Hopeless Part 38

Viona menekuk wajahnya ketika mengenaliku. Bibir dalamnya digigit menunjukkan kekesalannya. Dia tampak kacau, sepertinya paginya berjalan buruk. Aku turun dari bangku penumpang dan menghampirinya yang masih diam dan menatapku tak suka.
"Kau butuh bantuan?" kuulangi pertanyaanku.
"Kau tau tentang mesin mobil?" Viona bali bertanya. Tentu saja aku tau!
"Tidak. Kenapa? Mobilmu bermasalah?" dulu aku pernah diantar dengan mobil vw nya ini dan sepertinya mobilnya sudah berumur, meski bisa dipacu dengan cepat. Tapi aku tahu ada yang tidak beres dengan kendaraan itu dari suaranya.
"Kalau gitu kau tak bisa membantuku." Ujarnya ketus.
"Akan kupanggilkan derek. Aku akan mengantarmu ke Orion." Tawarku.
Viona tampak berpikir lalu melihat ke jam di tangannya. Inikan masih jam tujuh kurang, apa dia takut telat. Lagian jarak ke Orion tak begitu jauh dari sini. "Ok." Segera kubukakan pintu depan. Pak Yanu kuminta menjaga mobil Viona sampai mobil derek datang.
"Kau tampak buru-buru? Bukankah ini masih pagi." Aku menyuarakan keherananku.
"Ya. Bisakah kita cepat sedikit." Ck! Kenapa buru-buru sekali sih! Apa dia kerja sepagi ini? Yang kutahu di perusahan Rei jam kerjanya di mulai pukul delapan seperempat.
Aku meliriknya sekilas. Yah, dia sangat kacau pagi ini. Butir-butir keringat muncul di pelipis dan atas bibirnya, lehernya juga lengket dengan beberapa helai rambut yang telah lolos dari sanggulnya. Seksi. Dan yang lebih membuat tampak menarik adalah wajahnya yang sama sekali tanpa sentuhan riasan.
"Apa kerjaanmu lebih penting dari dirimu?" aku bisa merasakan ia menoleh dan memberiku tatapan sinis.
"Ya." Jawaban yang tak kalah sinis dari tatapannya.
"Kenapa kau masih pakai mobil itu? Bukannya Rei punya banyak mobil?" seingatku Rei punya beberapa mobil yang cukup bagus. Tak lebih bagus dari koleksiku tapi.
"Ya dia memang punya."
"Kenapa kau tak memakainya?"
"Karna punya dia, Bukan punyaku."
"Kau kan istrinya."
"Jangan bergurau." Viona tertawa sinis. Ada apa sih dengannya, dia tak seperti biasanya. "Kau kan tahu sendiri aku istri macam apa." Ia makin kesal, menggeledah tasnya dengan serampangan lalu mengeluarkan sebuah wadah berisi botol-botol. Aku melihat melalui sudut mata, rupanya wadah alat make up nya.
"Yeah aku tau, tapi kau pasti dapat keuntungan kan dari kontrak itu."
"Bukan urusanmu." Ia mulai mengaplikasikan peralatan make upnya. Cih. Aku heran dengan Rei. Kenapa ia membiarkan Viona bekerja keras, sampai-sampai tak ada waktu mengurus dirinya sendiri. Kalau aku jadi dia, akan kumanjakan Viona dan tak akan kuijinkan dia kerja kayak gini.
"Lalu kenapa kau mau menikah dengannya kalau nggak ada pengaruhnya buatmu."
Viona diam tak menjawab, dia asyik memoleskan sesuatu di sekitar matanya. Kubanting stir hingga wadah make up yang ada di pangkuannya jatuh dan isinya jatuh berhamburan. "Ya Tuhan. Alex!" Viona menjerit kaget dan mencengkeram jok kulit dengan kencang.
"Tidakkah kau berlaku sopan pada orang yang memberimu tumpangan." Aku menepikan mobil.
