Hopeless Part 53

Rei membantuku soal kantor dan rumah ayah. Yang hampir membuatku ingin memukul kepalanya adalah dia membeli rumah itu. Perlu digaris bawahi bahwa dia membelinya dengan harga dua kali lipat. Saat memberitahuku tentang pembelian itu, ingin rasanya aku memeriksakan isi otak Rei, mungkin dia mengalami gegar otak yang tak terdeteksi hingga pola pikirnya bergeser.
"Mereka tak mau memberi info soal penjual rumah itu. Dan Reagan cukup terkenal dengan profesionalitas mereka yang tak diragukan lagi. Meski aku membayar dua kali lipat, mereka sama sekali tak memberiku informasi keberadaan mereka."
"Kalau kau sudah tau begitu kenapa kau masih membelinya dengan harga dobel?" tanyaku kesal. Apa dia sering bertindak impulsif seperti ini? Waktu membeli ben juga bisa dikatakan hampir sama seperti ini. Berpikir pendek dan bertindak. "Ya Tuhan.. kau bahkan tak perlu membeli rumah itu." Tambahku.
"Ayolah Viona, aku tau rumah itu sangat berharga bagi kalian. Aku tak bisa membiarkan orang lain memilikinya."
"Kalian serius sekali. Ngomongin apa?" Gio bergabung ke meja makan siang kantin.
"Ada yang telah membeli rumahku, dengan harga dua kali lipat."
"Siapa yang membelinya? Jadi benar rumahmu sudah dijual Keyra?" Gio mengabaikan sama sekali makanannya dan menatap serius ke arahku.
"Benar, rumah itu telah dijual oleh wanita sialan itu. Dan orang bebal di sebelahmu inilah yang telah mendapatkannya dengan harga dua kali lipat." Rei nyengir mendengar ucapanku.
"Excusme?" Gio seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Aku hanya ingin dapat info dengan harga dobel. Tapi sepertinya perkiraanku salah, mereka sama sekali tak mau buka mulut."
Gio terkekeh. "Bung.. bukan seperti itu caranya. Aku maklum jika Viona mengataimu bebal atau apa. Akan kutunjukan caranya nanti, kau bahkan tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun." Gio berkata dengan pongahnya. Entah apa yang akan dilakukannya, kuharap itu berhasil, dan kuharap yang dilakukannya itu bukan sesuatu yang buruk. Jika iya, iya mungkin lebih bebal daripada Rei.
"Jangan cuman ngomong. Buktiin dong." Rei mendengus, menantang Gio.
"Gwe bisa aja, tapi ada syaratnya."
"Ya ampun! Kalau nggak ikhlas nggak usah nawarin bantuan deh." Cibirku.
"Syaratnya bukan buat gwe kok Vi.. ini Naya ngidam lagi." Muka melas khas Gio muncul lagi. Naya sepertinya berhasil membuat pria ini jungkir balik kualahan menghadapi ngidamnya.
"Apa lagi sekarang?" tanyaku sambil menahan kikikan geli.
"Ijinin gwe tiga hari aja, Naya pengen ke Lombok."
"Itu doang?" tukas Rei.
"Yah.. semoga cuman itu. Siapin mental aja gwe tiga hari itu, siapa tau dia nyuruh gwe nyariin ikan pari di sana." Aku tergelak menanggapi candaan Gio dan muka super melasnya.
"Deal setelah lo dapat info" Rei menyetujui syarat Gio. Hmm.. bakalan ditinggal sekretaris nih. Tapi cuman tiga hari doang, nanggung banget. Kalau seminggu sekalian ka bisa narik Rama lagi, nah kalau cuman tiga hari kasian Ramanya, tapi kasian gwe juga kalau tiga hari nggak ada sekretaris.
"Ok. Ngomong-ngomong kantor ayahmu itu terus gimana?" Gio mulai rileks dan menyantap makanannya.
Aku menghela nafas dan menggelengkan kepala. Belum sempat memikirkan yang satu itu. Rei meremas lembut tanganku, berusaha menenangkan dan menguatkan. "Kau ingat Roan?" tanya Rei. Kenapa membahas orang itu tiba-tiba. Aku mengangguk mengiyakan. "Yang mengambil alih perusahaan itu adalah iparnya, kakak Zeelam istrinya. Bayu telah membeli perusahaan itu secara sah, jadi akan sulit untuk mengambilnya lagi, ini lebih rumit dari rumah."
