Hopeless Part 24

Selama lima hari penuh aku dan Viona berkeliling bali. Menikmati keeksotisan pulau ini, terutama pantai-pantai dan wisata alam lainnya. Kami seperti lupa waktu dan ingin terus disini selamanya. Aku sangat bahagia bisa melihat Viona menikmati semua yang kuberikan, aku bahagia bisa terus bersamanya seperti ini, dan aku bahagia karna di istri syahku.
Aku sengaja membuat Viona kelelahan di siang hari. Agar malamnya dia langsung tertidur pulas, dan aku bisa mencuri kesempatan untuk sedikit mencumbuinya. Mencium bibir manisnya dan memeluknya ketika ia tidur pulas. Rasa-rasanya aku hampir tak kuat menahan dorongan gairah dalam tubuhku. Tapi aku sudah beranji untuk melakukannya saat Viona juga menginginkanku dan menerimaku.
Agar Viona tak curiga ketika pagi hari aku memeluknya, terkadang aku memposisikan tangannya ke pinggangku agar seolah-olah dialah yang memelukku dan saat terbangun Viona sering terkejut dan dengan hati-hati memindahkan tangannya agar tak membangunkanku. Dan berbisik meminta maaf “Sorry..”. Padahal aku sudah bangun lebih dulu dan akulah yang memeluknya.
Semuanya tampak sempurna, sangat sempurna malah. Tapi ada awan hitam yang masih terus menggantung di hatiku, sebuah ketakutan yang selalu menghantui. Akhir pernikahan ini. Aku terus mencari jalan keluar bagaimanapun caranya Viona harus menjadi milikku seutuhnya. Bisa dikatakan dia sudah berada setengah dalam jangkauanku, aku harus bisa segera merebut hati Viona sepenuhnya.
Memang kesempurnaan pada manusia itu selalu ada secuil yang cacat. Begitu pula kebersamaanku dan Viona di pulau dewata kali ini. Ada seseorang yang mengusiknya. Aku bertemu dengannya sewaktu di kafe terbuka. Aku punya firasat buruk tentang orang ini.
“Hai Rei..!!”
Aku sangat terkejut melihat dia ada disini.
“Alex?” dia menyeret kursi bergabung denganku dan Viona.
Aku sempat menangkap ekspresi tak suka dari wajah Viona akan kehadiran Alex. Sepertinya dia juga terganggu, haha.. padahal inikan bukan bulan madu beneran, tapi kenapa dia merasa terganggu?
“Wah.. lagi honey moon ya.. eh maaf, pas pernikahanmu aku nggak bisa dateng. Lagi banyak urusan..”
“Nggak papa,aku paling tahu kau orang paling sibuk banget ngurusin ini itu, terutama sejak pembukaan resor baru di daerah sini. Apa kau juga sedang ngurusin binsis yang disini?”
“Hmm..nggak juga. Lagi pengen liburan aja.. semuanya udah beres kok. By the way.. selamat ya, atas pernikahan kalian berdua..” Alex menyalamiku dan Viona. Kenapa dia jadi berbasa-basi seperti ini, bukankah dia tahu rencanaku sejak awal. Alex adalah teman minumku, aku sempat keceplosan soal semua rencanaku terhadap Viona.
“Sebagai ganti karna nggak bisa dateng ke nikahan kalian, aku akan mentraktir makan siang kalian hari ini.”
“Boleh-boleh saja..” semenjak kedatangan Alex tadi, Viona terus melemparkan pandangannya ke arah laut. Dia dengan tegas menyatakan ketidaksukaannya pada kehadiran Alex. “kau mau pesan apa Vio?”
“Eh..emm.. apa saja. Sama denganmu Rei..”
Begitu pula saat makan siang berlangsung. Tak sepatah katapun keluar dari mulut Viona.
“Aku akan ke kamar mandi sebentar..” Viona undur diri.
“Kulihat kau sangat memanjakannya Rei.”
“Tentu saja, bukankah begitu seharusnya?”
“Boleh kupinjam Viona sebentar setelah ini?” apa-apaan dia. Apa maksudnya Alex berkata seperti itu.