"Hei.. aku sudah telat Alex. Jika kau tak mau membantuku bilang saja." Gerutu Viona. Ia memunguti alat make upnya yang tercecer.
"Aku memang sedang membantumu. Jadi bisakah kau setidaknya berterima kasih."
"Apa maumu?!" dia mengembalikan semua barang ke dalam wadah seperti semula. Tadi dia bilang apa mauku? Hm..pertanyaan yang menarik.
"Menghapus lipstik di bibirmu.." seringaiku muncul, sementara wajah Viona kaku. Aku mengambil kesempatan ini untuk mendekat membungkuk melewati konsol. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum tipis dan yang paling membuatku jantungku berhenti adalah ketika melihat matanya. Ia memandang lurus padaku dengan tatapan kosong dan terluka.
"Semua pria sama saja. Mereka hanya memandang wanita sebatas makhluk lemah yang bisa dijadikan properti saja. Dan dengan mudah mereka merendahakan wanita." Dia seolah berbicara lebih pada dirinya sendiri. Otakku terus berputar mencerna kata-katanya, sementara Viona dengan gesit mengambil tasnya dan keluar dari mobil.
Saking terpananya aku sama sekali tak bisa menghentikannya saat dia dengan cepat memberhentikan sebuah taksi yang sialnya sedang lewat. Meninggalkanku dengan pikiran tentang ucapannya yang terakhir. Bagaimana dia bisa berpikiran seperti itu?
Aku harus menanyakannya. Lagipula aku punya alasan untuk menemuinya. Senyumku mengembang melihat dua benda tergeletak di jok penumpang dan satunya di dekat konsol.
.
.
.
Tiba di kantor dengan sedikit berlari dari gerbang depan. Masih sepi karena memang ini masih terlalu pagi untuk siapapun tiba di kantor. Gio sudah kuhubungi untuk secepatnya datang dan memantuku menyelesaikan laporan. Dia menggerutu, tapi langsung kubentak. Lagipula dia sudah mendapatkan keringanan beberapa hari lalu dengan absennya.
"Bahkan Wanda saja belum dateng." Tak ada seorangpun di lobi, meja resepsionis masih kosong. Apa aku orang pertama yang datang ya. Sampainya di lantai sembilan aku hanya berpapasan dengan office girl yang sedang membersihkan lantai.
Setelah beberapa saat berkutat dengan monitor di depanku, kepala Gio muncul dari balik pintu ruanganku dengan nafas maratonnya. "Gwe kira lo becanda, ya ampun Vi, lo berangkat jam berapa sih?"
"Udah ga usah banyak omong. Tolong bantuin gwe, bagian lo udah gwe jadiin satu di folder biasa." Gio langsung menarik kepalanya tanpa berkata apapun lagi. Dia tahu betul aku sedang dalam mood apa. Dan Gio sama sekali tak ingin mengambil resiko.Dan mataku kembali fokus pada barisan angka yang ada di monitor sementara jari-jariku memukul tombol di keyboard. Fokus. Fokus. Fokus.
Satu jam kemudian Gio mengirimiku pesan, memberitahukan kalau kerjaannya sudah beres.
From:
Gio
Udah selesai nih. Gwe sarapan dulu ya boss. Demi elu nih gwe korbanin sarapanan gwe bareng Naya.
To:
Gio
Gwe traktir makan siang lo ntar.
From:
Gio
Sebenernya lo nylametin gwe dari masakan Naya yang 'sedaap'.
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala membaca pesannya. Separah itukah masakannya Naya, sepertinya dia perlu menukar sedikit kemampuan bisnisnya dengan memasak kalau bisa.
Kerjaan Gio kubagungkan dengan punyaku yang juga hampir selesai. Gio memang bisa diandalkan untuk urusan seperti ini. Waktu yang mepet. Dia sebanarnya bisa melakukan hal apapun, dengan satu syarat : kepepet.
