Tangannya seedingin es,
tapi bukan itu yang menarik perhatianku. Luka bilur di lengannya, jelas
menggaris kentara. Apa itu akibat kejadian tadi?
Dia menuruni anak tangga
kecil di depan ruang pas dengan tenang dan hati-hati, walau aku tahu
hatinya pasti jengkel bertemu denganku disini. Itu terlihat jelas dari
wajahnya yang jutek dan hmm.. dia sedikit pucat.
"Terima kasih." Ucapnya lirih setlah duduk menunggu Rei.
"Kembali."
Baru beberapa langkah
aku ambil, ada suara yang membuatku harus berhenti. "Alex.. bisa kita
bicara sebentar." Ada rasa berdesir di hatiku. Nggak salah nih cewek
memanggilku kembali? Aku berbalik kembali padanya.
"Ya." Aku mengambil posisi duduk yang nyaman di sambingnya, di sofa biru tua yang berhadapan dengan ruang pas.
"Apa kau serius tentang pihak berwajib itu?" suara sedikit bergetar, ada keraguan di matanya saat menanyakan itu.
"Tentu saja. Bukankan kau lihat sendiri kepalaku bocor karna ulahmu."
"Kau pantas menerimanya, itu karna perbuatanmu sendiri." Haha.. juteknya sudah kembali lagi.
"Yah.. terserah padamu
lah." Aku ingin menggodanya sebentar sebelum pulang. Kulihat dia diam
dan menunduk, lengannya.. aku kembali memperhatikan lengannya. Sakitkah?
"Sshhh... aww!!" aku
hanya menyentuhnya sedikit dan reaksinya begitu besar. Dia mengernyit
dan mengaduh lalu memelototiku hebat. "Kau..!!" tangannya siap memukulku
tapi dia berhenti, mungkin dia tahu keadaan juga rupanya. Dan dia
kembali tertunduk. "Bisakah kau mempertimbangkannya lagi?"
"Mempertimbangkan apa?"
"Pelaporan itu. Aku dan Rei akan segera menikah, dan hal itu mungkin akan menghambat kami.. kau kan temannya Rei.. tidakkah.."
"Tidak, kenapa? Aku memang temannya Rei, tapi bukan berarti kau lolos begitu saja.."
"Ini bukan soal Rei saja, ada nyawa sesorang yang jadi taruhannya.."
Nyawa? Hei.. matanya.. seperti ada lapisan kaca yang melapisinya tapi terlihat rapuh dan menetes.
"Akan kujelaskan besok, kau ada waktu makan siang? Aku.."
"Oke, baiklah nona.
Sampai jumpa besok. Waktuku sudah hampir habis.." aku melihat ke arah
jam tanganku. Aku ada janji dengan seseorang. "hapus air matamu sayang,
nanti calon suami melihat."
And then.. a lil bit kiss..
Selama sedetik aku
mencecap bibirnya dan menelisik lidahnya secara singkat. Viona begitu
kaget dan bahkan tak bereaksi apapun sampai beberapa langkah kemudian
aku mendengarnya mengumpatku dengan lirih namun terdengar jelas
"Bastard.."
.
.
.
Tak pernah terbayangkan sedikitpun dalam hidupku, aku akan menikah dengan calon tunggal CEO sebuah brand terkemuka. Dan hubungan aneh kami didasari atas kepura-puraan untuk membahagiakan papanya. Dan itu sepertinya berhasil. Pak salim tampak cerah dan bahagia, duduk mengapit Rei dan ibunya. Menghantarkan sang putra melamarku..
.
.
.
Tak pernah terbayangkan sedikitpun dalam hidupku, aku akan menikah dengan calon tunggal CEO sebuah brand terkemuka. Dan hubungan aneh kami didasari atas kepura-puraan untuk membahagiakan papanya. Dan itu sepertinya berhasil. Pak salim tampak cerah dan bahagia, duduk mengapit Rei dan ibunya. Menghantarkan sang putra melamarku..
"Jadi bagaimana nak Vio? Apakah lamaran putra om diterima?"
Jawabannya pasti iya.
Mau jawab apa lagi, orang aku sudah nanda tangani kontraknya kok. Aku
menandatanginya kemarin setelah aku menyelesaikan masalahku dengan Alex.
Tapi sebenarnya belum mbener-bener selesai sih tu urusanku sama si
Alex. Aku, dengan sangat amat terpaksa, membeberkan kontrak pernikahan
itu pada Alex. Well, dia lumayan memaklumi karna pak salim sakit, tapi
katanya aku tidak bisa bebas begitu saja. Damn..damn.. damn.. yang
paling sialan itu waktu Alex ngajuin syarat, dia mau kencan denganku!
