.
.
Aku dan Rei berbaring di
kursi malas menikmati udara pantai yang khas dengan bau lautnya.
Setelah seharian menghabiskan waktu dengan berbasah-basah ria.
Snorkling, berkeliling pulau dengan speed boat, dan berakhir dengan
makan sea food sederhana. Dan disinilah kami, berbaring menunggu
matahari terbenam dengan kaca mata hitam nangkring di atas hidung.
Jangan berpikir macam-macam kalau kalian pikir aku memakai bikini atau
semacamnya. Hell to the NO! Under wear kayak gitu kok dipake di luar.
Kaos oblong putih dengan gambar bibir tergigit warna merah darah. Bitchy
and sexy. Rei sempat protes saat aku pakai hotpants sewarna dengan
gambar bibir pada kaos yang kupakai. Nggak papa kan sekali-kali aku
pakai yang menantang kayak gini, lagian juga pantainya cukup sepi.
Fedora dan sneaker menyempurnakan penampilanku.
Rei? Jangan tanya. Dia
mau pake sarung doang juga tetep ganteng. Telanjangpun kayaknya ganteng
juga.. eh.. nggak tau ding! Dia pakai kaos oblong sepertiku hanya putih
polos, celana kargo pendek warna hitam, bucket hat hitam, serta sneaker.
Oh ya, tadi kubilang
berkeliling pulau kan? yeap, kami bukan cuman pergi ke pantai, tapi
pergi ke pulau sebrang dengan yacht yang disewanya dari Lariana Cruise.
Fiuh.. keren deh tuh kapal. Sebenarnya aku tak terlalu mengerti
perbedaan antara yacht, kapal motor, atau yang seperti i itu. Bentuknya
kan hampir sama.
"Boleh bertanya?"
"Apa?" tanya Rei lebih seperti gumaman. Ia sangat menikmati matahari yang semakin turun ke peraduan.
"Tapi bisakah kau janji tidak akan marah dan mau menjawabku?"
"Kau mau tanya apa sih?" Rei melepas kaca mata pilotnya dan berbaring miring menghadapku.
"Janji?" aku menatapnya dari balik kaca mata hitamku.
"Em.. dengan satu syarat." Rei menyeringai, jenis senyum yang tak kusuka.
"Apa?"
Jari telunjuknya
mengkomandoku untuk mendekat. Ia membisikkan sesuatu. Aku sempat marah
mendengar syaratnya, tapi kemudian aku tersenyum menemukan bohlam lampu
yang menyala terang di atas kepalaku.
Cup.
Kecupan singkat di pipi Rei.
"Itu kau sebut ciuman?"
"Kau tadi minta aku menciummu kan? kau kan tak bilang dimana aku harus menciummu. Salah sendiri." Elakku.
"Ya sudah kalau begitu." Rei kembali berbaring santai lalu memejamkan matanya. Sial.
Kedua tanganku menumpu
di samping pundaknya. Mata Rei sedikit mengernyit, mengkin karna aku
menghalangi cahaya mataharinya. Sebelum ia sempat membuka mata, aku
menyergap mulutnya.
Basah dan dalam. Tapi hanya dua detik. Haha..
"Nah Mr. Husain, sekarang waktunya saya berta.."
Shit! Kini dia
membalasku. Ia menarik tengkukku dan langsung melumat bibirku. Dengan
senang hati aku membalasnya. Saling mengulum dan menjelajahi satu sama
lain. Lidahnya menggelitik gigi-gigiku sebelum menautkannya dengan
lidahku, saling membelai hingga nafas kami hampir habis.
Aku melepas ciumannya
dan terengah-engah mencari udara. Rei tersenyum puas dan berkata, "Akan
dengan senang hati hamba menjawab semua pertanyaan ratu apabila
imbalannya seperti barusan."
Aku dan Rei sudah
terbiasa make out begini, tapi untuk yang lebih lanjut kami belum bisa.
Aku sih yang belum siap. Meski kami sudah sah jadi pasangan, bahkan di
hadapan agama dan hukum, dan perasaan Rei juga tak perlu diragukan lagi.
Namun aku tak mau buru-buru. Biar seperti ini dulu.
Wajah mesumnya kuusap
dengan kasar lalu segera beranjak darinya dan duduk menyamping di
bangkuku sambil menghadap Rei. "Kenapa semalam kau bertindak seperti
itu?"
Bisa kurasakan tubuh Rei
menegang, bukan hanya wajahnya saja. Sial. Dengan cepat suasana berubah
jadi tegang. "Aku hanya tak ingin kau terluka.."
Aku tau maksud baiknya,
tapi yang kutanyakan itu kenapa ia bertindak terlalu jauh. Huh! Susah
deh gini ngoreknya. "Kenapa sampai seperti itu Rei? Kau hampir
membunuhnya."
Rei menghela nafas
panjang. Badannya yang terbaring menghadap matahari tenggelam tampak
sedikit merileks. Ok, harusnya dia mau buka mulut. "Dulu aku punya
kekasih.." Double shit!! Kenapa malah bicarain mantan sih! "Kenapa kau
wajahmu? Kau cemburu?"
Sial. Sial. Sial. "Nggak."
"Halah, bilang aja. Wajahmu itu ada stempel gede bertulis 'JEALOUS'!" Rei nyengir kuda.
