Hopeless Part 35


.
"Hei Vi.. udah beneran sembuh ni?" sapa Gio di lift. Dia menenteng beberapa map berisi berkas, entah apa itu.
"Ya.. gwe bosan di rumah terus, nggak ngapa-ngapain. Rasanya malah tambah sakit kalau diem di rumah." Viona memutuskan setelah dua hari kemarin ia langsung akan masuk kantor. Dia sangat tidak sabar meneruskan pekerjaannya.
"Wah.. bu Viona udah sembuh ya?"
"Maaf ya bu kita-kita belon bisa nengokin kemaren."
"Bu Viona jangan capek-capek kalau udah isi.."
Celotehan terakhir dari karyawan lantai sembilan sedikit menghenyakkan Viona. Untung ia pernah ditanya sama Gio jadi nggak terlalu syok, mungkin sebentar lagi ia akan mendapat pertanyaan itu dari orang-orang di sekelilingnya, jadi Viona harus terbiasa. Dia hanya melempar senyum tipis pada anggota sembilan yang sudah berangkat, ia tak punya waktu menyapa semuanya. Viona tampak semangat bergegas ke ruang kerjanya.
Tepat di depan pintu ruangannya ia berpapasan dengan rama. Tentu saja! Dia sama sekali tak mengabari Gio bahwa dia akan masuk kerja hari ini. Jadi otomatis rama masih berada di lantai sembilan.
"Bu Viona?" rama yang asyik menatap monitor seketika mengalihkan perhatiannya pada Viona. "loh, ibu udah masuk."
"Iya Ram, nggak papa. Kamu bantuin Gio aja hari ini. Karna katanya dia mau nganterin istrinya cek kandungan." Gio telah berpesan saat di lift bahwa mungkin nanti setelah makan siang ia akan menemani Naya ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Naya.
"Baik bu.."
"Here we go.." gumam Viona sambil menarik daun pintu ruang kerjanya.
Padahal cuman empat hari dia tak kesini tapi ia sungguh merindukan ruangan ini. Bahkan saat dia pergi ke Bali selama seminggu ia tak serindu ini dengan ruangannya. Mungkin karena dulu itu liburan kali ya..
Viona menghidupkan personal computernya, menunggu beberapa saat untuk loading. Segera setelah log in ia memeriksa e-mailnya. E-mail yang masuk pada alamat yang khusus Viona gunakan untuk pekerjaan, sepertinya banyak e-mail yang masuk dan telah dibuka selama ia sakit. Semuanya ia periksa. Ada beberapa e-mail yang masuk dan belum dibuka.
Tok tok
"Ya, masuk."
"Vi, gwe cabut sekarang aja ya. Lagian masih ada rama tuh yang jadi sekretaris." Cuman kepala Gio yang muncul dari balik pintu.
"Seenaknya aja lo."
"Yaelah Vi.. kali ini doang.. demi keponakan lo deh." Gio memelas.
"Iya..iya.. kali ini doang lho."
"Ok! Thank's Vi.." Gio langsung kabur setelah mendapat ijin dari managernya.
Tok tok
"Apa lagi gi?" Viona agak kesal karena pagi-pagi terus diganggu. "Eh.. rama." Ternyata yang masuh adalah rama. "Ada apa ram?"
"Ini titipan dari pak Gio. Bahan buat presentasi sudah siap 100%. Ibu bisa bersiap untuk presentasinya." Rama meletakkan beberapa map yang tadi dibawa Gio. Setelah itu dia permisi pamit.
Viona kembali berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk. Belum lagi dia harus mempelajari bahan yang akan ia presentasikan. Tanggal mainnya tinggal beberapa hari lagi. Syukurnya semua bahan sudah beres dan tinggal dia saja yang harus bersiap.
Tak terasa, sudah empat jam Viona mantengin monitor serta berkas yang tadi diberikan oleh rama. Dan bel istirahat berbunyi nyaring, mengingatkan para pegawai untuk makan siang. Viona segera beranjak ke kantin bawah. Ia tak mau kenal omel Rei kalau tau ia telat makan. Itu juga demi Viona sendiri, dia harus dalam keadaan fit paling tidak sampai proyeknya selesai.
Viona menyapukan pandangannya ke seluruh bangku kantin. Semua pegawai sembilan kenalannya sudah berkumpul dan meja mereka sudah penuh. Biasanya dia makan dengan Gio, atau belakangan ini dengan Rei..
Dia lagi apa ya? Dua hari kemarin Rei selalu mengingatkanku untuk tak telat makan, tapi sepagi ini aku belum mendapat kabarnya. Batin Viona. Ia terpaksa duduk sendiri di meja dekat jendela.
"Boleh gabung?"
