi.” Gio menggamit pinggang Naya.
“Makasih makan malamnya Vi.. kami pulang dulu.” Pamit Naya.
Aku menatap curiga pada Rei. “Apa yang kalian bicarakan?”
“Nggak penting kami berbicara tentang apa. Tapi yang penting mereka sudah pergi. Aku tahu kau tak nyaman dengan tema yang mereka bincangkan. Jadi aku mengusir mereka, secara halus tentu saja.”
Rei perhatian banget.. tau aja aku nggak suka mereka bertanya-tanya tentang itu.
“Terima kasih.” Ucapku lirih.
“Jadi, kau sudah ngantuk? Kita bisa tidur setelah ini.” Entah kenapa perkataan Rei terdengar sensual. Membuat pipiku terbakar.
.
.
TBC
.

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 27"

Post a Comment