Hopeless Part 7

"Rei.. ada Gio nih!!" dengan pelan namun mantap kuktuk pintu kamar Rei. Aku takut kalau kejadian kayak pagi kemaren lusa terulang. Rei yang nggak tau aku masuk malah menodongkan pistol ke kepalaku. Dikiranya aku ini maling apa.
Cklek..
Suara kenop pintu yang terbuka mengiringi Rei yang muncul dari balik pintu. Dia mempersilahkan kami masuk, tapi aku tak ikut dan bermaksud turun ke bawah untuk membuatkan mereka minuman. Di dapur aku menjumpai bibi ama yang hendak membuatkan minum juga. Aku segera mencegahnya dan mengambil alih. Bibi ama hanya mengangguk dan tersenyum teduh khas wanita baya tanda ia mengerti.
Ada 3 gelas kosong terbalik di atasnampan dan ada teko kecil yang penuh dengan teh hangat serta sepiring cemilan yang terdiri dari beberapa jenis kue kering dan biskuit yang kutemukan di tolpes-toples yang ada di rak dapur. Agak susah sih membawa nampan yang penuh sesak sambil naik tangga. Tapi akhirnya aku berhasil juga sampai atas. Belum sempat aku masuk, tak sengaja aku menangkap pembicaraan Gio dan Rei.
"..Viona itu cantik pinter lagi." Ucapan Gio bikin kupingku panas. Aku tak tersanjung atas pujiannya, pujian itu malah seperti merendahkan aku dalam artian tertentu.
"Iyalah pinter kalo ga pinter ngapain jadi atasan lo." Canda Rei. Aku bersyukur Rei mencandai ucapan Gio. Bukannya sudah kuperingatkan dia tentang masalah hubunganku dengan laki-laki, taoi kenapa dia malah nekat begini.
Gio yang mendengar candaan Rei malah terpingkal. "yah pokoknya dia itu langka banget deh. Bukan hanya cantik taoi juga pekerja keras, dan ..." sederet pujian berlebihan tentang diriku dengan bumbu-bumbu yang terlalu banyak meluncur dari mulut Gio. Apa-apaan dia! Promosiin aku kayak gitu! Emang aku ini barang dagangan yang gak laku apa!! Emang sih dia muji aku tapi kesannya malah jadi gak banget, norak pokoknya! Pengen kubanting nih nampan  sama isi-isinya ke kepala Gio.
Ketika aku, keduanya langsung terdiam kaku dan memandangiku dengan was-was.
“Wah.. lo jadi calon istri yang baik nih..” kalimat Gio seketika membuat urat-urat syarafku menegang  menahan amarah. Sekuat tenaga berusaha kukendalikan kontrol emosiku yang hampir meledak karna terpicu provokasi Gio.
Setelah menaruh nampan di nakas aku mendekati Gio. “sayang.. kok kamu gitu sih.. aku emang calon istri yang baik buat kamu..” aku berkata manja sambil menarik sedikit rambut kepala bagian belakang.
“Aa!! A... iya..iya.. ampun..” mohonnya.
Rei tertawa melihat tingkah kami. Aku kembali bersyukur dia tak menanggap omongan Gio secara serius. Selanjutnya kami bertiga berbincang cukup lama sampai hari petang. Kebanyakan malah menginterView Gio soal persiapan pernikahannya yang tinggal sebentar lagi.
“Mau bulan madu kemana lo?” celetuk Rei.
“Wah.. itu juga sih yang masih jadi masalah buat gwe sama Naya..”
“Emang kenapa?” tanyaku ingin tahu.
“Ah susah deh jelasinnya.. aku sih pengennya yang deket-deket aja, kan banyak banget tuh di indonesia tempat-tempat bagus selain di bali. Kayak raa ampat, lombok dan kawan-kawannya. Tapi Naya pengennyake eropa. Duh kan mahal ya, tapi bukan itu sih alasan aku menolaknya. Alasan gwe ga pengen ke eropa itu..” Gio tampak segan melanjutkan kata-katanya. “begini.. eropa kan jauh ya, ntar kelamaan di perjalanan kita malah capek dan ga bisa on terus..” Rei nyengir kuda.
“Ah elo yang dipikirin itu mulu sih, turutin aja si Naya. Kapan  lagi lo mau ke eropa.”
“Iya, jarang-jarang lo bakalan dapet libur panjang terus keliling eropa.” Aku mendukung pernyataan Rei.
“Lah kan kalo libur tinggal ijin sama manager tersayangku ini, beres kan?”
“Ijin sih ijin, tapi kalo ijin terus lama-lama gwe pecat juga kali. Bdw kok gwe belum dapet undangannya sih. Kan nikahan lo tinggal dua minggu lagi. Atau jangan-jangan lo sengaja nggak ngundanggwe ke kawinan lo ya?” aku heran mengapa Gio belum menyebar undangan padahal hari H bya tinggal sebentar lagi. Atau angan-jangan memang cuman aku saja yang belum dapat undangannya.
