"Kenapa tidak memberi
tahu kami kalau kalian akan datang? Kalian pasti akan mendapat sambutan
hangat dari kami jika memberitahu terlebih dulu."
"That's why we didn't
tell your hotel Mr. Curtiz. Kami tak ingin sambutan itu, kami hanya
ingin mengetahui kualiras hotel ini pada hari-hari biasa, dan pada
tamu-tamu biasa juga." Alex menungguiku yang sedang yang mengambil
gambar bagian-bagian kamar suite. Yuni mana sih, kok belum nongol. But
wait.. aku belum ngasih tau dia kalo tempatnya pindah ke lantai 11. Aku
segera mengambil ponsel dan mencari nomor kontak Yuni.
"Kenapa?" Alex menyadari ketidakberesan padaku.
"Eh.. tadi aku lupa ngasih tahu asistenku kalau tempatnya pindah ke sini."
"Jadi nggak ada yang tahu kamu di sini ya.."
Entah auranya kenapa jadi tiba-tiba aneh ya. "memamg ke..kenapa?"
Alex mendekat ke arahku
secara perlahan. Gerakan tangan Alex yang terlalu cepat dan sangat
tiba-tiba membuatku tak bisa mencegahnya mengambil ponsel yang ada dalam
genggamanku.
"Hey!" teriaku marah sekaligus kaget.
"Sepertinya kita tidak
memerlukan itu untuk beberapa jam kemudian." Aku memandangnya sengit dan
dia membalasnya dengan seyuman liciknya. Dasar setan!!!
Pintu kamar merupakan
sasaran utamaku. Namun rupanya Alex mengerti arah pandanganku. Dia
menarik lenganku, menyeretku ke arah ranjang. Aku reflek memukulkan
kameraku ke kepalanya berkali-kali "Lepaskan aku! Lepas!" kamera yang
kubawa adalah kamera dslr milik kantor, aku reka deh disuruh ganti kalo
kamera itu rusak buat nggetok kepalanya Alex. Tapi kayaknya getokanku
itu nggak mempan deh. Dia malah semakin mencengkeram lenganku membuat
permukaan kulitku seperti mau terkelupas di balik cardigan hijau tua
yang kupakai.
Alex dengan kasar
membantingku ke bed. Memang bednya empuk dan lembut terlebih ini kamar
mewah, tapi diperlakukan seperti itu siapa sih yang tak sakit, sakit
hati maksudnya. Kamera yang kupegang entah terlempar kemana. Mungkin ke
lantai karna aku dengan jelas mendengar bunyi barang jatuh.
"Tak ada yang bisa menolakku. Termasuk juga kau nona Viona!!"
Suaranya sangat berat dan berkabut, ada kengerian di hatiku mendengar kata-katanya.
Aku beringsut ke kepala ranjang "Kau mau apa.."
"Hahaha.. kau tak perlu bertanya lagi kan. Kau sungguh polos sekali..."
"Jangan main-main! Aku akan segera menikah dengan Rei!"
"Hah..itu tak mungkin
sayang. Rei pasti memberitahuku jika dia akan menikah. Kalaupun benar
kau akan menikah dengannya.. aku boleh kan mencicipimu lebih dulu?"
Badjingan...
"Akan kubunuh kau.." aku mengambil vas bunga yang ada di meja kecil dekat ranjang.
Jangan remehkan wanita
yang sedang marah. Kadang kekuatannya melebihi sepuluh orang pria
sekaligus. Dan target wanita marah itu sekarang adalah Mr. Alexander
curtiz.
Tangan kananku yang
mengenggengam vas terayun ke kepalanya. Dengan kekuatan penuh kayak
tendangan tsubasa :v . tapi dasar apes, Alex lebih gesit, aku nggak mau
ngalah juga tapi. Kakiku berusaha menendangnya, membabi buta, dan dewi
fortuna belum juga memihakku sepertinya. Alex berhasil menindih kedua
kakiku, bahkan merebut vas yang kujadikan senjata satu-satunya.
Kini aku terbaring tak
berdaya di bawah kuasa Alex. "Kau terlalu bersamangat Viona, dan aku
menyukainya.." aku menghindari tatapan matanya. Dia sangat dekat hingga
bisa kurasakan deru nafasnya, juga bau parfum yang maskulin dari
tubuhnya.
Lalu ada sesuatu yang aneh, ada sesuatu yang menetes di pipiku. Dan bau anyir menusuk hidungku seketika itu juga.
"Alex..!!!"
"ALEX...KAU..."
.
.
.
.
.
.
Aku menyentuh rambutnya, rasanya basah, lengket dan ...
Merah pekat..
"Alex!! Kau
terluka.."tanganku gemetar memegangi kepalanya yang berdarah. "Alex.."
aku sangat panik dan bangun mendorongnya. Secara perlahan. Alex juga tak
melawanku. Aku menyambar telpon di nakas dan menekan tombol cepat ke
pelayanan hotel.
Begitu telpon
tersambung, dengan amat panik aku memberi perintah pada seorang yang ada
di sebrang telpon. "Situasi..situasi darurat, ada yang terluka. Mohon
panggilkan am.." bulan... Alex merebut gagangtelpon yang masih tertempel
di telingaku. "Alex.." darahnya semakin terlihat banyak mengalir
melalui pelipisnya, turun ke pipi dan dagunya lalu menetes ke lantai.
