Rei membantuku soal
kantor dan rumah ayah. Yang hampir membuatku ingin memukul kepalanya
adalah dia membeli rumah itu. Perlu digaris bawahi bahwa dia membelinya
dengan harga dua kali lipat. Saat memberitahuku tentang pembelian itu,
ingin rasanya aku memeriksakan isi otak Rei, mungkin dia mengalami gegar
otak yang tak terdeteksi hingga pola pikirnya bergeser.
"Mereka tak mau memberi
info soal penjual rumah itu. Dan Reagan cukup terkenal dengan
profesionalitas mereka yang tak diragukan lagi. Meski aku membayar dua
kali lipat, mereka sama sekali tak memberiku informasi keberadaan
mereka."
"Kalau kau sudah tau
begitu kenapa kau masih membelinya dengan harga dobel?" tanyaku kesal.
Apa dia sering bertindak impulsif seperti ini? Waktu membeli ben juga
bisa dikatakan hampir sama seperti ini. Berpikir pendek dan bertindak.
"Ya Tuhan.. kau bahkan tak perlu membeli rumah itu." Tambahku.
"Ayolah Viona, aku tau rumah itu sangat berharga bagi kalian. Aku tak bisa membiarkan orang lain memilikinya."
"Kalian serius sekali. Ngomongin apa?" Gio bergabung ke meja makan siang kantin.
"Ada yang telah membeli rumahku, dengan harga dua kali lipat."
"Siapa yang membelinya?
Jadi benar rumahmu sudah dijual Keyra?" Gio mengabaikan sama sekali
makanannya dan menatap serius ke arahku.
"Benar, rumah itu telah
dijual oleh wanita sialan itu. Dan orang bebal di sebelahmu inilah yang
telah mendapatkannya dengan harga dua kali lipat." Rei nyengir mendengar
ucapanku.
"Excusme?" Gio seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Aku hanya ingin dapat info dengan harga dobel. Tapi sepertinya perkiraanku salah, mereka sama sekali tak mau buka mulut."
Gio terkekeh. "Bung..
bukan seperti itu caranya. Aku maklum jika Viona mengataimu bebal atau
apa. Akan kutunjukan caranya nanti, kau bahkan tak perlu mengeluarkan
uang sepeserpun." Gio berkata dengan pongahnya. Entah apa yang akan
dilakukannya, kuharap itu berhasil, dan kuharap yang dilakukannya itu
bukan sesuatu yang buruk. Jika iya, iya mungkin lebih bebal daripada
Rei.
"Jangan cuman ngomong. Buktiin dong." Rei mendengus, menantang Gio.
"Gwe bisa aja, tapi ada syaratnya."
"Ya ampun! Kalau nggak ikhlas nggak usah nawarin bantuan deh." Cibirku.
"Syaratnya bukan buat
gwe kok Vi.. ini Naya ngidam lagi." Muka melas khas Gio muncul lagi.
Naya sepertinya berhasil membuat pria ini jungkir balik kualahan
menghadapi ngidamnya.
"Apa lagi sekarang?" tanyaku sambil menahan kikikan geli.
"Ijinin gwe tiga hari aja, Naya pengen ke Lombok."
"Itu doang?" tukas Rei.
"Yah.. semoga cuman itu.
Siapin mental aja gwe tiga hari itu, siapa tau dia nyuruh gwe nyariin
ikan pari di sana." Aku tergelak menanggapi candaan Gio dan muka super
melasnya.
"Deal setelah lo dapat
info" Rei menyetujui syarat Gio. Hmm.. bakalan ditinggal sekretaris nih.
Tapi cuman tiga hari doang, nanggung banget. Kalau seminggu sekalian ka
bisa narik Rama lagi, nah kalau cuman tiga hari kasian Ramanya, tapi
kasian gwe juga kalau tiga hari nggak ada sekretaris.
"Ok. Ngomong-ngomong kantor ayahmu itu terus gimana?" Gio mulai rileks dan menyantap makanannya.
Aku menghela nafas dan
menggelengkan kepala. Belum sempat memikirkan yang satu itu. Rei meremas
lembut tanganku, berusaha menenangkan dan menguatkan. "Kau ingat Roan?"
tanya Rei. Kenapa membahas orang itu tiba-tiba. Aku mengangguk
mengiyakan. "Yang mengambil alih perusahaan itu adalah iparnya, kakak
Zeelam istrinya. Bayu telah membeli perusahaan itu secara sah, jadi akan
sulit untuk mengambilnya lagi, ini lebih rumit dari rumah."