"Tentu.." Viona menyesal telah mengizinkan orang ini untuk duduk di depannya. "tidak." Tambahnya cepat-cepat.
Alex tersenyum melihat reaksi Viona.
"Apa yang kau lakukan disini?!"
"Makan siang." Jawabnya singkat lalu mulai memakan nasi kari yang ia bawa. Hujan sedang turun dengan derasnya, jadi banyak karyawan memilih menu yang bisa menghangatkan badan.
"Kenapa nggak di hotel lo aja, ngapain harus disini sih!" Viona tak bisa menyembunyikan rasa sebalnya.
"Sstt.. diem, gwe cuman mau makan." Alex melanjutkan makan siangnya lagi dengan lahap.
"Kurang kerjaan banget sih lo." Viona sudah tak nafsu makan lagi melihat Alex seenaknya dateng ke orion. Tak apa sih jika urusan kantor, tapi ini justru nimbrung makan bareng. Ia takut jika ada gosip yang tak mengenakan. Apa lagi dulu ia memang digosipkan dengan Alex gara-gara Yuni salah paham. Sekarangkan Viona sudah jadi istrinya Rei, anak big boss perusahaan. Kalau ada gosip miring tentangnya akan menurunkan image keluarga husain.
Viona mengangkat nampannya berniat untuk pindah meja sebelum ada yang memperhatikannya lebih lanjut. Namun Alex lebih segap menahan lengannya. "temani aku makan."
Viona menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dengan setengah hati ia kembali duduk. Ia tak ingin terjadi keributan jika ia berdebat dengan Alex. Viona hanya mengaduk-aduk makanannya, olahan sayur yang membuatnya bosan dan lagi di depannya ada makhluk menyebalkan yang menghilangkan nafsunya. Tapi..
Viona menelan ludahnya, ia memperhatikan cara makan Alex yang lahap. Em.. kari itu sepertinya enak. Viona tergiur nasi kari yang tinggal setengah. Viona yang termasuk penyuka makanan pedas menatap kari di depannya seakan makanan itu tengah memanggil-manggil namanya, mengundang untuk memakannya.
"Kau mau?" Alex membuyarkan pikiran Viona dan menyodorkan sesendok penuh nasi kari.
Viona buru-buru menggelengkan kepalanya. Ia kembali ke makanan di nampannya, lalu mulai memakannya. Namun baru suapan kedua sebuah tangan menarik lengannya berdiri lalu menyeretnya ke arah lorong menuju tempat parkir. Ia sama sekali tak melawannya, ia hanya .. sangat terkejut.
"Rei..?" ucap Viona ketika ia sadar dari keterkejutannya. Seharusnya Rei masih ada di bogor dan baru pulang esok hari. Rei menghentikan langkahnya namun masih mencengkeram pergelangan tangan Viona dengan kuat. "kau sudah pulang? Kenapa tak memberitahuku?"
Rei menarik nafas kuat-kuat sambil menutup mata kemudian menghembuskannya perlahan. Ia mengatur degup jantung yang hampir meledak. "jangan temui Alex lagi." Ucapnya tepat setelah membuka mata.
Viona tak mengerti maksud Rei, bukankah Alex temannya Rei. Meski kemarin di rumah sakit terjadi perselisihan dan Rei sudah mendapatkan penjelasan dari Viona. Viona melihat kesungguhan perkataan Rei di matanya. Ia bingung harus bilang apa. Viona memang tak ingin menemui Alex, bahkan sejak awal bertemu ia tak menyukai sikap pria itu. Tapi ia tak mungkin melakukannya, kalau bukan gara-gara ancaman sialannya Alex Viona sudah memenuhi pria itu.
"Ke..kenapa?" hanya pertanyaan itu yang bisa keluar dari mulut Viona.
"Karna dia bukan orang yang baik!" Rei menggeram menahan segala emosi. "dan kenapa kau malah ada disini? Bukankah kau harusnya istirahat di rumah?!" matanya yang biru menampakkan kilatan amarah.
Viona menyentakan tangan Rei yang mencengkeramnya. Ada yang salah dengan pria di depannya ini. "Aku udah sehat Rei! Dan aku bukan anak kecil yang harus dikurung di rumah terus! Aku punya pekerjaan yang menungguku. Soal Alex dan aku itu bukan urusanmu. Bukankah.." perkataan Viona terpotong oleh aksi Rei yang mendorongnya ke sudut tembok dan menciumnya dengan intens dan panas,melebihi Alex...
.
TBC
Silahkan tinggalkan jejak... :)

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 35"

Post a Comment