.
"Hei Vi.. udah beneran sembuh ni?" sapa Gio di lift. Dia menenteng beberapa map berisi berkas, entah apa itu.
"Ya.. gwe bosan di rumah
terus, nggak ngapa-ngapain. Rasanya malah tambah sakit kalau diem di
rumah." Viona memutuskan setelah dua hari kemarin ia langsung akan masuk
kantor. Dia sangat tidak sabar meneruskan pekerjaannya.
"Wah.. bu Viona udah sembuh ya?"
"Maaf ya bu kita-kita belon bisa nengokin kemaren."
"Bu Viona jangan capek-capek kalau udah isi.."
Celotehan terakhir dari
karyawan lantai sembilan sedikit menghenyakkan Viona. Untung ia pernah
ditanya sama Gio jadi nggak terlalu syok, mungkin sebentar lagi ia akan
mendapat pertanyaan itu dari orang-orang di sekelilingnya, jadi Viona
harus terbiasa. Dia hanya melempar senyum tipis pada anggota sembilan
yang sudah berangkat, ia tak punya waktu menyapa semuanya. Viona tampak
semangat bergegas ke ruang kerjanya.
Tepat di depan pintu
ruangannya ia berpapasan dengan rama. Tentu saja! Dia sama sekali tak
mengabari Gio bahwa dia akan masuk kerja hari ini. Jadi otomatis rama
masih berada di lantai sembilan.
"Bu Viona?" rama yang asyik menatap monitor seketika mengalihkan perhatiannya pada Viona. "loh, ibu udah masuk."
"Iya Ram, nggak papa.
Kamu bantuin Gio aja hari ini. Karna katanya dia mau nganterin istrinya
cek kandungan." Gio telah berpesan saat di lift bahwa mungkin nanti
setelah makan siang ia akan menemani Naya ke rumah sakit untuk
memeriksakan kandungan Naya.
"Baik bu.."
"Here we go.." gumam Viona sambil menarik daun pintu ruang kerjanya.
Padahal cuman empat hari
dia tak kesini tapi ia sungguh merindukan ruangan ini. Bahkan saat dia
pergi ke Bali selama seminggu ia tak serindu ini dengan ruangannya.
Mungkin karena dulu itu liburan kali ya..
Viona menghidupkan
personal computernya, menunggu beberapa saat untuk loading. Segera
setelah log in ia memeriksa e-mailnya. E-mail yang masuk pada alamat
yang khusus Viona gunakan untuk pekerjaan, sepertinya banyak e-mail yang
masuk dan telah dibuka selama ia sakit. Semuanya ia periksa. Ada
beberapa e-mail yang masuk dan belum dibuka.
Tok tok
"Ya, masuk."
"Vi, gwe cabut sekarang aja ya. Lagian masih ada rama tuh yang jadi sekretaris." Cuman kepala Gio yang muncul dari balik pintu.
"Seenaknya aja lo."
"Yaelah Vi.. kali ini doang.. demi keponakan lo deh." Gio memelas.
"Iya..iya.. kali ini doang lho."
"Ok! Thank's Vi.." Gio langsung kabur setelah mendapat ijin dari managernya.
Tok tok
"Apa lagi gi?" Viona agak kesal karena pagi-pagi terus diganggu. "Eh.. rama." Ternyata yang masuh adalah rama. "Ada apa ram?"
"Ini titipan dari pak
Gio. Bahan buat presentasi sudah siap 100%. Ibu bisa bersiap untuk
presentasinya." Rama meletakkan beberapa map yang tadi dibawa Gio.
Setelah itu dia permisi pamit.
Viona kembali berkutat
dengan pekerjaannya yang menumpuk. Belum lagi dia harus mempelajari
bahan yang akan ia presentasikan. Tanggal mainnya tinggal beberapa hari
lagi. Syukurnya semua bahan sudah beres dan tinggal dia saja yang harus
bersiap.
Tak terasa, sudah empat
jam Viona mantengin monitor serta berkas yang tadi diberikan oleh rama.
Dan bel istirahat berbunyi nyaring, mengingatkan para pegawai untuk
makan siang. Viona segera beranjak ke kantin bawah. Ia tak mau kenal
omel Rei kalau tau ia telat makan. Itu juga demi Viona sendiri, dia
harus dalam keadaan fit paling tidak sampai proyeknya selesai.
Viona menyapukan
pandangannya ke seluruh bangku kantin. Semua pegawai sembilan kenalannya
sudah berkumpul dan meja mereka sudah penuh. Biasanya dia makan dengan
Gio, atau belakangan ini dengan Rei..
Dia lagi apa ya? Dua
hari kemarin Rei selalu mengingatkanku untuk tak telat makan, tapi
sepagi ini aku belum mendapat kabarnya. Batin Viona. Ia terpaksa duduk
sendiri di meja dekat jendela.