“La kemarin aja baru jadi kok undangannya. Aku sama Naya ngambilnya juga baru kemaren sore itu sekalian nyobain baju pengantinnya. Tenang aja Vi, lo pasti kebagian kok, asal..”
“Asal apa?”
“Asal lo juga ngasih undangan nikah lo ke gwe.”
“Dasar sialan..” umpatku.
Tawa Rei dan Gio langsung meledak melihat reaksi candaan Gio yang berhasil membuatku mengumpat.
.
.
.
Dahiku berkerut ketika melihat kalender serta catatan-catatan kecil memo di dalam ponselku. Pernikahan giio tepat sehari setelah kepulanganku dari luar kota untuk seminar. Uhh.. pasti capek sekali, batinku. Aku melayangkan pandanganku pada langit-langit kamar yang bercat hijau muda. Kembali pikiranku melayang pada jadwal dua minggu lagi. Ditambah cutiny Gio untuk berbulan madu maka kerjaanku pasti berlipat-lipat. Dan lagi.. aku harus segera menemukan tempat tinggal baru. Aku tak mungkin berada di sini, di rumah Rei selamanya. Aku tau Rei sama sekali tak keberatan, tapi aku tak mau mengambil kebaikan orang lain secara berlebihan. Bukannya apa-apa hanya saja aku tak ingin berhutang budi terlalu banyak. Aku takut tak bisa membalas semuanya.
Gio memang sebenarnya sudah berjanji akan membantuku dalam sebulan ini untuk secepat mungkin menemukan tempat yang cocok untuk kutinggali. Tapi sepertinya itu tak mungkin, aku tahu Gio akan sibuk sekali dengan pernikahannya. Aku sudah cukup bersyukur dia membantuku yang akhirnya aku bisa tinggal sementara di rumah Rei. Tapi aku juga masih kesal dengan caranya itu.
Kulihat lagi kalender di ponselku dan menambahkan pengingat. Akhir minggu ini aku akan berkeliling mencari tempat yang cocok. Putusku.
.
.
.
Rei mengajakku untuk pergi berbelanja akhir minggu ini, tapi aku menolaknua dengan alasan ada urusan pribadi. Dia tak menanyakannya apapun urusaku itu. Itu yang membuatku sedikit lega.
Aku telah membeli koran harian sejak seminggu yang lalu dan telah dengan terperinci mencari tempat tinggal ataupun kos yang dekat dengan kantor. Ada empat iklan yang menarik perhatianku. Semua lokasinya berdekatan dan kurasa waktu perjalanan menuju kantorku hanya akan memakan waktu paling lama 30 menit atau 40 menit kalau macet. Aku segera meluncur ke lokasi dengan vw ku untuk meninjaunya secara langsung.
Jalanan tampak sepi karena ini hari minggu. Dan ini adalah kawasan perkantoran dan industri, jadi tak banyak orang lalu lalang karna mereka menghabiskan akhir pekan di tempat-tempat wisata dan hiburan.
Tempat pertama yang kudatangi adalah rumah pribadi yang cukup besar yang dijadikannya tempat kosd.Raung tamu dan dapur menjadi tempat bersama. Aku kurang suka dengan konsep dapur yang dijadikan tempat umum. Akusukan memasak dan sepertinya aku akan sangat terganggu dengan itu. Aku mau dapurku sendiri walaupun itu kecil dan sederhana.
Kuputuskan untuk meninjau tempat kedua. Yang ini lebih dekat lagi dengan kantorku. Tapi belum sempat aku memeriksa. Aku melihat ada kertas pengumuman bertuliskan tempat penuh. Ah apes nih. Padahan sepertinya tempatnya cocok. Di iklan mengatakan bahwa ini rumah yang disewakan jadi semuanya akan terjaga privasinya. Yah mungkin aku kalah cepat dengan yang lainnya. Tak apalah, masih ada dua tempat lagi yang akan kuperiksa. Semoga selanjutnya lebih baik dan aku lebih beruntung lagi.
Tempat ketiga aku bernasib sama. Oh ya Tuhan!! Cepat sekali iklan-iklan itu tersebar dan kenapa banyak orang juga yang menginginkan tempat tinggal. Ok, Gio benar. Bisnis properti sepertinya sekarang ini sangat menjanjikan, bahkan yang kecil-kecilan. Aku berlalu menuju tempat terakhir pukul 11.00. tempatnya seperti tempat kedua yang kukunjungi tadi. Aku merasa was-was kalau-kalau ada pengumuman bertuliskan penuh lagi. Aku akan putus asa.
Sepertinya yang kukhawatirkan tidak terjadi. Dan mungkin ini adalah tempat yang sempurna. Rumah berukuran 4x5m dengan kamar tidur, kamar mandi, dapur dan ruang tamu mungil. Ah seprtinya ini lebih dari cukup. Dan harganya cuman 750.000 perbulan! Oh.. terima kasih tuhan.. sepertinya semuanya akan beres. Aku menemui sang pemilik dan menyetujui harganya. Aku mengatakan bahwa akan pindah dalam waktu sekitar dua mingguan lagi. Tapi aku akan membayar penuh untuk bulan ini.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 7"

Post a Comment