“Bawain apa maksud lo?” aku bertanya tanpa menoleh padanya, sibuk menelusuri monitor.
“Ya apa kek, makan siang, kopi atau apa? Dia kan cuman tiga tingkat di atas kita.”
Deg..
Sepertinya Gio agak curiga dengaan kepasifanku terhadap Rei. oke, sepertinya ide dia membawakan makan siang bagus juga..
“Yah.. maklum, kita kan
lagi sibuk banget nih. Lagian Rei juga belum pasti ada di ruangannya..
emang aku ada rencana kayak gitu sih, cuman belum sempet mungkin siang
ini aku akan membawakan sushi dari food court yang di bawah.” Haha..
rencana apaan, rencana dadakan dari idemu itu Gio!
“Yang produk makanan
ringan ada dibagian mana nih? Taruh di depan atau di belakang?” Gio
telah mengubah topik pembicaraan kami. Syukurlah dia tak begitu curiga.
Yah.. memang aku sepertinya juga harus aktif sebagai istri seorang
direktur yang cuman beberapa lantai di atasku. Akan aneh jika aku sama
sekali tak mengunjunginya dan malah sebaliknya, dia sudah berkali-kali
ke ruanganku.
“Itu di tengah aja, itu poin utama kita.”
“Oke.”
Gio masih asyik menyusun
naskah presentasinya, aku diam-diam memesan ke pelayan food court
lantai satu untuk menyiapkan susi satu paket.
Tepat setelah bel makan
siang berbunyi (iya, di kantorku emang ada bel kayak tanda masuk anak
sekolah. Katanya itu mengingatkan kita agar segera beristirahat dan
meninggalkan pekerjaan apapun) aku meluncur ke lantai bawah dan
mengambil pesananku. Kemudian aku naik, naik ke lantai dua belas.
Huft.. ini pertama
kalinya aku ke ruangan Rei. aneh sekali rasanya aku ke sana sebagai
seorang istrinya, bukan sebagai manager yang ingin menemui direkturnya
dan melaporkan sesuatu.
Ting..
Lantai dua belas..
Aku bertanya pada seorang pegawainya apa Rei ada diruangannya.
“Ibu siapa ya? Apa sudah punya janji?”
“Saya manager pemasaran, tidak. Saya tak punya janji, saya hanya..”
Dengan cepat wanita yang kutanyai menyela perkataanku “maaf bu, pak Raihannya nggak bisa ditemui kalo ibu belum punya..”
“Biarkan dia masuk. Dia istrinya pak Raihan.” Dengan cepat pula seseorang menyela bicaranya.
Clara. Oke, aku
terbantu. Seenggaknya aku tak harus menjelaskan siapa aku, agak risih
jika aku harus mengatakan atau menjelaskan kalau aku ini istrinya. Istri
gadungannya.
“Oh.. ma.. maafkan saya. Saya tak bermaksud begitu karna memang beliau sedang ada tamu..” raut wajahnya berubah pucat.
"Thank's Clara.." aku
memberinya senyuman sebagai rasa terima kasih. Ya, dia masih seperti
super model dalam busana formalnya. Kaki jenjangnya dibalut hak tinggi,
duh.. gwe kalah tingi abis deh ama dia. Mungkin kalo dia ikut top model
bisa menang tuh.
Sekarang.. ke ruangannya Rei..
Nggak tau kenapa aku kok
deg-degan gini.. hihi.. oh ya.. mungkin karna ini pertama kalinya aku
memberikannya sesuatu. Saat kupegang handle pintu ruangan Rei aku
mendengar suara tawa, tawa seorang perempuan..
But wait..
Aku terlanjur mendorong pintunya.
Tawa itu segera
berhenti, dan ada dua pasang mata yang kini menatapku dengan tatapan
yang er.. berlawanan. Yang satu tampak tak suka melihat kehadiranku,
oh.. hei sepertinya aku tau dia, tampak tak asing.. aku memutar memoryku
mencoba mengingatnya. Ya! Tentu saja dia yang ada di pernikahan Gio
waktu itu. Yang ngobrol lama dengan Rei .Rei.. dia tampak sebaliknya
“Sayang..!!” aku tak suka panggilan itu :3
“Oh.. hay, aku membawakanmu makan siang.”
Hal yang tak kuduga
adalah, ketika Rei mengambil kotak makan siangku, diameraih tengkukku,
memberiku ciuman yang ringan, namun dalam..
Sialan! Apa-apaan itu! Jantungku serasa berhenti sesaat.
“Terima kasih sayang.. kau juga makan disini kan?”
“Ah.. tidak, aku akan makan dengan rekan-rekanku. Nanti aku nggak lembur, jadi kita bisa pulang lebih awal.”
Rei tersenyum, entah kenapa senyumnya sangat mistis. “Baiklah, aku mengerti.”
“Aku pergi dulu..”
“Kau tak melupakan sesuatu sayang?”
Aku berbalik lagi menghadap Rei. dan dia..
Jari telunjuknya mengarah ke bibirnya. What the .. mukaku mungkin langsung merah padam. Marah, malu dan ..
Aku ngerti tentang
perjanjian itu, makanya aku setuju dengan pernikahan ini. Katanya nggak
akan ada kontak fisik kecuali di depan umum atau itu memang di perlukan.
Dan kini apa yang dia lakukan??!! Disinikan cuman ada satu orang saja,
nggak perlu seekstrim itu
Rei masih tersenyum
sambil menunjuk bibirnya. Aku kembali maju mendekatinya. Oh.. apa yang
harus aku lakukan?? Tiba-tiba jantungku berpacu secepat kereta api
ekspress. Rei jauh lebih tinggi dariku, jadi aku harus sedikit berjinjit
dan menarik kerah jas Rei agar aku bisa menciumnya..
Cepat, singkat dan sama sekali tak romantis.
“Sampai jumpa Vio..”
“See you..”
.
TBC
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 29"
Post a Comment