"Jadi yang make out di kantor waktu itu Bayu namanya."
"Pardon?" Rei tampak terkejut dan Gio tersedak smoothie sayurnya. Ups.. aku keceplosan. "Siapa yang apa?"
"Maksudmu kau memergoki Bayu lagi make out? Sama siapa?" Gio bertanya dengan semangat sambil membersihkan mulutnya dari minuman yang tercecer.
"Kemaren aku nggak tau kalau kantor udah diambil alih, jadi aku nyelonong aja masuk ke ruangan papa. Eh, tau-tau ada live show." Ceritaku.
"Udah sampai mana?" entah kenapa Gio semangat sekali bertanya. Kupikir selama ini tak suka bergosip, apa jangan-jangan dia juga sering gabung sama Yuni dan yang lainnya.
"Untungnya baru base 1, gila aja kalau udah lanjut-lanjut."
"Mungkin itu adalah Renata, istri Bayu." Ungkap Rei.
"Pantesan mereka berani melakukan itu tanpa pintu terkunci. Eh, tapi kenapa kita malah bahas Bayu sih."
"Lo sendiri yang tadi mulai." Gio menunjukku dengan garpunya, membuatku tersenyum malu.
.
.
.
Gio menepati janjinya, bahkan malam itu dia langsung memberi info keberadaan Keyra. Entah cara ajaib apa yang digunakannya hingga bisa mengorek info dari Reagan. Keyra ada di kota hujan, hanya itu yang bisa dikoreknya. Tapi itu lebih dari cukup untuk mempersempit pencariannya. Kuharap ayah baik-baik saja.
"Kau tenang saja, aku sudah menyuruh seseorang untuk mencari mereka."Rei memberiku morning kiss dan menghapus kerutan di dahiku dengan ibu jarinya.
"Terima kasih telah membantuku." Kali ini tak ada pisau untuknya.
"Apapun untukmu."dan senyum yang selalu menjadi bor penghancur dinding pertahanan hatiku terpahat cerah di wajahnya. Sialan jika ada orang yang tidak menyukai senyumnya. "Masak apa?"
"Aku mau bikin nasi goreng." Sudah lama sekali rasanya aku tak masak memu satu ini.
"Well, kau tak sedang ngidam kan?" pertanyaan Rei kuhadiahi dengan pelototan.
"Aku tak merasa sedang hamil. Dan aku bukan Naya yang jika hamil ngidam nasi goreg Chef Farah." Ujarku keras.
"Kau mau hamil?" pertanyaan frontal yang membuat mukaku panas. Rei terkekeh melihat reaksiku. "Kau sungguh menggemaskan jika sedang menahan malu."
"Dan kau amat menyebalkan jika berkata seperti itu." Aku kembali ke irisan sosis di depanku, sengaja mengirisnya dengan agak keras.
"Uh.. ow.. kau menyakitiku." Rei menangkap jelas maksudku. Dia meninggalkan dapur, membiarkanku menyelesaikan kegiatan pagiku. Dia sendiri pagi-pagi buta tadi udah nyelinap ke ruang kerja. Baru kali ini kulihat dia gila kerja, biasanya dia agak santai, bahkan jarang sekali membawa pekerjaannya pulang. Beda denganku, bukannya aku workakholic atau apa, cuman sering keteteran dan mengharuskan membawa pulang pekerjaan.
"Kau lihat ipad ku?"Rei muncul dari kamar mandi dengan tubuh topless dan rambut yang basah. Sial, tadi dia tanya apa. "Kau lihat ipad ku nggak?" Untung dia ngulang pertanyaannya, kalau nggak pasti dia tau aku tidak fokus pada pertanyaannya malah menikmati pemandangan seksi darinya. Untuk apa keluar kamar mandi nyariin benda kayak gitu.
"Uh um, mungkin di ruang kerjamu." Tanpa menunggu aba-aba lagi dia melesat ke ruang kerjanya. Kamar kami ini terhubung langsung ke kamar mandi, walk in closet dan ruang kerjanya. Jarang sekali aku ke ruang kerjanya, rasa-rasanya malah baru sekali aja aku masuk ke sana untuk memanggil Rei agar turun makan malam beberapa waktu lalu. Aku lebih suka bekerja di ruang tengah di bawah, sambil nonton atau ngemil sesuatu.
