Hopeless Part 4

“Aku manggil Gio juga buat gabung makan makan malam sama kita bareng-bareng.” Ujar Rei saat menyambangiku yang tengah mempersiapkan makan malam di dapur. Pikiranku masih kemana-mana gara-gara kejadian tadi petang. Sialan Yuni. Aku telah memberikan ‘daging segar’ padanya. Dan sejak tadi Rei menggunakan aku-kamu atau aku-kau saat berbicara denganku. Ah terserah dialah, aku ngikut aja. Masak iya aku dengan tidak sopannya menggunakan lo-gwe kalau dia pakai bahasa yang lebih halus.
“Itu lebih bagus.” Balasku. Makan malam masih dalam proses pembuatan. Seperti biasa aku menyiapkan tiga menu. Soup kental dengan irisan daging menjadi menu pembuka yang menggugah selera. Menu utamanya adalah ikan salmon panggang dengan sambal khusus. Bahan sambalnya bukan hanya cabe dan tomat, aku menggunakan blimbing wulung, daun mint, paprika, merica dan air lemon agar terasa lebih segar. And the last, penutupnya aku bikinin, emm.. entah apa nama menu yang kubuat ini. Es krim yang kucampur dengan bery-beryan dan taburan buah kering.
“Wah! Bu manager bisa masak ya?” Jariku hampir ikut teriris saat mencacah buah kering karna kaget  mendengar suara nyaring Gio. “Masak apa nih Vi?”
“Salmon panggang. Tolong bawa ke meja makan.” Kusuruh Gio membawa makanan yang telah siap ke meja makan sementara aku menyelesaikan menu terakhir.
“Bawa ke ruang tengah aja Gi.” Saran Rei.
Yak. Semua udah siap. Dan telah dihidangkan di rung tengah.
Kursi kayu dengan meja yang cukup luas meghadap ke sebuah layar tv flat yang entah berapa inch. Mungkin 42 inch. Cukup besar. Kursinya nyaman karna ada bantalan sofa yang melapisinya. Ruang keluarga ini sangat nyaman dan asri dengan nuansa hijau dan cokelatnya.
Kami menyantap makan malam sambil mendengarkan lagu-lagu hitz 90an yang diputar Rei. Ada Celin Dion, Britney Spears, Phil Collin, Whitney Houston, Tony Braxton dan entah siapa lagi menyanyikan suara emas mereka melalui perangkat audio modern milik Rei. Kami menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk menyantap makan malam. Kemudian kami bersantai sambil nonton film action dari dvd yang tadi Rei beli dan menghabiskan menu penutup yang kubuat.
“Gak nyangka bu manager bisa masak, langka lho cewek jaman sekarang bisa masak.” Gio membuka obrolan kami sementara mulutnya masih penuh dengan es krim. “Tapi gwe kok nggak pernah tau sih kalau lo bisa masak kek gini ya.”
“Iya nih, kalau boleh jadi koki di rumahku aja selamanya. Aku bisa gemukan makan enak tiap hari” Timpal Rei.
“Berani membayarku brapa?” candaku.
“Yah.. gak usah dibayarin aja tuh, jadiin istri aja kan gratis tiap hari makan enak.”
“Jangan asal ngebacot.” Satu pukulan bantal mendarat di kepala Gio.
“Haha..dia rupanya galak sekali.”
“Lo belom tau kan kalau dia lagi di kantor kayak apa.” Tambah Gio.
“Jangan mulai deh.” Kuperingatkan Gio, tak lupa dengan tatapan seribu pisau dariku.
“Wii.. dia mah suka keliling sambil bawa penggaris dan gak segan-segan mukul pegawainya yang bermasalah. Trus kalau lagi rapat dan ada yang asyik sama gadget atau gak memperhatikan saat dia lagi ngomong pasti ada aja tuh benda yang melayang. Kayak guru killer yang nyebelin.” Jelas Gio panjang lebar. Bagus Gio, kau mendapat nilai 100 dalam pelajaran Bahasa Indonesia, dan kau juga akan mendapat 100 cambukan dariku.
“Jadi gwe nyebelin nih, kalo lo males lo  bisa resign kok mulai besok.” Kataku sengit.
“Tuh kan.. tuh kan.. mulai deh galaknya.”
“Ya bagus dong, kalau cewek kuat pasti gak bakalan ada yang brani ngebantah atau nyakitin.”
Cewek kuat? Batasan apa yang bisa menjadikan aku sebagai cewek kuat. Yah aku memang harus kuat apapun yang terjadi. Aku hanya seorang perempuan yang tak memiliki siapapun. Bahkan keluargaku mengusirku, kalau aku nggak jadi cewek kuat harus bertahan dengan apa aku. Aku bersumpah akan membalas wanita brengsek yang telah menghancur leburkan aku dan keluargaku.
“Kenapa kau diam Vio?” Rei yang mendapatiku melamun menegurku.
“Ah.. nggak papa kok. Aku dah ngantuk. Kalian terusin aja nontonnya. Aku tidur dulu.” Aku beranjak menuju kamar.
“Dia kenapa? Apa aku salah ngomong ya..” sayup-sayup kudengar keluhan Gio. Juga penyesalannya.
.
.
.
