Cklek..
Suara kenop pintu yang
terbuka mengiringi Rei yang muncul dari balik pintu. Dia mempersilahkan
kami masuk, tapi aku tak ikut dan bermaksud turun ke bawah untuk
membuatkan mereka minuman. Di dapur aku menjumpai bibi ama yang hendak
membuatkan minum juga. Aku segera mencegahnya dan mengambil alih. Bibi
ama hanya mengangguk dan tersenyum teduh khas wanita baya tanda ia
mengerti.
Ada 3 gelas kosong
terbalik di atasnampan dan ada teko kecil yang penuh dengan teh hangat
serta sepiring cemilan yang terdiri dari beberapa jenis kue kering dan
biskuit yang kutemukan di tolpes-toples yang ada di rak dapur. Agak
susah sih membawa nampan yang penuh sesak sambil naik tangga. Tapi
akhirnya aku berhasil juga sampai atas. Belum sempat aku masuk, tak
sengaja aku menangkap pembicaraan Gio dan Rei.
"..Viona itu cantik
pinter lagi." Ucapan Gio bikin kupingku panas. Aku tak tersanjung atas
pujiannya, pujian itu malah seperti merendahkan aku dalam artian
tertentu.
"Iyalah pinter kalo ga
pinter ngapain jadi atasan lo." Canda Rei. Aku bersyukur Rei mencandai
ucapan Gio. Bukannya sudah kuperingatkan dia tentang masalah hubunganku
dengan laki-laki, taoi kenapa dia malah nekat begini.
Gio yang mendengar
candaan Rei malah terpingkal. "yah pokoknya dia itu langka banget deh.
Bukan hanya cantik taoi juga pekerja keras, dan ..." sederet pujian
berlebihan tentang diriku dengan bumbu-bumbu yang terlalu banyak
meluncur dari mulut Gio. Apa-apaan dia! Promosiin aku kayak gitu! Emang
aku ini barang dagangan yang gak laku apa!! Emang sih dia muji aku tapi
kesannya malah jadi gak banget, norak pokoknya! Pengen kubanting nih
nampan sama isi-isinya ke kepala Gio.
Ketika aku, keduanya langsung terdiam kaku dan memandangiku dengan was-was.
“Wah.. lo jadi calon
istri yang baik nih..” kalimat Gio seketika membuat urat-urat syarafku
menegang menahan amarah. Sekuat tenaga berusaha kukendalikan kontrol
emosiku yang hampir meledak karna terpicu provokasi Gio.
Setelah menaruh nampan
di nakas aku mendekati Gio. “sayang.. kok kamu gitu sih.. aku emang
calon istri yang baik buat kamu..” aku berkata manja sambil menarik
sedikit rambut kepala bagian belakang.
“Aa!! A... iya..iya.. ampun..” mohonnya.
Rei tertawa melihat
tingkah kami. Aku kembali bersyukur dia tak menanggap omongan Gio secara
serius. Selanjutnya kami bertiga berbincang cukup lama sampai hari
petang. Kebanyakan malah menginterView Gio soal persiapan pernikahannya
yang tinggal sebentar lagi.
“Mau bulan madu kemana lo?” celetuk Rei.
“Wah.. itu juga sih yang masih jadi masalah buat gwe sama Naya..”
“Emang kenapa?” tanyaku ingin tahu.
“Ah susah deh
jelasinnya.. aku sih pengennya yang deket-deket aja, kan banyak banget
tuh di indonesia tempat-tempat bagus selain di bali. Kayak raa ampat,
lombok dan kawan-kawannya. Tapi Naya pengennyake eropa. Duh kan mahal
ya, tapi bukan itu sih alasan aku menolaknya. Alasan gwe ga pengen ke
eropa itu..” Gio tampak segan melanjutkan kata-katanya. “begini.. eropa
kan jauh ya, ntar kelamaan di perjalanan kita malah capek dan ga bisa on
terus..” Rei nyengir kuda.
“Ah elo yang dipikirin itu mulu sih, turutin aja si Naya. Kapan lagi lo mau ke eropa.”
“Iya, jarang-jarang lo bakalan dapet libur panjang terus keliling eropa.” Aku mendukung pernyataan Rei.
“Lah kan kalo libur tinggal ijin sama manager tersayangku ini, beres kan?”
“Ijin sih ijin, tapi
kalo ijin terus lama-lama gwe pecat juga kali. Bdw kok gwe belum dapet
undangannya sih. Kan nikahan lo tinggal dua minggu lagi. Atau
jangan-jangan lo sengaja nggak ngundanggwe ke kawinan lo ya?” aku heran
mengapa Gio belum menyebar undangan padahal hari H bya tinggal sebentar
lagi. Atau angan-jangan memang cuman aku saja yang belum dapat
undangannya.
“La kemarin aja baru
jadi kok undangannya. Aku sama Naya ngambilnya juga baru kemaren sore
itu sekalian nyobain baju pengantinnya. Tenang aja Vi, lo pasti kebagian
kok, asal..”
“Asal apa?”
“Asal lo juga ngasih undangan nikah lo ke gwe.”