"Jadi yang make out di kantor waktu itu Bayu namanya."
"Pardon?" Rei tampak terkejut dan Gio tersedak smoothie sayurnya. Ups.. aku keceplosan. "Siapa yang apa?"
"Maksudmu kau memergoki
Bayu lagi make out? Sama siapa?" Gio bertanya dengan semangat sambil
membersihkan mulutnya dari minuman yang tercecer.
"Kemaren aku nggak tau
kalau kantor udah diambil alih, jadi aku nyelonong aja masuk ke ruangan
papa. Eh, tau-tau ada live show." Ceritaku.
"Udah sampai mana?"
entah kenapa Gio semangat sekali bertanya. Kupikir selama ini tak suka
bergosip, apa jangan-jangan dia juga sering gabung sama Yuni dan yang
lainnya.
"Untungnya baru base 1, gila aja kalau udah lanjut-lanjut."
"Mungkin itu adalah Renata, istri Bayu." Ungkap Rei.
"Pantesan mereka berani melakukan itu tanpa pintu terkunci. Eh, tapi kenapa kita malah bahas Bayu sih."
"Lo sendiri yang tadi mulai." Gio menunjukku dengan garpunya, membuatku tersenyum malu.
.
.
.
.
Gio menepati janjinya, bahkan malam itu dia langsung memberi info keberadaan Keyra. Entah cara ajaib apa yang digunakannya hingga bisa mengorek info dari Reagan. Keyra ada di kota hujan, hanya itu yang bisa dikoreknya. Tapi itu lebih dari cukup untuk mempersempit pencariannya. Kuharap ayah baik-baik saja.
.
Gio menepati janjinya, bahkan malam itu dia langsung memberi info keberadaan Keyra. Entah cara ajaib apa yang digunakannya hingga bisa mengorek info dari Reagan. Keyra ada di kota hujan, hanya itu yang bisa dikoreknya. Tapi itu lebih dari cukup untuk mempersempit pencariannya. Kuharap ayah baik-baik saja.
"Kau tenang saja, aku
sudah menyuruh seseorang untuk mencari mereka."Rei memberiku morning
kiss dan menghapus kerutan di dahiku dengan ibu jarinya.
"Terima kasih telah membantuku." Kali ini tak ada pisau untuknya.
"Apapun untukmu."dan
senyum yang selalu menjadi bor penghancur dinding pertahanan hatiku
terpahat cerah di wajahnya. Sialan jika ada orang yang tidak menyukai
senyumnya. "Masak apa?"
"Aku mau bikin nasi goreng." Sudah lama sekali rasanya aku tak masak memu satu ini.
"Well, kau tak sedang ngidam kan?" pertanyaan Rei kuhadiahi dengan pelototan.
"Aku tak merasa sedang hamil. Dan aku bukan Naya yang jika hamil ngidam nasi goreg Chef Farah." Ujarku keras.
"Kau mau hamil?"
pertanyaan frontal yang membuat mukaku panas. Rei terkekeh melihat
reaksiku. "Kau sungguh menggemaskan jika sedang menahan malu."
"Dan kau amat
menyebalkan jika berkata seperti itu." Aku kembali ke irisan sosis di
depanku, sengaja mengirisnya dengan agak keras.
"Uh.. ow.. kau
menyakitiku." Rei menangkap jelas maksudku. Dia meninggalkan dapur,
membiarkanku menyelesaikan kegiatan pagiku. Dia sendiri pagi-pagi buta
tadi udah nyelinap ke ruang kerja. Baru kali ini kulihat dia gila kerja,
biasanya dia agak santai, bahkan jarang sekali membawa pekerjaannya
pulang. Beda denganku, bukannya aku workakholic atau apa, cuman sering
keteteran dan mengharuskan membawa pulang pekerjaan.
"Kau lihat ipad ku?"Rei
muncul dari kamar mandi dengan tubuh topless dan rambut yang basah.
Sial, tadi dia tanya apa. "Kau lihat ipad ku nggak?" Untung dia ngulang
pertanyaannya, kalau nggak pasti dia tau aku tidak fokus pada
pertanyaannya malah menikmati pemandangan seksi darinya. Untuk apa
keluar kamar mandi nyariin benda kayak gitu.
"Uh um, mungkin di ruang
kerjamu." Tanpa menunggu aba-aba lagi dia melesat ke ruang kerjanya.
Kamar kami ini terhubung langsung ke kamar mandi, walk in closet dan
ruang kerjanya. Jarang sekali aku ke ruang kerjanya, rasa-rasanya malah
baru sekali aja aku masuk ke sana untuk memanggil Rei agar turun makan
malam beberapa waktu lalu. Aku lebih suka bekerja di ruang tengah di
bawah, sambil nonton atau ngemil sesuatu.
