Hopeless Part 16

"Kenapa tidak memberi tahu kami kalau kalian akan datang? Kalian pasti akan mendapat sambutan hangat dari kami jika memberitahu terlebih dulu."
"That's why we didn't tell your hotel Mr. Curtiz. Kami tak ingin sambutan itu, kami hanya ingin mengetahui kualiras hotel ini pada hari-hari biasa, dan pada tamu-tamu biasa juga." Alex menungguiku yang sedang yang mengambil gambar bagian-bagian kamar suite. Yuni mana sih, kok belum nongol. But wait.. aku belum ngasih tau dia kalo tempatnya pindah ke lantai 11. Aku segera mengambil ponsel dan mencari nomor kontak Yuni.
"Kenapa?" Alex menyadari ketidakberesan padaku.
"Eh.. tadi aku lupa ngasih tahu asistenku kalau tempatnya pindah ke sini."
"Jadi nggak ada yang tahu kamu di sini ya.."
Entah auranya kenapa jadi tiba-tiba aneh ya. "memamg ke..kenapa?"
Alex mendekat ke arahku secara perlahan. Gerakan tangan Alex yang terlalu cepat dan sangat tiba-tiba membuatku tak bisa mencegahnya mengambil ponsel yang ada dalam genggamanku.
"Hey!" teriaku marah sekaligus kaget.
"Sepertinya kita tidak memerlukan itu untuk beberapa jam kemudian." Aku memandangnya sengit dan dia membalasnya dengan seyuman liciknya. Dasar setan!!!
Pintu kamar merupakan sasaran utamaku. Namun rupanya Alex mengerti arah pandanganku. Dia menarik lenganku, menyeretku ke arah ranjang. Aku reflek memukulkan kameraku ke kepalanya berkali-kali "Lepaskan aku! Lepas!" kamera yang kubawa adalah kamera dslr milik kantor, aku reka deh disuruh ganti kalo kamera itu rusak buat nggetok kepalanya Alex. Tapi kayaknya getokanku itu nggak mempan deh. Dia malah semakin mencengkeram lenganku membuat permukaan kulitku seperti mau terkelupas di balik cardigan hijau tua yang kupakai.
Alex dengan kasar membantingku ke bed. Memang bednya empuk dan lembut terlebih ini kamar mewah, tapi diperlakukan seperti itu siapa sih yang tak sakit, sakit hati maksudnya. Kamera yang kupegang entah terlempar kemana. Mungkin ke lantai karna aku dengan jelas mendengar bunyi barang jatuh.
"Tak ada yang bisa menolakku. Termasuk juga kau nona Viona!!"
Suaranya sangat berat dan berkabut, ada kengerian di hatiku mendengar kata-katanya.
Aku beringsut ke kepala ranjang "Kau mau apa.."
"Hahaha.. kau tak perlu bertanya lagi kan. Kau sungguh polos sekali..."
"Jangan main-main! Aku akan segera menikah dengan Rei!"
"Hah..itu tak mungkin sayang. Rei pasti memberitahuku jika dia akan menikah. Kalaupun benar kau akan menikah dengannya.. aku boleh kan mencicipimu lebih dulu?"
Badjingan...
"Akan kubunuh kau.." aku mengambil vas bunga yang ada di meja kecil dekat ranjang.
Jangan remehkan wanita yang sedang marah. Kadang kekuatannya melebihi sepuluh orang pria sekaligus. Dan target wanita marah itu sekarang adalah Mr. Alexander curtiz.
Tangan kananku yang mengenggengam vas terayun ke kepalanya. Dengan kekuatan penuh kayak tendangan tsubasa :v . tapi dasar apes, Alex lebih gesit, aku nggak mau ngalah juga tapi. Kakiku berusaha menendangnya, membabi buta, dan dewi fortuna belum juga memihakku sepertinya. Alex berhasil menindih kedua kakiku, bahkan merebut vas yang kujadikan senjata satu-satunya.
Kini aku terbaring tak berdaya di bawah kuasa Alex. "Kau terlalu bersamangat Viona, dan aku menyukainya.." aku menghindari tatapan matanya. Dia sangat dekat hingga bisa kurasakan deru nafasnya, juga bau parfum yang maskulin dari tubuhnya.
Lalu ada sesuatu yang aneh, ada sesuatu yang menetes di pipiku. Dan bau anyir menusuk hidungku seketika itu juga.
"Alex..!!!"
"ALEX...KAU..."
.
.
.
Aku menyentuh rambutnya, rasanya basah, lengket dan ...
Merah pekat..
"Alex!! Kau terluka.."tanganku gemetar memegangi kepalanya yang berdarah. "Alex.." aku sangat panik dan bangun mendorongnya. Secara perlahan. Alex juga tak melawanku. Aku menyambar telpon di nakas dan menekan tombol cepat ke pelayanan hotel.