“Apa kau sedang menabuh genderang peperangan Alex?” aku langsung bertanya ke intinya. “kau ingin bersaing denganku sekali lagi ya? Apa kau tak punya selera pada gadis lain sehingga selalu mengikutiku?”
“Sebenarnya aku tak ingin kita berselisih lagi, tapi Viona begitu menggoda.. ah.. ataukah kita memang selalu punya selera yang sama?”
“Aku sudah mendapatkannya Alex. Jangan coba-coba kau mendekatinya..” ancamku. Aku tak main-main akan hal ini, akan kusingkirkan semua yang menghalangiku untuk mendapatkan Viona.
“Kau? Mendapatkannya? Hah.. bagaimana mungkin.. apa aku harus mengatakan sesuatu padanya tentang papamu? Tentang pernikahan konyol kalian?” dia balik mengancamku dengan kartu as yang dimilikinya. Kurang ajar.
Viona kembali tepat saat emosi kami benar-benar hampir meledak.
“Jadi.. Viona bisa ikut denganku sementara kau menyelesaikan urusanmu dengan papamu Rei..” Alex angkat bicara. Dan aku tahu kemana alurnya.
“Apa maksudnya?” Viona tak mengerti dan spertinya dia sangat memprotes hal itu.
“Maaf Viona. Papa tadi menghubungiku dan memintaku mengurusi beberapa hal. Aku akan kembali ke hotel, sementara itu kau bisa pergi dengan Alex. Setelah selesai, aku akan menjemputmu.”
“Tidak. Aku akan kembali ke hotel bersamamu..” Viona langsung memutuskan. Yah.. aku sangat bersyukur dia menolaknya.
“Jangan sia-siain liburan seperti ini hanya dengan berdiam diri di hotel.. lagian jalan-jalan bersamaku aman kok. Kan sekarang banyak cctv yang mengawasi...” Alex mencoba membujuk Viona. Shit.. ingin sekali kulenyapkan dia sekarang juga.
Viona memandangnya tajam dan sengit. Aku yakin dia akan menolaknya.
“Baik.. tapi hanya sampai sore nanti..”
Apa? Tak kusangka dia menerimanya juga. Meski begitu wajahnya masih kecut.
.
.
.
Apa aku ini lagi ada di dunia paralel ya?? Masak ada sih suami sendiri nyuruh istrinya pergi sama pria lain saat mereka bulan madu. Tanpa mengingat ini pernikahan aspal. Tapi kan kata Rei harus sesempurna mungkin agar nggak ada orang lain yang curiga. Tapi kenapa begini. Dan makhluk astral satu itu juga, kenapa dia tiba-tiba nongol lagi sih..
Saat ke kamar mandi barusan aku menghubungi Gio. Mencoba mengorek informasi tentang Alexander curtiz. Kenapa dia bisa mengenal Rei begitu dekat, maksudku kok kayaknya akrab banget gitu sih. Gio hanya tahu soal persahabatan lama mereka, katanya mereka sudah bersahabat sejak kecil namun saat remaja ada perselisihan diantara mereka. Entah apa itu kata Gio dia juga kurang tahu, tapi mereka kembali berbaikan meski sekarang tak sedekat dulu lagi.
Gio sempat curiga mengapa aku menanyakan tentang Alex padanya. Aku berdalih karna tiba-tiba kami tanpa sengaja bertemu di bali, dan aku ingin tahu saja. Karna aku kira Gio juga mengenal Alex secara dekat.
“Kau lihat kan? Suamimu saja setuju dengan hubungan kita..” celoteh Alex.
“Dia lagi sibuk, lagian kalau lo nggak ngancem gwe pake bilang cctv segala. Ogah deh jalan ama lo!”
Alex terkekeh. Dia melajukan mobil sport jenis convertible nya dengan kecepatan tinggi. “jangan ambil pusing. Kita akan bersenang-senang hari ini. Kau mau kemana?”
“Terserah lah..”
“Baiklah, kau yang minta..” sialan.. seharusnya aku meminta pergi ke tempat terbuka. Aku lupa berhadapan dengan siapa..
.
.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 24"

Post a Comment