Huh.. untung dia cepat
pergi, jadi pikiranku bisa terselamatkan dari gambaran tubuh Rei. Hair
dryer kembali berdengung mengeringkan rambut basahku. Tapi itu tak
berlangsung lama karna ponsel Rei berdering.
"Rei ada telepon!"
Teriakku. Tidak ada sahutan. Aku penasaran melihat caller id nya. Dan
rasa penasaran berbuah buruk. Uh Helena.. sekali lagi rasa penasaran
menyergapku. Dan dia menang.
Aku menggeser ke tanda hijau pada layar ponsel 5 inchi Rei.
"Hai boy.." perutku bergejolak mendengar sapaannya. Beraninya dia. "Kau tidak lupa malam ini kan?" Hell, apa ini?!
"Ehm.." dehemanku
memberinya jeda hening. "Maaf ini dengan istrinya." Sedikit memberi
tekanan pada kata terakhir. Meski tidak terlalu kentara.
"Oh.. tolong sampaikan pada Rei tentang makan malam nanti. Itu saja." Dan.. tut.. tut..
"Sayang, kau tau dimana
ponselku?" Si pengkhianat muncul dari ruang kerja. Sialan sekali, dia
bahkan bertanya sambil matanya fokus pada pad di tangannya.
Prang!
Dan aku terlalu mendidih untuk menjawabnya. Benda itu melayang dan membentur tembok di dekatnya, berakhir tragis di lantai.
"Ya Tuhan.. Viona!"
"Itu ponselmu." Kataku
datar. Berbanding terbalik dengan darah yang bergejolak hebat di seluruh
tubuhku. "Oh ya, jangan lupa nanti candle light dinner mu dengan
Helena." Tambahku lagi, aku sedikit heran dengan suaraku sendiri yang
datar terkendali, padahal bisa saja puluhan makian kulontarkan padanya.
"Kau cemburu?" Hell.
Sempat-sempatnya dia bilang begitu. "Aku rela membelikanmu seribu ponsel
seperti untuk kau banting agar kau memperlihatkan kecemburuanmu." Rei
tersenyum lebar, ear to ear, persis seperti ketika aku memberinya
kesempatan dalam hubungan kami.
"Terserah padamu."
Terserah dia mau tersenyum kayak malaikat, terserah dia mau nyanyi
seribu lagu, terserah dia mau beliin aku apa, aku tak perduli. Aku
benar-benar marah. Menyalakan kembal hair dryer dan mengarahkannya ke
rambutku yang sudah setengah kering. Bunyi dengungan alat itu
mengalihkan dan menulikan telingaku, tapi itu tak berlangsung lama. "Apa
yang kau lakukan?!"
Rei mencabut power
pengerinng rambut yang sedang kupakai. "Kau bilang terserah padaku."
Sialan. Aku mendelik kesal. "Kau hanya perlu mengakui bahwa kau
cemburu."
Mendengus dan menggeram. "Aku nggak cemburu!" sergahku. "Minggir! Pekerjaanku sudah menanti."
"Kali ini tidak ada
meeting yang menolongmu sayang.." Rei melempar asal pad nya ke meja rias
di belakang punggungku, mengenai beberapa botol kosmetik. Tadi
maksudnya apa coba?
"Maksudmu?"
Rei menyeringai dan menarik kerah bath robe ku, otomatis tanganku menahannya. "Akui saja sayang.. kau cemburu kan?"
Maksa banget sih! Orang
aku nggak cemburu kok! Cuman sebel aja! "Dalam mimpimu Raihan.."
tatapannya yang mengintimidasi kali ini tak berpengaruh apa-apa. Terlalu
cembu.. terlalu marah maksudku.
Rei menarikku, menyeret
kerah bath robe hingga aku sedikit terangkat dan terbanting di bed,
mengunci kedua tanganku ke atas kepala. "Meeting tidak akan
menyelamatkanmu pagi ini nona Kamal. Persetan dengan mereka, ada hal
yang lebih penting, mengetehaui kau bisa merasa cemburu pada.."
"Aku tak cemburu!" sekali lagi kutegaskan pada si kepala bebal.
"Teruslah berbicara
seperti itu.." senyum miringnya yang menyebalkan tertarik ke sisi kanan.
Tapi itu tak bertahan lama, karna dia segera mendekatkan wajahnya dan
membungkamku dengan bibirnya.
.
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 53"
Post a Comment