"Udah deh, nggak usah ngalihin pembicaraan." Justru aku yang ingin kembali ke topik awal.
"Aku nggak ngalihin. Baru mau cerita tadi, eh mukamu jadi jutek. Kukira kau tak mau kulanjutkan."
"Udah cepet! Nggak usah basa basi! Basi tau nggak sih lo!"
Rei tertawa keras
melihat 'kecemburuanku'. Huh! Jangan mimpi aku cemburu. Setelah
menormalkan tawanya Rei mulai bercerita lagi. Kini dia kembali agak
tegang, namun sudah tak seperti awal tadi. "Seperti kubilang, dulu aku
punya kekasih. Kami saling mencintai." Aku memutar mata, oh ayolah.. apa
dia harus cerita dari situ, sampai mendetail gitu! "Kau mau diterusin
nggak? Kok bibirmu manyun gitu."
"Terusin!" aku melotot ke arahnya, meski dia tak kan tau karna aku pakai kaca mata hitam.
"Namanya Selena. Dia
orang yang sederhana dan manis, itu yang membuatku jatuh hati padanya."
Hell you Raihan!!! Apa sih hubungan cerita mantannya sama pertanyaan
yang kuberikan. "Suatu malam kami berkencan, kami berjalan di taman
menikmati udara malam." Erghh.. kalau aku nggak penasaran sama alasan
kenapa Rei kalap tadi malam, aku pasti sudah membungkam mulutnya yang
terus ngumbar kenangan manis bareng MANTANNYA. "Tiba-tiba ada tiga orang
preman yang mencegat kami. Mereka hendak merampas uang dan barang
berharga. Selena sangat ketakutan, aku memberikan semua yang mereka
minta agar segera lepas dari para preman itu. Tapi setelah itu mereka
masih mengincar Selena." Rahang Rei terkatup dengan kencang, kupikir dia
masih marah dengan ingatan itu. Sekarang aku mengerti arah
pembicaraannya. "Salah satu preman itu mengancam dan mengeluarkan
senjata. Selena semakin panik dan aku tambah berang. Aku tak takut
melawan mereka, aku hanya takut kehilangan Selena." Jantungku terpacu
lebih kuat. Rei takut kehilangan Selena? Lalu.. "Aku yang marah tanpa
pikir panjang lagi menerjang preman yang memegang pistol. Berniat
merebut senjata itu darinya, namun naas. Senjata itu meletus dan
mengenai Selena." Tidak! Sepertinya aku tau bagaimana akhir cerita ini.
Aku sungguh menyesal memaksa Rei bercerita. "Selena tak bisa
diselamatkan malam itu. Meski begitu, para preman berhasil ditangkap dan
dijebloskan ke penjara. Wakt itu rasanya aku ingin menghabisi mereka
dengan tanganku sendiri, penjara tak cocok untuk orang-orang seperti
mereka." Rei mengakhiri kisahnya dengan senyum kecutnya.
"Jadi itu sebabnya kau selalu membawa senjata kemanapun kau pergi?"
Rei tertawa kecil
mendengar pertanyaanku. "Tidak kemanapun sayang. Hanya ke tempat-tempat
tertentu. Kemarilah.." Rei menggeser tubuhnya dan memintaku berbaring di
sampingnya.
"Jadi kau hanya membawa
ke tempat seperti tadi malam? Bagaimana kau tau aku akan mengajakmu ke
tempat seperti itu, padahal aku tak memberitahumu." Aku berbaring di
samping Rei, memberikan pelukan kepadanya. Aku tau dia sulit untuk
membeberkan kenangan buruk itu padaku.
"Insting saja. Dan benarkan?"
"Ya, tapi kau bisa mengalahkannya tanpa senjata. Kau punya ijin menggunakan revolver itu?"
"Tentu saja. Sejak malam
itu, aku mulai berlatih menggunakan senjata serta menambah latihan bela
diriku. Aku tak mau kehilangan orang yang kusayang lagi.." Rei membalas
pelukanku dengan erat, membuat hatiku menghangat karenanya.. "Maaf
membuatmu takut semalam."
"Tidak, kau
menyelamatkanku." Meski memang aku sedikit takut. "Apa kau tak ingin
pergi ke tempat seperti itu lagi?" tanyaku was-was
"Sebenarnya aku suka
tempat semalam, itu tak membuatku trauma pergi ke tempat-tempat seperti
itu. Dan jujur aku tak takut keramaian. Itu hanya alasanku saja. Semalam
hanya seperti de javu bagiku. Dan aku tak ingin kehilangan orang yang
kusayangi lagi." Seiring dengan pernyataannya itu, Rei memelukku lebih
erat. Menyatakan keposesifannya membuatku merasa nyaman dan aman. Baru
kali ini aku bisa benar-benar nyaman dengan seseorang, merasa
terlindungi dan dicintai. Tapi masih ada sedikit yang mengganjal
dihatiku, entah apa namun tak mengurangi perasaanku saat ini.
Kami menikmati sore
dengan sangat tenang dan khidmat. Menyaksikan mentari yang sedikit demi
sedikit menghilang dari garis cakrawala dan cahaya orange berganti
menjadi langit hitam keunguan mendominasi seluruh pantai. .
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 47"
Post a Comment