"Alex...hiks.." aku mulai terisak. Aku memang tak bisa melihat orang
terluka, terlebih yang berdarah-darah seperti ini. Dari dulu aku akan
panik dan berakhir dengan tangisan histeris jika aku melihat ada
kecelakaan atau ada yang terluka. Dan itu diperparah dengan kecelakaan
yang merenggut nyawa ibuku. Kecelakaan itu terjadi tepat di depan
mataku. Ketika kami sekeluarga, aku, ayah dan ibu, pergi berlibur ke
sebuah tempat wisata. Waktu itu sebelum memasuki kawasan wisata kami
harus parkir di seberang jalan karna tempat parkir kawasan wisata itu
sudah penuh. Jalan raya yang kami sebrangi sangat ramai dan entah kenapa
sepertinya semua pengguna tak ingin mengalah dan beburu cepat. Ada
sebuah sepeda motor melaju dengan kencang menyerempet ibuku,
mendorongnya ke tengah jalan dimana ada mobil melaju dan menghempas
keras tubuh ibuku. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri saat
itu, hari indah nan manis berubah menjadi petaka hidupku. Aku hanya
bisa menjerit memanggil ibuku sekali melihatnya bersimbah darah lalu aku
tersedot dalam lingkaran hitam.
"Kau terluka..hiks.."
.
.
.
.
.
.
Kenapa gadis ini? Kenapa
dia berubah pucat dan panik setelah melihatku terluka. Padahal bukankah
dia sendiri yang membuatku begini dengan kamera sialannya itu?
"Apa yang harus kita
lakukan??" Viona berkata dengan panik dan mengobrak-abrik isi tasnya.
Mengambil beberapa barang dan kembali padaku yang masih duduk tenang di
pinggir bed. "tekan lukanya, kita ke rumah sakit sekarang." Dengan kaku
dan kesusahan dia berusaha memapahku berdiri. Meski agak susah karna aku
terlampau tinggi baginya.
Chewy gum. Aroma
tubuhnya begitu segar dan manis. Aku bisa menghirupnya dengan leluasa
karna dia begitu dekat denganku. Sambil tertatih memapahku menuju pintu
lift. Dengan memburu dia menekan tombol di samping pintu lift.
"Ayoolah..." suaranya
tercekat menahan kesal karna pintu lift tak kunjung terbuka dan panik
dengan keadaanku. Sebenernya aku nggak terlalu kenapa-napa, yeah walau
kepalaku agak sakit juga.
Pintu lift terbuka dan kami segera masuk, ada seorang bapak-bapak yang terkejut melihat keadaanku. "loh mbak suaminya kenapa?"
"Bapak bisa bantu kami?"
sepertinya Viona mengacuhkan pertanyaan si bapak dan meminta tolong
padanya. Dengan sigap pria setengah baya itu membantu Viona memapahku,
hmm..sepertinya dia tamu disini.
Tak berapa lami kami
tiba di basemen parkiran. Viona dan bapak-bapak tadi membawaku ke sebuah
mobil vw kuning yang tampak mungil, seperti pemiliknya kurasa.
Hhmm..aku belum punya yang kayak gini, aku harus punya satu nanti.
Sementara sibuk
mengemudi, Viona terus menyuruhku untuk menekan luka di kepalaku
kuat-kuat. Aku takut. Bukan karna lukaku, tapi cara mengemudinya yang
dalam keadaan panik bisa saja membunuh kami. Mobil mininya melaju
ugal-ugalan di tengah lalu lintas yang terbilang padat.
Aku menghela napas lega
ketika melihat tanda salib merah sudah di depan mata. Akhirnya, kami
selamat dari kebut-kebutan gadis gila ini. Viona kembali memapahku
dengan tertatih menuju UGD. Dua orang perawat langsung menyambutku dan
membaringkanku di ranjang berspRei biru muda khas rumah sakit. Bau obat
langsung memenuhi indra penciumanku. Aku mendengar seorang perawat
meminta Viona menunggu di luar.
Sekitar setengah jam
dokter memeriksa, menjahit dan menambal luka di kepalaku. Katanya tidak
begitu parah, dan akan segera sembuh. Agak kecewa mendengarnya.
Sebenarnya aku punya rencana kecil dengan insiden ini.
"Dokter, bisakah saya meminta bantuan anda?" aku bangun dari ranjang dan duduk di pinggirnya.
"Ya? Bagaimana?" tanya sang dokter sambil lalu membereskan peralatannya.
"Saya ingin memberi kejutan pada kekasih saya, dan saya butuh bantuan anda."
"Oh..gadis yang ada di
luar itu ya? Dia sangat pucat dan panik dengan keadaanmu sampai
berkali-kali menanyakan pada perawat yang jaga di luar. Bantuan seperti
apa yang anda maksudkan?"
Aku menjelaskan rencanaku dan untung dokter itu mau membantuku. Sebentar lagi gadis itu akan menuruti semua kemauanku.
.
TBC
TBC
0 Response to "Hopeless Part 16"
Post a Comment