Huh.. untung dia cepat pergi, jadi pikiranku bisa terselamatkan dari gambaran tubuh Rei. Hair dryer kembali berdengung mengeringkan rambut basahku. Tapi itu tak berlangsung lama karna ponsel Rei berdering.
"Rei ada telepon!" Teriakku. Tidak ada sahutan. Aku penasaran melihat caller id nya. Dan rasa penasaran berbuah buruk. Uh Helena.. sekali lagi rasa penasaran menyergapku. Dan dia menang.
Aku menggeser ke tanda hijau pada layar ponsel 5 inchi Rei.
"Hai boy.." perutku bergejolak mendengar sapaannya. Beraninya dia. "Kau tidak lupa malam ini kan?" Hell, apa ini?!
"Ehm.." dehemanku memberinya jeda hening. "Maaf ini dengan istrinya." Sedikit memberi tekanan pada kata terakhir. Meski tidak terlalu kentara.
"Oh.. tolong sampaikan pada Rei tentang makan malam nanti. Itu saja." Dan.. tut.. tut..
"Sayang, kau tau dimana ponselku?" Si pengkhianat muncul dari ruang kerja. Sialan sekali, dia bahkan bertanya sambil matanya fokus pada pad di tangannya.
Prang!
Dan aku terlalu mendidih untuk menjawabnya. Benda itu melayang dan membentur tembok di dekatnya, berakhir tragis di lantai.
"Ya Tuhan.. Viona!"
"Itu ponselmu." Kataku datar. Berbanding terbalik dengan darah yang bergejolak hebat di seluruh tubuhku. "Oh ya, jangan lupa nanti candle light dinner mu dengan Helena." Tambahku lagi, aku sedikit heran dengan suaraku sendiri yang datar terkendali, padahal bisa saja puluhan makian kulontarkan padanya.
"Kau cemburu?" Hell. Sempat-sempatnya dia bilang begitu. "Aku rela membelikanmu seribu ponsel seperti untuk kau banting agar kau memperlihatkan kecemburuanmu." Rei tersenyum lebar, ear to ear, persis seperti ketika aku memberinya kesempatan dalam hubungan kami.
"Terserah padamu." Terserah dia mau tersenyum kayak malaikat, terserah dia mau nyanyi seribu lagu, terserah dia mau beliin aku apa, aku tak perduli. Aku benar-benar marah. Menyalakan kembal hair dryer dan mengarahkannya ke rambutku yang sudah setengah kering. Bunyi dengungan alat itu mengalihkan dan menulikan telingaku, tapi itu tak berlangsung lama. "Apa yang kau lakukan?!"
Rei mencabut power pengerinng rambut yang sedang kupakai. "Kau bilang terserah padaku." Sialan. Aku mendelik kesal. "Kau hanya perlu mengakui bahwa kau cemburu."
Mendengus dan menggeram. "Aku nggak cemburu!" sergahku. "Minggir! Pekerjaanku sudah menanti."
"Kali ini tidak ada meeting yang menolongmu sayang.." Rei melempar asal pad nya ke meja rias di belakang punggungku, mengenai beberapa botol kosmetik. Tadi maksudnya apa coba?
"Maksudmu?"
Rei menyeringai dan menarik kerah bath robe ku, otomatis tanganku menahannya. "Akui saja sayang.. kau cemburu kan?"
Maksa banget sih! Orang aku nggak cemburu kok! Cuman sebel aja! "Dalam mimpimu Raihan.." tatapannya yang mengintimidasi kali ini tak berpengaruh apa-apa. Terlalu cembu.. terlalu marah maksudku.
Rei menarikku, menyeret kerah bath robe hingga aku sedikit terangkat dan terbanting di bed, mengunci kedua tanganku ke atas kepala. "Meeting tidak akan menyelamatkanmu pagi ini nona Kamal. Persetan dengan mereka, ada hal yang lebih penting, mengetehaui kau bisa merasa cemburu pada.."
"Aku tak cemburu!" sekali lagi kutegaskan pada si kepala bebal.
"Teruslah berbicara seperti itu.." senyum miringnya yang menyebalkan tertarik ke sisi kanan. Tapi itu tak bertahan lama, karna dia segera mendekatkan wajahnya dan membungkamku dengan bibirnya.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 53"

Post a Comment