Amit-amit cabang bayi
deh kencan sama Alex. Dengan cepat aku menolaknya mentah-mentah. Tapi
Alex punya jurus jitu lainnya. Dia mengancam akan membeberkan pernikahan
palsuku dengan Rei pada media. Itu terlalu kejam. Dasar. Seharusnya aku
tak memberitahunya, bagaimana kalau Pak Salim tahu. Bisa rusak semua
rencananya. Alex memberi keringanan, bukan keringan juga kali karna
syarat itu terlalu berat. dia berjanji tidak akan melakukannya dengan
sembunyi-sembunyi, bahkan Rei sendiri tidak akan mengetahuinya.
Ceritanya aku disuruh selingkuh apa.
Dengan berat hati, dan
jengkel,marah, sebel tentunya, aku menyetujuinya. Entah kapan kami akan
berkencan, dia akan memberitahuku jika ada waktu. Huh sok sibuk. Eh..
malahan ding, biar dia sibuk terus dan aku tak akan pernah bekencan
dengannya..!!
"Iya.."jawabku mantap.
"Alhamdulillah.." tante
Kinan mengucap syukur diikuti yang lainnya. Malam ini tampak sempurna,
andaikan ini memang benar-benar nyata. Maksudku jika saja yang ada
dihadapanku ini benar-benar keluarga orang yang aku cintai dan akan
menikah denganku. Pastinya aku akan bahagia.. itukah yang namanya
bahagia??
Setelah tanya jawab ini
itu, membicarakan kebiasaan-kebiasaan keluarga terutama
kebiasaan-kebiasaan kami. Masa lalu, dan berbicara tentang masa depan
tentunya. Untung ayah nggak bahas tentang ibu, maksudku ibu tiriku itu.
Aku melarangnya ikut acara ini. Nggak tau deh dia kemana, yang penting
dia nggak ikut. Aku males liat mukanya.
"Viona.. bisa bicara
sebentar?" pak Salim menghelaku menyingkir ke sudut ruangan sementara
yang lain masih asyik berbincang dengan ayahku.
"Ya..om."
"Saya tahu, hubungan
kamu dan Rei baru seumur jagung tapi saya sudah memaksakan kalian dengan
pernikahan ini." Pak salim berhenti sebentar mengambil napas. "dan saya
harap kamu benar-benaar tulus mencintainya.. dia anak yang baik.."
Setiap ucapan pak salim
seperti tusukan-tusukan jarum yang menembus ulu hatiku. Tidakkah dia
tahu bahwa aku dan Rei membohonginya. Dosa itu seperti di hempas
langsung padaku.
"Saya.. akan berusaha sebisa saya." Sebisa mungkin aku meyakinkan pak salim meski berat sekali melakukannya.
"Terima kasih Vio.. saya percaya, kalian pasti akan bahagia."
Dan begitulah. Seminggu
kemudian kami bertunangan. Rei dan keluarganya datang kembali
menghantarkan mahar alias mas kawin. Aku terusik akan kehadiran nenek
lampir yang ngikut acara ini. Katanya ayah sudah melarangnya tapi dia
maksa ingin ikut, cih.. kenapa dia tiba-tiba tertarik dengan
kehidupanku? Biasanya diaa anti pati, bahkan waktu aku masih di rumah
dia sering tak mau sarapan atau makan bersama di ruang makan. Apa karna
aku dapet cowok kaya raya yang kece yang akan jadi mantunya gitu apa.
Aku nggak tau apa aja
yang dikasih sama Rei. Dan ngomong-ngomong kapan dia belinya ya. Sekilas
aku melihat tumpukan make up, sepatu, kain, baju, perhiasan tentunya
dan sebagainya. Ya ampun, kayak mau nikah beneran, niat banget sih.
Yah.. anggap saja itu bonus di awal, walau aku masih nggak enak hati
sama pak salim karna teringat ucapannya beberapa waktu lalu. Untuk
mencintai putranya setulus hati.
Ayahku. Dia tampak
bahagia. Andai dia tahu yang sebenarnya mungkin dia akan melarangku
melakukan hal ini, dan seandainya dia melarangkupun aku tetap akan
ngotot. Seperti kekehnya dia ketika mau menikahi si wanita lampir itu.
Dia sangat senang dan welcome banget dengan keluarganya Rei. Aku sedikit
bersyukur karenanya. Jadi nggak nambah masalah ini itu lagi.
.
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 18"
Post a Comment