Hopeless Part 18

Tangannya seedingin es, tapi bukan itu yang menarik perhatianku. Luka bilur di lengannya, jelas menggaris kentara. Apa itu akibat kejadian tadi?
Dia menuruni anak tangga kecil di depan ruang pas dengan tenang dan hati-hati, walau aku tahu hatinya pasti jengkel bertemu denganku disini. Itu terlihat jelas dari wajahnya yang jutek dan hmm.. dia sedikit pucat.
"Terima kasih." Ucapnya lirih setlah duduk menunggu Rei.
"Kembali."
Baru beberapa langkah aku ambil, ada suara yang membuatku harus berhenti. "Alex.. bisa kita bicara sebentar." Ada rasa berdesir di hatiku. Nggak salah nih cewek memanggilku kembali? Aku berbalik kembali padanya.
"Ya." Aku mengambil posisi duduk yang nyaman di sambingnya, di sofa biru tua yang berhadapan dengan ruang pas.
"Apa kau serius tentang pihak berwajib itu?" suara sedikit bergetar, ada keraguan di matanya saat menanyakan itu.
"Tentu saja. Bukankan kau lihat sendiri kepalaku bocor karna ulahmu."
"Kau pantas menerimanya, itu karna perbuatanmu sendiri." Haha.. juteknya sudah kembali lagi.
"Yah.. terserah padamu lah." Aku ingin menggodanya sebentar sebelum pulang. Kulihat dia diam dan menunduk, lengannya.. aku kembali memperhatikan lengannya. Sakitkah?
"Sshhh... aww!!" aku hanya menyentuhnya sedikit dan reaksinya begitu besar. Dia mengernyit dan mengaduh lalu memelototiku hebat. "Kau..!!" tangannya siap memukulku tapi dia berhenti, mungkin dia tahu keadaan juga rupanya. Dan dia kembali tertunduk. "Bisakah kau mempertimbangkannya lagi?"
"Mempertimbangkan apa?"
"Pelaporan itu. Aku dan Rei akan segera menikah, dan hal itu mungkin akan menghambat kami.. kau kan temannya Rei.. tidakkah.."
"Tidak, kenapa? Aku memang temannya Rei, tapi bukan berarti kau lolos begitu saja.."
"Ini bukan soal Rei saja, ada nyawa sesorang yang jadi taruhannya.."
Nyawa? Hei.. matanya.. seperti ada lapisan kaca yang melapisinya tapi terlihat rapuh dan menetes.
"Akan kujelaskan besok, kau ada waktu makan siang? Aku.."
"Oke, baiklah nona. Sampai jumpa besok. Waktuku sudah hampir habis.." aku melihat ke arah jam tanganku. Aku ada janji dengan seseorang. "hapus air matamu sayang, nanti calon suami melihat."
And then.. a lil bit kiss..
Selama sedetik aku mencecap bibirnya dan menelisik lidahnya secara singkat. Viona begitu kaget dan bahkan tak bereaksi apapun sampai beberapa langkah kemudian aku mendengarnya mengumpatku dengan lirih namun terdengar jelas
"Bastard.."
.
.
.
Tak pernah terbayangkan sedikitpun dalam hidupku, aku akan menikah dengan calon tunggal CEO sebuah brand terkemuka. Dan hubungan aneh kami didasari atas kepura-puraan untuk membahagiakan papanya. Dan itu sepertinya berhasil. Pak salim tampak cerah dan bahagia, duduk mengapit Rei dan ibunya. Menghantarkan sang putra melamarku..
"Jadi bagaimana nak Vio? Apakah lamaran putra om diterima?"
Jawabannya pasti iya. Mau jawab apa lagi, orang aku sudah nanda tangani kontraknya kok. Aku menandatanginya kemarin setelah aku menyelesaikan masalahku dengan Alex. Tapi sebenarnya belum mbener-bener selesai sih tu urusanku sama si Alex. Aku, dengan sangat amat terpaksa, membeberkan kontrak pernikahan itu pada Alex. Well, dia lumayan memaklumi karna pak salim sakit, tapi katanya aku tidak bisa bebas begitu saja. Damn..damn.. damn.. yang paling sialan itu waktu Alex ngajuin syarat, dia mau kencan denganku!
