Selama lima hari penuh
aku dan Viona berkeliling bali. Menikmati keeksotisan pulau ini,
terutama pantai-pantai dan wisata alam lainnya. Kami seperti lupa waktu
dan ingin terus disini selamanya. Aku sangat bahagia bisa melihat Viona
menikmati semua yang kuberikan, aku bahagia bisa terus bersamanya
seperti ini, dan aku bahagia karna di istri syahku.
Aku sengaja membuat
Viona kelelahan di siang hari. Agar malamnya dia langsung tertidur
pulas, dan aku bisa mencuri kesempatan untuk sedikit mencumbuinya.
Mencium bibir manisnya dan memeluknya ketika ia tidur pulas.
Rasa-rasanya aku hampir tak kuat menahan dorongan gairah dalam tubuhku.
Tapi aku sudah beranji untuk melakukannya saat Viona juga menginginkanku
dan menerimaku.
Agar Viona tak curiga
ketika pagi hari aku memeluknya, terkadang aku memposisikan tangannya ke
pinggangku agar seolah-olah dialah yang memelukku dan saat terbangun
Viona sering terkejut dan dengan hati-hati memindahkan tangannya agar
tak membangunkanku. Dan berbisik meminta maaf “Sorry..”. Padahal aku
sudah bangun lebih dulu dan akulah yang memeluknya.
Semuanya tampak
sempurna, sangat sempurna malah. Tapi ada awan hitam yang masih terus
menggantung di hatiku, sebuah ketakutan yang selalu menghantui. Akhir
pernikahan ini. Aku terus mencari jalan keluar bagaimanapun caranya
Viona harus menjadi milikku seutuhnya. Bisa dikatakan dia sudah berada
setengah dalam jangkauanku, aku harus bisa segera merebut hati Viona
sepenuhnya.
Memang kesempurnaan pada
manusia itu selalu ada secuil yang cacat. Begitu pula kebersamaanku dan
Viona di pulau dewata kali ini. Ada seseorang yang mengusiknya. Aku
bertemu dengannya sewaktu di kafe terbuka. Aku punya firasat buruk
tentang orang ini.
“Hai Rei..!!”
Aku sangat terkejut melihat dia ada disini.
“Alex?” dia menyeret kursi bergabung denganku dan Viona.
Aku sempat menangkap
ekspresi tak suka dari wajah Viona akan kehadiran Alex. Sepertinya dia
juga terganggu, haha.. padahal inikan bukan bulan madu beneran, tapi
kenapa dia merasa terganggu?
“Wah.. lagi honey moon ya.. eh maaf, pas pernikahanmu aku nggak bisa dateng. Lagi banyak urusan..”
“Nggak papa,aku paling
tahu kau orang paling sibuk banget ngurusin ini itu, terutama sejak
pembukaan resor baru di daerah sini. Apa kau juga sedang ngurusin binsis
yang disini?”
“Hmm..nggak juga. Lagi
pengen liburan aja.. semuanya udah beres kok. By the way.. selamat ya,
atas pernikahan kalian berdua..” Alex menyalamiku dan Viona. Kenapa dia
jadi berbasa-basi seperti ini, bukankah dia tahu rencanaku sejak awal.
Alex adalah teman minumku, aku sempat keceplosan soal semua rencanaku
terhadap Viona.
“Sebagai ganti karna nggak bisa dateng ke nikahan kalian, aku akan mentraktir makan siang kalian hari ini.”
“Boleh-boleh saja..”
semenjak kedatangan Alex tadi, Viona terus melemparkan pandangannya ke
arah laut. Dia dengan tegas menyatakan ketidaksukaannya pada kehadiran
Alex. “kau mau pesan apa Vio?”
“Eh..emm.. apa saja. Sama denganmu Rei..”
Begitu pula saat makan siang berlangsung. Tak sepatah katapun keluar dari mulut Viona.
“Aku akan ke kamar mandi sebentar..” Viona undur diri.
“Kulihat kau sangat memanjakannya Rei.”
“Tentu saja, bukankah begitu seharusnya?”
“Boleh kupinjam Viona sebentar setelah ini?” apa-apaan dia. Apa maksudnya Alex berkata seperti itu.
