Hopeless Part 47

.
.
Aku dan Rei berbaring di kursi malas menikmati udara pantai yang khas dengan bau lautnya. Setelah seharian menghabiskan waktu dengan berbasah-basah ria. Snorkling, berkeliling pulau dengan speed boat, dan berakhir dengan makan sea food sederhana. Dan disinilah kami, berbaring menunggu matahari terbenam dengan kaca mata hitam nangkring di atas hidung. Jangan berpikir macam-macam kalau kalian pikir aku memakai bikini atau semacamnya. Hell to the NO! Under wear kayak gitu kok dipake di luar. Kaos oblong putih dengan gambar bibir tergigit warna merah darah. Bitchy and sexy. Rei sempat protes saat aku pakai hotpants sewarna dengan gambar bibir pada kaos yang kupakai. Nggak papa kan sekali-kali aku pakai yang menantang kayak gini, lagian juga pantainya cukup sepi. Fedora dan sneaker menyempurnakan penampilanku.
Rei? Jangan tanya. Dia mau pake sarung doang juga tetep ganteng. Telanjangpun kayaknya ganteng juga.. eh.. nggak tau ding! Dia pakai kaos oblong sepertiku hanya putih polos, celana kargo pendek warna hitam, bucket hat hitam, serta sneaker.
Oh ya, tadi kubilang berkeliling pulau kan? yeap, kami bukan cuman pergi ke pantai, tapi pergi ke pulau sebrang dengan yacht yang disewanya dari Lariana Cruise. Fiuh.. keren deh tuh kapal. Sebenarnya aku tak terlalu mengerti perbedaan antara yacht, kapal motor, atau yang seperti i itu. Bentuknya kan hampir sama.
"Boleh bertanya?"
"Apa?" tanya Rei lebih seperti gumaman. Ia sangat menikmati matahari yang semakin turun ke peraduan.
"Tapi bisakah kau janji tidak akan marah dan mau menjawabku?"
"Kau mau tanya apa sih?" Rei melepas kaca mata pilotnya dan berbaring miring menghadapku.
"Janji?" aku menatapnya dari balik kaca mata hitamku.
"Em.. dengan satu syarat." Rei menyeringai, jenis senyum yang tak kusuka.
"Apa?"
Jari telunjuknya mengkomandoku untuk mendekat. Ia membisikkan sesuatu. Aku sempat marah mendengar syaratnya, tapi kemudian aku tersenyum menemukan bohlam lampu yang menyala terang di atas kepalaku.
Cup.
Kecupan singkat di pipi Rei.
"Itu kau sebut ciuman?"
"Kau tadi minta aku menciummu kan? kau kan tak bilang dimana aku harus menciummu. Salah sendiri." Elakku.
"Ya sudah kalau begitu." Rei kembali berbaring santai lalu memejamkan matanya. Sial.
Kedua tanganku menumpu di samping pundaknya. Mata Rei sedikit mengernyit, mengkin karna aku menghalangi cahaya mataharinya. Sebelum ia sempat membuka mata, aku menyergap mulutnya.
Basah dan dalam. Tapi hanya dua detik. Haha..
"Nah Mr. Husain, sekarang waktunya saya berta.."
Shit! Kini dia membalasku. Ia menarik tengkukku dan langsung melumat bibirku. Dengan senang hati aku membalasnya. Saling mengulum dan menjelajahi satu sama lain. Lidahnya menggelitik gigi-gigiku sebelum menautkannya dengan lidahku, saling membelai hingga nafas kami hampir habis.
Aku melepas ciumannya dan terengah-engah mencari udara. Rei tersenyum puas dan berkata, "Akan dengan senang hati hamba menjawab semua pertanyaan ratu apabila imbalannya seperti barusan."
Aku dan Rei sudah terbiasa make out begini, tapi untuk yang lebih lanjut kami belum bisa. Aku sih yang belum siap. Meski kami sudah sah jadi pasangan, bahkan di hadapan agama dan hukum, dan perasaan Rei juga tak perlu diragukan lagi. Namun aku tak mau buru-buru. Biar seperti ini dulu.
Wajah mesumnya kuusap dengan kasar lalu segera beranjak darinya dan duduk menyamping di bangkuku sambil menghadap Rei. "Kenapa semalam kau bertindak seperti itu?"
Bisa kurasakan tubuh Rei menegang, bukan hanya wajahnya saja. Sial. Dengan cepat suasana berubah jadi tegang. "Aku hanya tak ingin kau terluka.."
Aku tau maksud baiknya, tapi yang kutanyakan itu kenapa ia bertindak terlalu jauh. Huh! Susah deh gini ngoreknya. "Kenapa sampai seperti itu Rei? Kau hampir membunuhnya."
Rei menghela nafas panjang. Badannya yang terbaring menghadap matahari tenggelam tampak sedikit merileks. Ok, harusnya dia mau buka mulut. "Dulu aku punya kekasih.." Double shit!! Kenapa malah bicarain mantan sih! "Kenapa kau wajahmu? Kau cemburu?"
Sial. Sial. Sial. "Nggak."
