Hopeless Part 45

Dua minggu setelah perayaan keberhasilanku dalam proyek, Naya mendapatkan nasi goreng ala chef Farah Quinn nya. Bukan hanya itu, seminggu sebelumnya Gio berhasil membawa Naya ke Malang. Hanya untuk makan bakwan malang, habis itu langsung pulang. Bahkan mereka sama sekali tak mmenginap disana. Beberapa hari ini kabar ngidamnya Naya tak terlalu mengkhawatirkan, tapi masih membuat Gio was was. Siapa tau kalau tiba-tiba dia ingin dibuatkan seribu candi dalam semalem, bisa gawat..
Hubunganku dengan Rei lancar-lancar saja, semakin kesini banyak kemajuan. Sedikit demi sedikit tembok pertahanan dalam hatiku mulai terkikis, belum sepenuhnya sih, tapi udah lapuk dan bisa jebol kapan aja. Dan aku tak mempermasalahkannya, ini tak seburuk yang kupikir. Kami masih dalam tahap saling mengenal satu sama lain. Minat, hobi, semua kesukaan atau ketidaksukaan kami, pendidikan, mantan, nah ini Rei agak susah ngoreknya, serta hal-hal sepele lainnya. Ada saja yang kami bicarakan saat berangkat kerja atau pulangnya. Dia sering menggangguku di dapur, mencuri ciuman atau sekedar bergelayut, membuat ruang gerakku terhalangi. Kadang aku mengacungkan pisau padanya, tapi Rei sama sekali tak takut. Baru setelah aku mengambil ancang-ancang untuk melemparnya dia akan mundur teratur dan duduk manis menungguku memasak.
Kami mulai terbiasa beraktifitas bersama, dari mulai olahraga di pagi hari, menghabiskan akhir pekan dengan pergi ke suatu tempat wisata atau berkunjung ke orang tua Rei. Awalnya Rei ikut bangun pagi dan lari keliling komplek bersamaku, kalau cuacanya mendukung kami berenang beberapa kali putaran di kolam belakang rumah. Rei juga pernah mengajakku ke gym yang sering dikunjunginya. Hmm.. sekarang aku tau dari mana ia mendapatkan badan yang bagus, perutnya emang nggak terlalu kotak-kotak tapi cukup keras dan berotot. Menurutku sih.. aku kan belum pernah menyentuhnya (ngarep), tapi kadang suka kerasa kalau dia sedang memelukku..
Seperti yang kubilang, kami menghabiskan akhir pekan di luar rumah. Entah pergi ke taman bermain, pantai atau kemana saja. Kadang karna cuaca tak mendukung, kami pergi nonton atau berbelanja sesuatu. Selalu ada saja yang dilakukan di mall, walau hanya sekedar mencuci mata. Lebih seringnya kalau hujan kami nonton di bioskop, dan selalu berakhir dengan perdebatan kecil kami. Selera kami terhadap film hampir bisa dibilang sama, tapi untuk tokoh, alur cerita dan yang lainnya pasti kami punya perspektif yang beda. Tapi itu tak bisa memungkiri bahwa kami berdua sebenarnya menyukai film tersebut. Kami menghabiskan waktu kami dengan kualitas yang cukup baik. Mengunjungi rumah kedua orang tua Rei, sekedar mengadakan pesta kebun dan acara panggang memanggang daging-dagingan atau sekedar berbincang di ruang keluarga (masih dengan acara makan sesuatu).
Beberapa kali dalam seminggu kami makan malam di luar. Rei selalu memilih tempat dan makanannya, dan selalu saja tempat yang mewah serta makanan yang namanya sulit dieja. Tapi tidak kali ini, aku yang akan memilih semuanya. Aku teringat janjiku pada Rei sewaktu kami di Bali bahwa aku akan mentraktirnya di tempat makanan favoritku. Sebenernya sih aku hampir lupa sama janji itu, tapi berhubung aku dah lama nggak ke tempat makan itu aku jadi keinget.