Yap. Syukurlah selesai sudah laporanku. Aku butuh minuman yang menyegarkan untuk merilekskan keadaanku. Gio tengah asyik dengan sarapannya di meja dekat jendela. Aku bergabung dengannya dengan membawa segelas besar caramel macchiato.
"Nggak biasanya lo nggak on time ngerjain tugas. Malah setau gwe baru kali ini." Gio bertanya disela-sela suapannya.
"Lagi darurat." Jawabku sekenanya
"Muka lo tu juga kek bakwan basi tau." Sialan nih Gio. Dia mengeluarkan ponselnya lalu menghadapkannya ke mukaku.
"Ngapain lo foto gwe?" Dia menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan potret mukaku yang cant- Anjir!!! Sialan. "Lo kok nggak kasih tau dari tadi sih!"
"Yaelah say, tadi aja lo langsung nyolot pas gwe dateng. Lo bilang nggak usah banyak bacot, ya udah gwe nggak bilang apa-apa." Damn! Iya tadi aku nyuruh si Gio nggak usah banyak omong supaya cepet selesai kerjaannya. Tapi nggak yang kayak gini juga kali. Masa iya mataku belepotan maskara Gio nggak ngasih tau sejak tadi. Aku kan udah ketemu banyak orang tadi! Pantesan ada tatapan aneh dari penumpang lift tadi, trus mbak Tantri penjaga kasir kantin memandangku dengan geli.
"Sialan lo!" aku segera menghapus noda maskara yang menghitamkan pelipis kiriku.
"Ada masalah apa emangnya. Nggak biasanya lo kacau gini." Dih, apa keliatan banget aku lagi kacau.
"Mobil gwe mogok." Itu salah satunya.
"Laporan lo?" kejar Gio.
"Kemaren kecapekan, trus ketiduran. Lupa. Nggak sempet." Makin ngaco alasanku.
"Jangan maksain diri dong Vi. Lo kan baru sembuh, ntar sakit lagi. Kasian juga Rei, dia pasti kepikiran kalau lo sakit lagi." Kepikiran pala lo! Gwe kacau gini gara-gara makhluk itu tau! "Memang lo dikejar dead line buat besok, tapi kesehatan lo yang paling penting. Bukannya semua udah beres, dan kukira kau sudah hafal diluar kepala materi untuk besok, karna semua ide rancangannya kan dari lo."
"Bukan gwe aja yang aneh pagi ini kayaknya. Kenapa lo juga jadi aneh nasehatin gwe gini?" baru kali ini Gio ngomong panjang lebar tentang sesuatu diluar kerjaannya.
"Ini demi kebaikan lo." Iya, dan Gio sama sekali apa yang sebenarnya terbaik untukku kalau tau kelakuan Rei. "dan kebaikan Rei." Haha.. kebaikan Rei dari segi apa? "Dia sangat mencintaimu Vi.." Apa?!! Aku hampir menyemprotkan minumanku ke muka Gio. Ya Tuhan.. akting pernikahan ini pasti terlihat dahsyat. Sampai-sampai Gio percaya kalau Rei cinta sama aku.
Aku tersenyum tipis menanggapi 'nasihat' Gio. "Yeah, i know.. i know.. cuman sekali ini doang kan gwe kacau? Jangan khawatirin gwe Gi."
.
.
.
Viona :
Kau bisa memberiku nomor bengkel yang membawa mobilku?
Alex :
Mobil yang mana?
Viona :
Huh. Kau pikir lucu Tn. Curtiz?
Alex :
Tunggu aku di depan kantormu.
Viona :
Aku minta nomor bengkel, bukan kau yang datang -_-
Dengan gontai Viona menuju gerbang depan Orion. Bukan untuk menemui Alex, tapi mencari taxi. Sialnya hari sedikit gerimis dan dia tak memakai pakaian hangat. Sebenarnya tadi dia memakai mantel wol yang cukup tebal tapi dia meninggalkannya di mobil Alex beserta seperangkat alat make up nya karena terburu ke kantor.