“Apa kau sedang menabuh
genderang peperangan Alex?” aku langsung bertanya ke intinya. “kau ingin
bersaing denganku sekali lagi ya? Apa kau tak punya selera pada gadis
lain sehingga selalu mengikutiku?”
“Sebenarnya aku tak
ingin kita berselisih lagi, tapi Viona begitu menggoda.. ah.. ataukah
kita memang selalu punya selera yang sama?”
“Aku sudah
mendapatkannya Alex. Jangan coba-coba kau mendekatinya..” ancamku. Aku
tak main-main akan hal ini, akan kusingkirkan semua yang menghalangiku
untuk mendapatkan Viona.
“Kau? Mendapatkannya?
Hah.. bagaimana mungkin.. apa aku harus mengatakan sesuatu padanya
tentang papamu? Tentang pernikahan konyol kalian?” dia balik mengancamku
dengan kartu as yang dimilikinya. Kurang ajar.
Viona kembali tepat saat emosi kami benar-benar hampir meledak.
“Jadi.. Viona bisa ikut
denganku sementara kau menyelesaikan urusanmu dengan papamu Rei..” Alex
angkat bicara. Dan aku tahu kemana alurnya.
“Apa maksudnya?” Viona tak mengerti dan spertinya dia sangat memprotes hal itu.
“Maaf Viona. Papa tadi
menghubungiku dan memintaku mengurusi beberapa hal. Aku akan kembali ke
hotel, sementara itu kau bisa pergi dengan Alex. Setelah selesai, aku
akan menjemputmu.”
“Tidak. Aku akan kembali ke hotel bersamamu..” Viona langsung memutuskan. Yah.. aku sangat bersyukur dia menolaknya.
“Jangan sia-siain
liburan seperti ini hanya dengan berdiam diri di hotel.. lagian
jalan-jalan bersamaku aman kok. Kan sekarang banyak cctv yang
mengawasi...” Alex mencoba membujuk Viona. Shit.. ingin sekali
kulenyapkan dia sekarang juga.
Viona memandangnya tajam dan sengit. Aku yakin dia akan menolaknya.
“Baik.. tapi hanya sampai sore nanti..”
Apa? Tak kusangka dia menerimanya juga. Meski begitu wajahnya masih kecut.
.
.
.
.
.
Apa aku ini lagi ada di
dunia paralel ya?? Masak ada sih suami sendiri nyuruh istrinya pergi
sama pria lain saat mereka bulan madu. Tanpa mengingat ini pernikahan
aspal. Tapi kan kata Rei harus sesempurna mungkin agar nggak ada orang
lain yang curiga. Tapi kenapa begini. Dan makhluk astral satu itu juga,
kenapa dia tiba-tiba nongol lagi sih..
Saat ke kamar mandi
barusan aku menghubungi Gio. Mencoba mengorek informasi tentang
Alexander curtiz. Kenapa dia bisa mengenal Rei begitu dekat, maksudku
kok kayaknya akrab banget gitu sih. Gio hanya tahu soal persahabatan
lama mereka, katanya mereka sudah bersahabat sejak kecil namun saat
remaja ada perselisihan diantara mereka. Entah apa itu kata Gio dia juga
kurang tahu, tapi mereka kembali berbaikan meski sekarang tak sedekat
dulu lagi.
Gio sempat curiga
mengapa aku menanyakan tentang Alex padanya. Aku berdalih karna
tiba-tiba kami tanpa sengaja bertemu di bali, dan aku ingin tahu saja.
Karna aku kira Gio juga mengenal Alex secara dekat.
“Kau lihat kan? Suamimu saja setuju dengan hubungan kita..” celoteh Alex.
“Dia lagi sibuk, lagian kalau lo nggak ngancem gwe pake bilang cctv segala. Ogah deh jalan ama lo!”
Alex terkekeh. Dia
melajukan mobil sport jenis convertible nya dengan kecepatan tinggi.
“jangan ambil pusing. Kita akan bersenang-senang hari ini. Kau mau
kemana?”
“Terserah lah..”
“Baiklah, kau yang minta..” sialan.. seharusnya aku meminta pergi ke tempat terbuka. Aku lupa berhadapan dengan siapa..
.
.
.
.
.
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 24"
Post a Comment