"Pakai ini." Aku memilihkan pakaian untuk Rei. Kaos putih berleher V yang tak terlalu rendah, celana khaki gelap, jaket kulit serta sneakers. Biasanya dia yang memilihkanku pakaian, bahkan kadang sebelum makan kami mampir ke butik untuk membelikanku gaun baru, pemborosan yang sangat tak diperlukan.
"Kita mau kemana sih?" dia memandang heran pada pakaian yang kusiapkan.
"Ada deh. Pokonya asyk kok, makanannya enak-enak." Aku ingin memberikan kejutan padanya. Biasanya dia juga gitu kok, nggak pernah kasih tau mau makan dimana. Selalu rumah makan yang beda tiap keluar, dengan makanan-makanan yang berbelit namanya, mungkin lidahku akan kecetit kalau mencoba mengucapkannya.
Aku sendiri memakai jeans tiga perempat dan sweater, memakai sepatu kets yang senada dengan yang kupilihkan untuk Rei. Tanpa bertanya lagi ia masuk kamar mandi dan berganti pakaian.
Kami menggunakan bentley malam ini karna aku yang menyetir. VW ku sudah kembali sih.. tapi Rei memaksaku untuk tetap menggunakan mobil ini. Dan pada akhirnya aku selalu kalah kalau berusaha menolak keinginan Rei untuk memberikanku sesuatu.
"Hampir sampai." Ujarku ketika melihat puluhan tenda berwarna putih yang berdiri berjajar rapi di atas sebidang tanah lapang.
Rei mengikuti arah pandangku. "What is that? Night market?"
Aku hanya tersenyum. Kembali menatap lurus jalanan yang ada depan. Tempat yang kutuju, kami tuju, adalah sejenis pasar malam tapi khusus mejual makanan saja. Ada ratusan jenis makanan yang dijual, makanan khas indonesia dari berbagai provinsi dari sabang sampai merauke kayaknya ada semua disini. Bukan makanan berat saja, jajanan juga tersedia disini. Acara seperti ini diadakan sebulan sekali selama seminggu di minggu terakhirnya. Sudah beberapa bulan lalu aku tak mengunjungi tempat ini, dulu aku sering berburu makanan-makanan yang belum pernah kucoba. Tak sekalipun aku membeli makanan yang sama tiap aku kemari, selalu saja ada yang menarik perhatian tiap aku datang.
"Kau mau makan apa Rei? Semua makanan Indonesia ada disini, akan kutraktir kau sampai puas." Bakso, soto, sate. Makanan itu banyak variannya disini, bakso sapi, bakso isi telur, bakso setan, bakso mercon, Soto Betawi, Padang, Medan, Lamongan, Banjar, Kudus, Madura, Makasar, Bandung, sate Madura, sate lilit, sate Padang, sate rusuk, sate usus, sate telur puyuh, sate klatak. Itu baru dari tiga jenis makanan, belum yang lain. Ini surganya makanan deh, lebih hebat dari pulau makanan di film cloudy with a chance of meatball.
"Ayo." Aku menegurnya yang masih diam tak bergerak di dalam mobil. Ia beranjak keluar mobil dengan kaku. Kenapa dia? Apa nggak suka tempat kayak gini? Tapi bisa kupastikan dia akan suka dengan makanan. Hanya orang dengan lidah mati rasa jika tak suka makanan disini.
Aku menggamit dan menyeret tangan Rei agar berjalan lebih cepat. Sudah tak sabar rasanya mencicipi jenis makanan baru yang ada disini. Aroma dari berbagai masakan menguar menjadi satu dengan udara, menggelitik perut para pengunjung untuk meronta minta diisi.
"Kau tak suka tempat ini ya..?" aku memperhatikan wajah Rei yang datar-datar saja dari tadi, bahkan ia tak berkomentar apapun sejak tadi.
"Eh?" ia menoleh padaku dan tersenyum. "Hanya terlalu ramai saja sayang." Oh.. kukira dia tak suka tempat murah seperti ini, atau takut dengan makanan yang tak higienis atau apa.