Viona berlari kecil menghindari rintik hujan ke tempat berteduh di pinggir jalan raya untuk menunggu taxi. Disana ada beberapa karyawan Orion juga yang sedang menunggu taxi atau bus. Beberapa bangku tampak lengang. Viona mengisi salah satu tempat duduk dan memeriksa ponselnya. Ada pesan dari Gio, lagi-lagi mengkhawatirkan dirinya. Viona mendesah dan tersenyum, mendapati sekretarisnya jadi lebih perhatian terhadap dirinya. Andai Gio tahu apa yang sedang terjadi pada Viona mungkin dia akan jadi super perhatian dibanding sekarang.
"Ayo pulang." Bersamaan dengan ajakan itu, sebuah mantel tersampir di pundak Viona. Tak diragukan lagi siapa yang menyampirkan mantel wol itu kalau bukan Alex.
"Siapa bilang aku mau pulang." Ujar Viona ketus.
"Akan kuantar kemanapun kau ingin pergi."
"Aku tak butuh tumpanganmu." Viona masih mempertahankan kesinisannya. Dia memang sedang ingin pergi sendiri ke suatu tempat.
"Jadi kenapa kau mau menungguku disini saat kuminta?"
"Dengar ya Mr. Curtiz, aku disini menunggu taxi bukan memenuhi permintaanmu. Jadi segera bawa pantatmu dari sini dan bawa pulang bi em double you mu itu!" Capek dan lelah membuat emosi Viona kesal menghadapi Alex.
"Well, karena kau sudah membahas tentang 'pantat' ku yang indah ini. Aku akan segera memperlihatkannya padamu jika kau sebegitu tergodanya dengan pantatku. Dan aku tak keberatan jika kau ingin lihat yang lainnya." Alex tersenyum penuh arti.
Viona memutar matanya, muak dengan kata-kata Alex. "Terserah kau lah."
"Baiklah kalau begitu Mss. Kamal, oups.. maksudku Mrs. Husain. Terserah padaku huh?" Tanpa membuang waktu lagi Alex menyeret Viona ke arah mobilnya tak memperdulikan tatapan tak suka dari orang-orang di sekitarnya karna memaksa seorang gadis.
"Nah, sekarang kau mau kemana? Atau kau mau langsung aku tunjukkan 'pantat indahku'?"
"Rumah sakit." Jawab Viona dengan muka masam.
"Mana."
"Rumah sakit yang jadi arena berantem kayak anak TK antara elo dan Rei." Geraman Viona justru membuat Alex terkekeh geli.
"Baiklah tuan putri, sesuai permintaan anda. Kita akan tiba dalam beberapa menit." Alex mulai melajukan BMW hitamnya. "Ngomong-ngomong, kau mau kontrol ya?"
"Tidak."
"Menjenguk seseorang?"
"Tidak"
"Donor darah?"
"Tidak"
"Organ?"
"Tidak
"Lalu?"
"Bukan urusanmu."
Alex hampir kehabisan ide mengorek tujuan Viona pergi ke rumah sakit. Kemudian ia mengganti topik pertanyaannya. "Kenapa kau tak minta Rei mengantarmu?"
"Kenapa kau memaksa untuk mengantarku?"
Alex menghela nafas panjang. Kesabarannya benar-benar sedang diuji. Susah sekali mengajak bicara baik-baik dengan gadis ini.
"Karna aku mau. Dan aku bisa." Jawabnya tegas. Setelah itu tak ada lagi yang bersuara sampai mereka tiba di pelataran parkir rumah sakit.
"Terima kasih telah mengantarku Alex. Kau bisa pergi sekarang." Viona segera melenggang tanpa menoleh sekalipun. Lagi-lagi Alex menghembuskan nafas kesabarannya. Ia tak berniat untuk pergi.
.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 38"

Post a Comment