"Boleh gabung?"
"Tentu.." Viona menyesal telah mengizinkan orang ini untuk duduk di depannya. "tidak." Tambahnya cepat-cepat.
Alex tersenyum melihat reaksi Viona.
"Apa yang kau lakukan disini?!"
"Makan siang." Jawabnya
singkat lalu mulai memakan nasi kari yang ia bawa. Hujan sedang turun
dengan derasnya, jadi banyak karyawan memilih menu yang bisa
menghangatkan badan.
"Kenapa nggak di hotel lo aja, ngapain harus disini sih!" Viona tak bisa menyembunyikan rasa sebalnya.
"Sstt.. diem, gwe cuman mau makan." Alex melanjutkan makan siangnya lagi dengan lahap.
"Kurang kerjaan banget
sih lo." Viona sudah tak nafsu makan lagi melihat Alex seenaknya dateng
ke orion. Tak apa sih jika urusan kantor, tapi ini justru nimbrung makan
bareng. Ia takut jika ada gosip yang tak mengenakan. Apa lagi dulu ia
memang digosipkan dengan Alex gara-gara Yuni salah paham. Sekarangkan
Viona sudah jadi istrinya Rei, anak big boss perusahaan. Kalau ada gosip
miring tentangnya akan menurunkan image keluarga husain.
Viona mengangkat
nampannya berniat untuk pindah meja sebelum ada yang memperhatikannya
lebih lanjut. Namun Alex lebih segap menahan lengannya. "temani aku
makan."
Viona menghembuskan
nafasnya dengan kasar. Dengan setengah hati ia kembali duduk. Ia tak
ingin terjadi keributan jika ia berdebat dengan Alex. Viona hanya
mengaduk-aduk makanannya, olahan sayur yang membuatnya bosan dan lagi di
depannya ada makhluk menyebalkan yang menghilangkan nafsunya. Tapi..
Viona menelan ludahnya,
ia memperhatikan cara makan Alex yang lahap. Em.. kari itu sepertinya
enak. Viona tergiur nasi kari yang tinggal setengah. Viona yang termasuk
penyuka makanan pedas menatap kari di depannya seakan makanan itu
tengah memanggil-manggil namanya, mengundang untuk memakannya.
"Kau mau?" Alex membuyarkan pikiran Viona dan menyodorkan sesendok penuh nasi kari.
Viona buru-buru
menggelengkan kepalanya. Ia kembali ke makanan di nampannya, lalu mulai
memakannya. Namun baru suapan kedua sebuah tangan menarik lengannya
berdiri lalu menyeretnya ke arah lorong menuju tempat parkir. Ia sama
sekali tak melawannya, ia hanya .. sangat terkejut.
"Rei..?" ucap Viona
ketika ia sadar dari keterkejutannya. Seharusnya Rei masih ada di bogor
dan baru pulang esok hari. Rei menghentikan langkahnya namun masih
mencengkeram pergelangan tangan Viona dengan kuat. "kau sudah pulang?
Kenapa tak memberitahuku?"
Rei menarik nafas
kuat-kuat sambil menutup mata kemudian menghembuskannya perlahan. Ia
mengatur degup jantung yang hampir meledak. "jangan temui Alex lagi."
Ucapnya tepat setelah membuka mata.
Viona tak mengerti
maksud Rei, bukankah Alex temannya Rei. Meski kemarin di rumah sakit
terjadi perselisihan dan Rei sudah mendapatkan penjelasan dari Viona.
Viona melihat kesungguhan perkataan Rei di matanya. Ia bingung harus
bilang apa. Viona memang tak ingin menemui Alex, bahkan sejak awal
bertemu ia tak menyukai sikap pria itu. Tapi ia tak mungkin
melakukannya, kalau bukan gara-gara ancaman sialannya Alex Viona sudah
memenuhi pria itu.
"Ke..kenapa?" hanya pertanyaan itu yang bisa keluar dari mulut Viona.
"Karna dia bukan orang
yang baik!" Rei menggeram menahan segala emosi. "dan kenapa kau malah
ada disini? Bukankah kau harusnya istirahat di rumah?!" matanya yang
biru menampakkan kilatan amarah.
Viona menyentakan tangan
Rei yang mencengkeramnya. Ada yang salah dengan pria di depannya ini.
"Aku udah sehat Rei! Dan aku bukan anak kecil yang harus dikurung di
rumah terus! Aku punya pekerjaan yang menungguku. Soal Alex dan aku itu
bukan urusanmu. Bukankah.." perkataan Viona terpotong oleh aksi Rei yang
mendorongnya ke sudut tembok dan menciumnya dengan intens dan
panas,melebihi Alex...
.
TBC
.
TBC
Silahkan tinggalkan jejak... :)
0 Response to "Hopeless Part 35"
Post a Comment