Begitu telpon tersambung, dengan amat panik aku memberi perintah pada seorang yang ada di sebrang telpon. "Situasi..situasi darurat, ada yang terluka. Mohon panggilkan am.." bulan... Alex merebut gagangtelpon yang masih tertempel di telingaku. "Alex.." darahnya semakin terlihat banyak mengalir melalui pelipisnya, turun ke pipi dan dagunya lalu menetes ke lantai. "Alex...hiks.." aku mulai terisak. Aku memang tak bisa melihat orang terluka, terlebih yang berdarah-darah seperti ini. Dari dulu aku akan panik dan berakhir dengan tangisan histeris jika aku melihat ada kecelakaan atau ada yang terluka. Dan itu diperparah dengan kecelakaan yang merenggut nyawa ibuku. Kecelakaan itu terjadi tepat di depan mataku. Ketika kami sekeluarga, aku, ayah dan ibu, pergi berlibur ke sebuah tempat wisata. Waktu itu sebelum memasuki kawasan wisata kami harus parkir di seberang jalan karna tempat parkir kawasan wisata itu sudah penuh. Jalan raya yang kami sebrangi sangat ramai dan entah kenapa sepertinya semua pengguna tak ingin mengalah dan beburu cepat. Ada sebuah sepeda motor melaju dengan kencang menyerempet ibuku, mendorongnya ke tengah jalan dimana ada mobil melaju dan menghempas keras tubuh ibuku. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri saat itu, hari indah nan manis berubah menjadi petaka hidupku. Aku hanya bisa menjerit memanggil ibuku sekali melihatnya bersimbah darah lalu aku tersedot dalam lingkaran hitam.
"Kau terluka..hiks.."
.
.
.
Kenapa gadis ini? Kenapa dia berubah pucat dan panik setelah melihatku terluka. Padahal bukankah dia sendiri yang membuatku begini dengan kamera sialannya itu?
"Apa yang harus kita lakukan??" Viona berkata dengan panik dan mengobrak-abrik isi tasnya. Mengambil beberapa barang dan kembali padaku yang masih duduk tenang di pinggir bed. "tekan lukanya, kita ke rumah sakit sekarang." Dengan kaku dan kesusahan dia berusaha memapahku berdiri. Meski agak susah karna aku terlampau tinggi baginya.
Chewy gum. Aroma tubuhnya begitu segar dan manis. Aku bisa menghirupnya dengan leluasa karna dia begitu dekat denganku. Sambil tertatih memapahku menuju pintu lift. Dengan memburu dia menekan tombol di samping pintu lift.
"Ayoolah..." suaranya tercekat menahan kesal karna pintu lift tak kunjung terbuka dan panik dengan keadaanku. Sebenernya aku nggak terlalu kenapa-napa, yeah walau kepalaku agak sakit juga.
Pintu lift terbuka dan kami segera masuk, ada seorang bapak-bapak yang terkejut melihat keadaanku. "loh mbak suaminya kenapa?"
"Bapak bisa bantu kami?" sepertinya Viona mengacuhkan pertanyaan si bapak dan meminta tolong padanya. Dengan sigap pria setengah baya itu membantu Viona memapahku, hmm..sepertinya dia tamu disini.
Tak berapa lami kami tiba di basemen parkiran. Viona dan bapak-bapak tadi membawaku ke sebuah mobil vw kuning yang tampak mungil, seperti pemiliknya kurasa. Hhmm..aku belum punya yang kayak gini, aku harus punya satu nanti.
Sementara sibuk mengemudi, Viona terus menyuruhku untuk menekan luka di kepalaku kuat-kuat. Aku takut. Bukan karna lukaku, tapi cara mengemudinya yang dalam keadaan panik bisa saja membunuh kami. Mobil mininya melaju ugal-ugalan di tengah lalu lintas yang terbilang padat.
Aku menghela napas lega ketika melihat tanda salib merah sudah di depan mata. Akhirnya, kami selamat dari kebut-kebutan gadis gila ini. Viona kembali memapahku dengan tertatih menuju UGD. Dua orang perawat langsung menyambutku dan membaringkanku di ranjang berspRei biru muda khas rumah sakit. Bau obat langsung memenuhi indra penciumanku. Aku mendengar seorang perawat meminta Viona menunggu di luar.
Sekitar setengah jam dokter memeriksa, menjahit dan menambal luka di kepalaku. Katanya tidak begitu parah, dan akan segera sembuh. Agak kecewa mendengarnya. Sebenarnya aku punya rencana kecil dengan insiden ini.
"Dokter, bisakah saya meminta bantuan anda?" aku bangun dari ranjang dan duduk di pinggirnya.
"Ya? Bagaimana?" tanya sang dokter sambil lalu membereskan peralatannya.
"Saya ingin memberi kejutan pada kekasih saya, dan saya butuh bantuan anda."
"Oh..gadis yang ada di luar itu ya? Dia sangat pucat dan panik dengan keadaanmu sampai berkali-kali menanyakan pada perawat yang jaga di luar. Bantuan seperti apa yang anda maksudkan?"
Aku menjelaskan rencanaku dan untung dokter itu mau membantuku. Sebentar lagi gadis itu akan menuruti semua kemauanku.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 16"

Post a Comment