"Kalau begitu kita bungkus saja dan makan di rumah, bagaimana?"
Masih dengan senyum manisnya Rei mengangguk setuju. Aku segera mengambil sebuah brosur berisi denah tenda dan makanan tempat ini. "Kau mau apa?" aku memberikan salah satu brosur pada Rei.
"Rekomendasimu?"
"Aku belum pernah membeli makanan yang sama dua kali disini. Terlalu banyak untuk dicoba."
"Hmm.." dahi Rei berkerut melihat brosur di tangannya. "Pernah beli sate iga?"
"Belum."
"Kalau begitu kita coba yang itu." Putus Rei.
Kamipun segera menuju tenda yang menjual makanan itu dengan bantuan denah dalam brosur. Sate rusuk itu ada di pojok jadi kami harus berjalanan menyebrang lapangan. Rei menggenggam tanganku sangat erat, sepertinya ia sangat tak suka keramaian.
"Itu belalang?"
Aku menoleh pada arah pandangan Rei. "Iya, itu dari Gunung Kidul kalau tak salah, daerah Jogja." Sebuah tenda menyediakan olahan belalang, ada yang hanya di goreng seperti kacang dan ada yang dijadikan masakan. Aku jadi ingat si MC nomor satu Running Man Yoo Jae Suk, grasshoper.
"Emang bisa dimakan?"
"Bisalah Rei, semua makanan disini sudah ada ijinnya kok. Tenang aja, kau mau coba?"
"No, thank's" jawabnya cepat.
Aku tertawa geli. Kami tiba di tempat yang kami tuju dan langsung memesan seporsi sate iga, bisa dibilang itu lebih mirip iga bakar sih. Rei meminta pendapatku makanan apa lagi yang harus kami beli. Dalam sekejap, berbungkus-bungkus makanan telah kami tenteng. Sepertinya Rei mulai rileks dengan tempat ini, wajahnya tak sekaku tadi.
"Beli apa lagi?" tanya Rei seraya memandangi brosurnya.
"Aku pengen moci." Ungkapku. Kebetulan saja aku melihatnya dan kepengen. Beberapa bungkus moci dengan berbagai rasa sudah berpindah ke tangan kami.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Rumah? Aku sempat menaikkan sebelah alisku sebelum mengkode Rei bahwa aku harus mencari tempat sepi untuk menerima panggilan. Tak biasanya ayah menghubungiku. Apa terjadi sesuatu padanya.
"Hallo?"
"Viona?" Shit.. kukira ayah, ternyata nenek sihir itu. Aku berjalan ke belakang tenda supaya tak ada yang mendengar percakapan kami, siapa tau aku tiba-tiba mengumpat atau berteriak. Menghadapinya sering membuat emosiku labil, labilisasi ekono.. eh labilisasi emosi.
"Ada apa?" tanyaku datar.
"Kau ada waktu besok?" Hah? Kenapa sih dia akhir-akhir ini sering ingin menemuiku?
"Kalau kau mau membicarakan sesuatu, sampaikan sekarang." Aku langsung menegaskan bahwa aku tak ingin menemuinya. Ia orang terakhir di bumi ini yang ingin kujumpai.
"Ini tak bisa dibicarakan lewat telephone. Tentang ayahmu." Ada apa lagi dengan ayah? Apa dia sakit lagi?
"Lusa siang." Putusku. Besok aku sudah punya rencana dengan Rei untuk menghabiskan quality time kami di pantai, ah.. bilang saja kencan.
"Baik." Segera kuputus sambungan, tak mau lama-lama mendengar wanita sialan itu. Bisa infeksi ntar telingaku.
Aku hendak berbalik dan kembali menemui Rei saat sesuatu yang keras tanpa sengaja kutubruk.
"Uh.. maaf." Ucapku pada orang yang telah kutubruk. Aku berjalan menyamping tapi orang itu menghalangiku.
"Tak perlu buru-buru nona.." aku memperhatikan wajah orang yang kutabrak dan langsung mengumpat dalam hati.
Sial..
.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 45"

Post a Comment