Hopeless Part 29

“Lo kok nggak pernah bawain suami lo apa-apa sih, dia aja udah selalu setia nemenin lo tiap malem.” Gio berkata sembari mengelompokkan beberapa pekerjaan karyawan lain sebagai bahan presentasi.
“Bawain apa maksud lo?” aku bertanya tanpa menoleh padanya, sibuk menelusuri monitor.
“Ya apa kek, makan siang, kopi atau apa? Dia kan cuman tiga tingkat di atas kita.”
Deg..
Sepertinya Gio agak curiga dengaan kepasifanku terhadap Rei. oke, sepertinya ide dia membawakan makan siang bagus juga..
“Yah.. maklum, kita kan lagi sibuk banget nih. Lagian Rei juga belum pasti ada di ruangannya.. emang aku ada rencana kayak gitu sih, cuman belum sempet mungkin siang ini aku akan membawakan sushi dari food court yang di bawah.” Haha.. rencana apaan, rencana dadakan dari idemu itu Gio!
“Yang produk makanan ringan ada dibagian mana nih? Taruh di depan atau di belakang?” Gio telah mengubah topik pembicaraan kami. Syukurlah dia tak begitu curiga. Yah.. memang aku sepertinya juga harus aktif sebagai istri seorang direktur yang cuman beberapa lantai di atasku. Akan aneh jika aku sama sekali tak mengunjunginya dan malah sebaliknya, dia sudah berkali-kali ke ruanganku.
“Itu di tengah aja, itu poin utama kita.”
“Oke.”
Gio masih asyik menyusun naskah presentasinya, aku diam-diam memesan ke pelayan food court lantai satu untuk menyiapkan susi satu paket.
Tepat setelah bel makan siang berbunyi (iya, di kantorku emang ada bel kayak tanda masuk anak sekolah. Katanya itu mengingatkan kita agar segera beristirahat dan meninggalkan pekerjaan apapun) aku meluncur ke lantai bawah dan mengambil pesananku. Kemudian aku naik, naik ke lantai dua belas.
Huft.. ini pertama kalinya aku ke ruangan Rei. aneh sekali rasanya aku ke sana sebagai seorang istrinya, bukan sebagai manager yang ingin menemui direkturnya dan melaporkan sesuatu.
Ting..
Lantai dua belas..
Aku bertanya pada seorang pegawainya apa Rei ada diruangannya.
“Ibu siapa ya? Apa sudah punya janji?”
“Saya manager pemasaran, tidak. Saya tak punya janji, saya hanya..”
Dengan cepat wanita yang kutanyai menyela perkataanku “maaf bu, pak Raihannya nggak bisa ditemui kalo ibu belum punya..”
“Biarkan dia masuk. Dia istrinya pak Raihan.” Dengan cepat pula seseorang menyela bicaranya.
Clara. Oke, aku terbantu. Seenggaknya aku tak harus menjelaskan siapa aku, agak risih jika aku harus mengatakan atau menjelaskan kalau aku ini istrinya. Istri gadungannya.
“Oh.. ma.. maafkan saya. Saya tak bermaksud begitu karna memang beliau sedang ada tamu..” raut wajahnya berubah pucat.
"Thank's Clara.." aku memberinya senyuman sebagai rasa  terima kasih. Ya, dia masih seperti super model dalam busana formalnya. Kaki jenjangnya dibalut hak tinggi, duh.. gwe kalah tingi abis deh ama dia. Mungkin kalo dia ikut top model bisa menang tuh.
Sekarang.. ke ruangannya Rei..
Nggak tau kenapa aku kok deg-degan gini.. hihi.. oh ya.. mungkin karna ini pertama kalinya aku memberikannya sesuatu. Saat kupegang handle pintu ruangan Rei aku mendengar suara tawa, tawa seorang perempuan..
But wait..
Aku terlanjur mendorong pintunya.
Tawa itu segera berhenti, dan ada dua pasang mata yang kini menatapku dengan tatapan yang er.. berlawanan. Yang satu tampak tak suka melihat kehadiranku, oh.. hei sepertinya aku tau dia, tampak tak asing.. aku memutar memoryku mencoba mengingatnya. Ya! Tentu saja dia yang ada di pernikahan Gio waktu itu. Yang ngobrol lama dengan Rei .Rei.. dia tampak sebaliknya
“Sayang..!!” aku tak suka panggilan itu :3
“Oh.. hay, aku membawakanmu makan siang.”
Hal yang tak kuduga adalah, ketika Rei mengambil kotak makan siangku, diameraih tengkukku, memberiku ciuman yang ringan, namun dalam..
Sialan! Apa-apaan itu! Jantungku serasa berhenti sesaat.
“Terima kasih sayang.. kau juga makan disini kan?”
“Ah.. tidak, aku akan makan dengan rekan-rekanku. Nanti aku nggak lembur, jadi kita bisa pulang lebih awal.”
Rei tersenyum, entah kenapa senyumnya sangat mistis. “Baiklah, aku mengerti.”
“Aku pergi dulu..”
“Kau tak melupakan sesuatu sayang?”
Aku berbalik lagi menghadap Rei. dan dia..
Jari telunjuknya mengarah ke bibirnya. What the .. mukaku mungkin langsung merah padam. Marah, malu dan ..
Aku ngerti tentang perjanjian itu, makanya aku setuju dengan pernikahan ini. Katanya nggak akan ada kontak fisik kecuali di depan umum atau itu memang di perlukan. Dan kini apa yang dia lakukan??!! Disinikan cuman ada satu orang saja, nggak perlu seekstrim itu
Rei masih tersenyum sambil menunjuk bibirnya. Aku kembali maju mendekatinya. Oh.. apa yang harus aku lakukan?? Tiba-tiba jantungku berpacu secepat kereta api ekspress. Rei jauh lebih tinggi dariku, jadi aku harus sedikit berjinjit dan menarik kerah jas Rei agar aku bisa menciumnya..
Cepat, singkat dan sama sekali tak romantis.
“Sampai jumpa Vio..”
“See you..”
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 29"

Post a Comment