"Halah, bilang aja. Wajahmu itu ada stempel gede bertulis 'JEALOUS'!" Rei nyengir kuda.
"Udah deh, nggak usah ngalihin pembicaraan." Justru aku yang ingin kembali ke topik awal.
"Aku nggak ngalihin. Baru mau cerita tadi, eh mukamu jadi jutek. Kukira kau tak mau kulanjutkan."
"Udah cepet! Nggak usah basa basi! Basi tau nggak sih lo!"
Rei tertawa keras melihat 'kecemburuanku'. Huh! Jangan mimpi aku cemburu. Setelah menormalkan tawanya Rei mulai bercerita lagi. Kini dia kembali agak tegang, namun sudah tak seperti awal tadi. "Seperti kubilang, dulu aku punya kekasih. Kami saling mencintai." Aku memutar mata, oh ayolah.. apa dia harus cerita dari situ, sampai mendetail gitu! "Kau mau diterusin nggak? Kok bibirmu manyun gitu."
"Terusin!" aku melotot ke arahnya, meski dia tak kan tau karna aku pakai kaca mata hitam.
"Namanya Selena. Dia orang yang sederhana dan manis, itu yang membuatku jatuh hati padanya." Hell you Raihan!!! Apa sih hubungan cerita mantannya sama pertanyaan yang kuberikan. "Suatu malam kami berkencan, kami berjalan di taman menikmati udara malam." Erghh.. kalau aku nggak penasaran sama alasan kenapa Rei kalap tadi malam, aku pasti sudah membungkam mulutnya yang terus ngumbar kenangan manis bareng MANTANNYA. "Tiba-tiba ada tiga orang preman yang mencegat kami. Mereka hendak merampas uang dan barang berharga. Selena sangat ketakutan, aku memberikan semua yang mereka minta agar segera lepas dari para preman itu. Tapi setelah itu mereka masih mengincar Selena." Rahang Rei terkatup dengan kencang, kupikir dia masih marah dengan ingatan itu. Sekarang aku mengerti arah pembicaraannya. "Salah satu preman itu mengancam dan mengeluarkan senjata. Selena semakin panik dan aku tambah berang. Aku tak takut melawan mereka, aku hanya takut kehilangan Selena." Jantungku terpacu lebih kuat. Rei takut kehilangan Selena? Lalu.. "Aku yang marah tanpa pikir panjang lagi menerjang preman yang memegang pistol. Berniat merebut senjata itu darinya, namun naas. Senjata itu meletus dan mengenai Selena." Tidak! Sepertinya aku tau bagaimana akhir cerita ini. Aku sungguh menyesal memaksa Rei bercerita. "Selena tak bisa diselamatkan malam itu. Meski begitu, para preman berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Wakt itu rasanya aku ingin menghabisi mereka dengan tanganku sendiri, penjara tak cocok untuk orang-orang seperti mereka." Rei mengakhiri kisahnya dengan senyum kecutnya.
"Jadi itu sebabnya kau selalu membawa senjata kemanapun kau pergi?"
Rei tertawa kecil mendengar pertanyaanku. "Tidak kemanapun sayang. Hanya ke tempat-tempat tertentu. Kemarilah.." Rei menggeser tubuhnya dan memintaku berbaring di sampingnya.
"Jadi kau hanya membawa ke tempat seperti tadi malam? Bagaimana kau tau aku akan mengajakmu ke tempat seperti itu, padahal aku tak memberitahumu." Aku berbaring di samping Rei, memberikan pelukan kepadanya. Aku tau dia sulit untuk membeberkan kenangan buruk itu padaku.
"Insting saja. Dan benarkan?"
"Ya, tapi kau bisa mengalahkannya tanpa senjata. Kau punya ijin menggunakan revolver itu?"
"Tentu saja. Sejak malam itu, aku mulai berlatih menggunakan senjata serta menambah latihan bela diriku. Aku tak mau kehilangan orang yang kusayang lagi.." Rei membalas pelukanku dengan erat, membuat hatiku menghangat karenanya.. "Maaf membuatmu takut semalam."
"Tidak, kau menyelamatkanku." Meski memang aku sedikit takut. "Apa kau tak ingin pergi ke tempat seperti itu lagi?" tanyaku was-was
"Sebenarnya aku suka tempat semalam, itu tak membuatku trauma pergi ke tempat-tempat seperti itu. Dan jujur aku tak takut keramaian. Itu hanya alasanku saja. Semalam hanya seperti de javu bagiku. Dan aku tak ingin kehilangan orang yang kusayangi lagi." Seiring dengan pernyataannya itu, Rei memelukku lebih erat. Menyatakan keposesifannya membuatku merasa nyaman dan aman. Baru kali ini aku bisa benar-benar nyaman dengan seseorang, merasa terlindungi dan dicintai. Tapi masih ada sedikit yang mengganjal dihatiku, entah apa namun tak mengurangi perasaanku saat ini.
Kami menikmati sore dengan sangat tenang dan khidmat. Menyaksikan mentari yang sedikit demi sedikit menghilang dari garis cakrawala dan cahaya orange berganti menjadi langit hitam keunguan mendominasi seluruh pantai.
.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 47"

Post a Comment