“Dasar sialan..” umpatku.
Tawa Rei dan Gio langsung meledak melihat reaksi candaan Gio yang berhasil membuatku mengumpat.
.
.
.
.
.
.
Dahiku berkerut ketika
melihat kalender serta catatan-catatan kecil memo di dalam ponselku.
Pernikahan giio tepat sehari setelah kepulanganku dari luar kota untuk
seminar. Uhh.. pasti capek sekali, batinku. Aku melayangkan pandanganku
pada langit-langit kamar yang bercat hijau muda. Kembali pikiranku
melayang pada jadwal dua minggu lagi. Ditambah cutiny Gio untuk berbulan
madu maka kerjaanku pasti berlipat-lipat. Dan lagi.. aku harus segera
menemukan tempat tinggal baru. Aku tak mungkin berada di sini, di rumah
Rei selamanya. Aku tau Rei sama sekali tak keberatan, tapi aku tak mau
mengambil kebaikan orang lain secara berlebihan. Bukannya apa-apa hanya
saja aku tak ingin berhutang budi terlalu banyak. Aku takut tak bisa
membalas semuanya.
Gio memang sebenarnya
sudah berjanji akan membantuku dalam sebulan ini untuk secepat mungkin
menemukan tempat yang cocok untuk kutinggali. Tapi sepertinya itu tak
mungkin, aku tahu Gio akan sibuk sekali dengan pernikahannya. Aku sudah
cukup bersyukur dia membantuku yang akhirnya aku bisa tinggal sementara
di rumah Rei. Tapi aku juga masih kesal dengan caranya itu.
Kulihat lagi kalender di
ponselku dan menambahkan pengingat. Akhir minggu ini aku akan
berkeliling mencari tempat yang cocok. Putusku.
.
.
.
.
.
.
Rei mengajakku untuk
pergi berbelanja akhir minggu ini, tapi aku menolaknua dengan alasan ada
urusan pribadi. Dia tak menanyakannya apapun urusaku itu. Itu yang
membuatku sedikit lega.
Aku telah membeli koran
harian sejak seminggu yang lalu dan telah dengan terperinci mencari
tempat tinggal ataupun kos yang dekat dengan kantor. Ada empat iklan
yang menarik perhatianku. Semua lokasinya berdekatan dan kurasa waktu
perjalanan menuju kantorku hanya akan memakan waktu paling lama 30 menit
atau 40 menit kalau macet. Aku segera meluncur ke lokasi dengan vw ku
untuk meninjaunya secara langsung.
Jalanan tampak sepi
karena ini hari minggu. Dan ini adalah kawasan perkantoran dan industri,
jadi tak banyak orang lalu lalang karna mereka menghabiskan akhir pekan
di tempat-tempat wisata dan hiburan.
Tempat pertama yang
kudatangi adalah rumah pribadi yang cukup besar yang dijadikannya tempat
kosd.Raung tamu dan dapur menjadi tempat bersama. Aku kurang suka
dengan konsep dapur yang dijadikan tempat umum. Akusukan memasak dan
sepertinya aku akan sangat terganggu dengan itu. Aku mau dapurku sendiri
walaupun itu kecil dan sederhana.
Kuputuskan untuk
meninjau tempat kedua. Yang ini lebih dekat lagi dengan kantorku. Tapi
belum sempat aku memeriksa. Aku melihat ada kertas pengumuman
bertuliskan tempat penuh. Ah apes nih. Padahan sepertinya tempatnya
cocok. Di iklan mengatakan bahwa ini rumah yang disewakan jadi semuanya
akan terjaga privasinya. Yah mungkin aku kalah cepat dengan yang
lainnya. Tak apalah, masih ada dua tempat lagi yang akan kuperiksa.
Semoga selanjutnya lebih baik dan aku lebih beruntung lagi.
Tempat ketiga aku
bernasib sama. Oh ya Tuhan!! Cepat sekali iklan-iklan itu tersebar dan
kenapa banyak orang juga yang menginginkan tempat tinggal. Ok, Gio
benar. Bisnis properti sepertinya sekarang ini sangat menjanjikan,
bahkan yang kecil-kecilan. Aku berlalu menuju tempat terakhir pukul
11.00. tempatnya seperti tempat kedua yang kukunjungi tadi. Aku merasa
was-was kalau-kalau ada pengumuman bertuliskan penuh lagi. Aku akan
putus asa.
Sepertinya yang
kukhawatirkan tidak terjadi. Dan mungkin ini adalah tempat yang
sempurna. Rumah berukuran 4x5m dengan kamar tidur, kamar mandi, dapur
dan ruang tamu mungil. Ah seprtinya ini lebih dari cukup. Dan harganya
cuman 750.000 perbulan! Oh.. terima kasih tuhan.. sepertinya semuanya
akan beres. Aku menemui sang pemilik dan menyetujui harganya. Aku
mengatakan bahwa akan pindah dalam waktu sekitar dua mingguan lagi. Tapi
aku akan membayar penuh untuk bulan ini.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 7"
Post a Comment