Setelah lima hari tinggal di rumah Rei. Aku sudah mulai terbiasa dengan suasananya dan mengikuti iramanya. Bangun pagi dan memasak dengan bibi ama. Bibi ama bersikeras untuk membantuku memasak, aku sih gak papa karna lebih cepat selesai malah. Tapi tetep aku yang menentukan jenis menu dan bahannya. Akupun sekarang bisa berolahraga ringan sebelum memasak dengan joging memutari blok perumahan kanoman. Setelah joging dan memasak, aku selalu sarapan dengan Rei lalu bersiap diri untuk kerja. Semua berjalan seperti yang kuinginkan.
Tapi ada insiden kecil pagi ini…
Udah hampir jam setengah tujuh dan Rei belum turun. Sarapan sudah siap sejak seperempat jam yang lalu. Apa dia sakit atau kenapa. Aku berinisiatif membangunkannya. Aku agak ragu, sopankah ini. Tapi lebih gak sopan lagi kalau aku makan lebih dulu. Aku menaiki tangga menuju kamar Rei. Kemarin waktu aku datang dia bilang kamarnya ada di pintu pojok kanan dan dia juga bilang kalau butuh apa-apa ke kamarnya saja kan. Berarti itu undangan terbuka.
Kugedor pelan pintu kamarnya. Tak ada respon. Lebih keras lagi. Tak ada jawaban juga.
“Rei kau baik-baik saja?” aku bertanya dari balik pintu. Sepi. Aku harus masuk.
“Rei aku masuk..”
Kamarnya masih remang-remang karna gorden yang masih tertutup. Tapi aku masih bisa melihat wajah Rei yang masih terlelap dalam mimpi. Apa dia begadang sampai-sampai telat bangung kayak gini.
“Rei..Rei.. bangun udah hampir jam setengah tujuh nih..” kuguncang badannya sedikit. Dia hanya merengek dan membalikkan badan. Kusentuh dahinya.
“Ya tuhan..” gumamku. Panas sekali tubuhnya.
“Kau sakit Rei? Aku akan mengambilkan kompres untuk..” belum sempat kuselesaikan kalimatku, sebuah gerakan secepat kilat menghantamku. Menjatuhkanku ke lantai dan mengunci gerakanku.
Trek..
Mulut pistol teracung tepat ke kepalaku. Satu gerakan kecil dan isi kepalaku bertebaran.
“Rei!!”  aku ingin berteriak tapi suaraku terhambat karna cekikan sebuah lengan yang kokoh. “Rei.. ini aku…” lengan itu milikk Rei
“Vi…Vio..” suara Rei terasa berat di telinga. Dia sepertinya benar-benar sedang sakit. Tapi.. kenapa dia… jemari tangan kiri Rei mengendur dari leherku dan pistolnya di lempar menjauh. Paru-paruku yang mendapat udara bebas segera menghirup kuat-kuat. “Kau… ah.. maafkan aku.” Rei membantuku berdiri, tubuhkku agak gemetar gara-gara insiden barusan. Dia mendudukkanku di tepi ranjang. “Aku.. aku..” Rei tergagap. “Nggak biasa dibangunin, dan .. dan.. oh.. maafkan aku..” bukan hanya aku saja yang shock. Kulihat Rei juga sedikit gemetar. Tubuhnya yang telanjang dada dan hanya memakai boxer membuat wajahku bersemu, semoga dia tak melihatnya.
“Akan kuambilkan kompres untukmu.” Aku bangkit berdiri dan ingin sesegera mungkin keluar dari kamar Rei.
“Nggak usah, aku akan segera turun dan kita akan segera berangkat ke kantor.”
“Tapi.. badanmu panas banget Rei, kau sakit.”
“Aku nggak papa, hanya sedikit demam. Kau turunlah dulu nanti aku nyusul. Nggak bakalan lama kok”
“Ba..baiklah, aku menunggumu. Tapi kau harus sarapan dulu.”
“Sure..”
Aku turun ke dapur tapi badanku masih agak gemetaran. Kuteguk segelas penuh air putih untuk menenangkan diriku. Otakku masih mencerna kejadian barusan. Kenapa Rei nyimpen senjata di kamarnya. Satu gerakan kecil dari jari telunjuk Rei tadi bisa saja membunuhku. Dan dia half naked. Ah sialan. Kayaknya bayangan rei yang setengah telanjang bakal menggentayangiku untuk beberapa hari ke depan. Nggak nyangka juga, selain good looking dia juga punya tubuh yang oke. Otot-otot di lengan dan perutnya sungguh mengundang. Uh.. apa sih! Kenapa pikiranku ngelantur kemana-mana.
Sambil menunggu Rei turun aku memutuskan untuk bersiap diri lebih dulu. Saat aku kembali ke dapur, kudapati Rei telah memakai baju kemeja dan tengah menyuapkan nasi kariku ke dalam mulutnya dengan malas-malasan. Nasi kari, tentu bukan menu yang tepat untuknya saat ini. Aku tak sempat buat bubur tadi.
“Kau sudah selesai Vi?” ada lingkar kehitaman di sekitar matanya, dan kantung mata tebal juga menggantung di bawah matanya.
“Ya..”
“Kita berangkat sekarang saja.” Ada banyak sisa di piring Rei. Dia hanya menghabiskan sepertiga sarapannya.
“Biar aku aja yang nyetir.”
Rei mengangguk lemah.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 4"

Post a Comment