Amit-amit cabang bayi deh kencan sama Alex. Dengan cepat aku menolaknya mentah-mentah. Tapi Alex punya jurus jitu lainnya. Dia mengancam akan membeberkan pernikahan palsuku dengan Rei pada media. Itu terlalu kejam. Dasar. Seharusnya aku tak memberitahunya, bagaimana kalau Pak Salim tahu. Bisa rusak semua rencananya. Alex memberi keringanan, bukan keringan juga kali karna syarat itu terlalu berat. dia berjanji tidak akan melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, bahkan Rei sendiri tidak akan mengetahuinya. Ceritanya aku disuruh selingkuh apa.
Dengan berat hati, dan jengkel,marah, sebel tentunya, aku menyetujuinya. Entah kapan kami akan berkencan, dia akan memberitahuku jika ada waktu. Huh sok sibuk. Eh.. malahan ding, biar dia sibuk terus dan aku tak akan pernah bekencan dengannya..!!
"Iya.."jawabku mantap.
"Alhamdulillah.." tante Kinan mengucap syukur diikuti yang lainnya. Malam ini tampak sempurna, andaikan ini memang benar-benar nyata. Maksudku jika saja yang ada dihadapanku ini benar-benar keluarga orang yang aku cintai dan akan menikah denganku. Pastinya aku akan bahagia.. itukah yang namanya bahagia??
Setelah tanya jawab ini itu, membicarakan kebiasaan-kebiasaan keluarga terutama kebiasaan-kebiasaan kami. Masa lalu, dan berbicara tentang masa depan tentunya. Untung ayah nggak bahas tentang ibu, maksudku ibu tiriku itu. Aku melarangnya ikut acara ini. Nggak tau deh dia kemana, yang penting dia nggak ikut. Aku males liat mukanya.
"Viona.. bisa bicara sebentar?" pak Salim menghelaku menyingkir ke sudut ruangan sementara yang lain masih asyik berbincang dengan ayahku.
"Ya..om."
"Saya tahu, hubungan kamu dan Rei baru seumur jagung tapi saya sudah memaksakan kalian dengan pernikahan ini." Pak salim berhenti sebentar mengambil napas. "dan saya harap kamu benar-benaar tulus mencintainya.. dia anak yang baik.."
Setiap ucapan pak salim seperti tusukan-tusukan jarum yang menembus ulu hatiku. Tidakkah dia tahu bahwa aku dan Rei membohonginya. Dosa itu seperti di hempas langsung padaku.
"Saya.. akan berusaha sebisa saya." Sebisa mungkin aku meyakinkan pak salim meski berat sekali melakukannya.
"Terima kasih Vio.. saya percaya, kalian pasti akan bahagia."
Dan begitulah. Seminggu kemudian kami bertunangan. Rei dan keluarganya datang kembali menghantarkan mahar alias mas kawin. Aku terusik akan kehadiran nenek lampir yang ngikut acara ini. Katanya ayah sudah melarangnya tapi dia maksa ingin ikut, cih.. kenapa dia tiba-tiba tertarik dengan kehidupanku? Biasanya diaa anti pati, bahkan waktu aku masih di rumah dia sering tak mau sarapan atau makan bersama di ruang makan. Apa karna aku dapet cowok kaya raya yang kece yang akan jadi mantunya gitu apa.
Aku nggak tau apa aja yang dikasih sama Rei. Dan ngomong-ngomong kapan dia belinya ya. Sekilas aku melihat tumpukan make up, sepatu, kain, baju, perhiasan tentunya dan sebagainya. Ya ampun, kayak mau nikah beneran, niat banget sih. Yah.. anggap saja itu bonus di awal, walau aku masih nggak enak hati sama pak salim karna teringat ucapannya beberapa waktu lalu. Untuk mencintai putranya setulus hati.
Ayahku. Dia tampak bahagia. Andai dia tahu yang sebenarnya mungkin dia akan melarangku melakukan hal ini, dan seandainya dia melarangkupun aku tetap akan ngotot. Seperti kekehnya dia ketika mau menikahi si wanita lampir itu. Dia sangat senang dan welcome banget dengan keluarganya Rei. Aku sedikit bersyukur karenanya. Jadi nggak nambah masalah ini itu lagi.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 18"

Post a Comment