Kami mandi bergantian
lalu turun untuk makan malam. Makan malam yang dirancang Rei sedemikian
rupa agar katanya tidak mencurigakan. Kalau menurutku malah berlebihan.
Ini kayak waktu dia nglamar aku, memesan semua tempat dan live bandnya
mainin lagu ballad yang romantis-romantis. Makanannya juga nggak kalah
wow, tau deh namanya apaan, yang pentingmah di mulut gwe enak aja haha..
memang aku sering dibilang jago masak, tapi bukan berarti aku tau
nama-nama masakan yang suka aneh-aneh, aku mah masak ya masak aja.
"Aku sudah selesai,
bolehkah aku ke kamar?" makanan enak langsung membuatku cepat kenyang
dan ngantuk. Ingin rasanya cepat-cepat tidur dan melepas lelah. Kakiku
rasanya juga mau copot berdiri seharian.
"Tunggu sebentar..
bisakah kita berdansa dulu? Anehkan di suasana seromantis ini kita nggak
ngapa-ngapain." Dansa? Ya, kita akan berdansa dan akan kuinjak kakimu.
Seumur-umur aku kan nggak pernah berdansa. Rei terlanjur menarik
tanganku dan mendekat pada band yang sedang bermain.
"Rei aku nggak bisa dansa.."
"Dansa tak perlu teori apa-apa Vio.. bergrerak saja menurut irama musiknya.."
Aku tak tahu lagu apa
yang mereka mainkan, tapi musiknya sangat lembut dan menggoda untuk
bergerak. Rei menggamit dan menghelaku bergerak ke kanan dan ke kiri.
Awalnya sedikit cepat, karna kami juga bersemangat, tapi lama-lama kami
melambat dan tanpa kusadari entah dari kapan Rei menatapku tanpa
berpaling sedikitpun. Pandanganku seperti tersedot ke matanya yang
sehitam langit malam. Matanya terlalu indah seperti pendulum yang
menghipnotisku ke dalam auranya yang begitu kuat.
Sampai akhirnya aku tersadar..
Bahwa dia terlalu dekat, dalam hal apapun. Kami hampir tak berjarak lagi, dan pertahanan hatiku mulai terkikis..
.
.
.
.
.
Andai aku bisa
menghentikan waktu sekali saja, mungkin aku akan memilih saat ini. Aku
tak mampu lagi melepaskan pandanganku darinya, wajahnya yang sayu
seperti magnet alam yang terus menarikku mendekat. Bibirnya yang mungil
terlalu menggodaku, aku tak tahan lagi untuk tak menciumnya!
Pertama aku hanya mengecup bibirnya dengan lembut, menunggu responnya apakah dia bersedia.. rasanya jantungku hampir berhenti..
Viona hanya diam saja,
tak memberi respon apapun. Apakah artinya dia menerimaku? Aku sudah tak
bisa berpikir jernih lagi, lidahku menggodanya agar bibirnya mau
terbuka. Dan sebuah kejutan.. dia mempersilahkan bahkan balas memagutku.
Demi tuhan! Dia sangat lembut dan hangat, entah berapa lama kami berciuman, aku ingin momen ini tak pernah berakhir..
Tapi tiba-tiba Viona menegang dan menghentikan semuanya..
"Maaf.." katanya sambil tertunduk. Aku menarik dagunya agar bisa memandang wajahnya lagi.
"For what?" aku memandangi iris-iris matanya yang berwarna cokelat keemasan.
"I can't.. aku.. aku akan kembali ke kamar." Viona melepaskan gamitanku dan tanpa berpaling lagi keluar dari restoran.
Musik masih terus
mengalun, aku termenung dengan kejadian barusan. Seharusnya aku tak
terburu-buru. Aku sudah berhasil membawa ke pernikahan ini, jadi sudah
semestinya aku bisa mengambil hatinya dalam waktu dekat..
Sewaktu kembali ke
kamar, Viona sudah berbaring meringkuk dengan selimut menutup seluruh
badannya. Hanya kepala munglnya saja yang menyembul dari balik selimut.
Tapi dia belum sepenuhnya tidur, aku tahu karna wajahnya masih terlihat
gelisah dan tubuhnya tegang dengan napas yang ditahannya.
Ya..memang terlalu terburu-buru rupanya tindakanku..
Kunyalakan televisi
dengan suara pelan dan membaringkan tubuhku diatas sofa. Viona terus
saja membolak-balikkan badan di ranjangnya. Sepertinya dia masih belum
bisa tidur. Kumatikan kembali televisinya dan pindah ke ranjang.
Viona terkejut akan
kehadiranku, dia agak beringsut matanya setengah terbuka. "Tenang,
jangan takut.." aku menariknya ke dalam dekapanku.
"Ergh..Rei.." dia sedikit melawanku tapi kantuk sudah membuyarkannya.
"Tidurlah.. kau mau kunyanyikan sebuah lagu?"
"Ergh.." Viona merengek lagi, seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan. Dia sangat lucu..
"Close your eyes, give me your hand, darling
Do you feel my heart beating ?
Do you understand ?
Do you feel my heart beating ?
Do you understand ?
Do you feel the same ?
Am I only dreaming ?
Is this burning an eternal flame ?
Am I only dreaming ?
Is this burning an eternal flame ?
I believe it's meant to be, darling
I watch you when you are sleeping
You belong with me
Do you feel the same ?
Am I only dreaming ?
Or is this burning an eternal flame ?
Say my name, sun shines through the rain
A whole life so lonely
And then you come and ease the pain
I don't want to lose this feeling ...
Aku sama sekali tak
ingin kehilangan rasa ini Vio.. terima kasih telah hadir dan
menghilangkan semua lukaku.. dan kau juga telah mencairkan gunung es
yang ada di dalam hatiku, membakarku dalam rasa yang indah.."
Tanganku terus bergerak naik turun membelai lengannya, hingga nafasnya benar-benar teratur.
"Have a nice dream babby.." aku mengecup lembut bibirnya.
(Song by : Bangles, Eternal Flames)
Curcol dkit...
by the way umur saya
21, kejebak di tubuh 16,ceilleh :D , selera musik saya umur 30 wkwkw
tapi bkan berarti nggak suka musik jaman sekarang (penyuka ariana grande
tapi love roxxete juga, suka dngerin avril juga celin dion, gak
ketinggalan super junior vs boyzone , selera gwe kayaknya nerd banget hehe
.
.
.
.
"Do you feel the same ?
Am I only dreaming ?"
.
.
"Do you feel the same ?
Am I only dreaming ?"
Apa? Apa aku bermimpi?
Entah ada sebuah lagu yang menyelinap ke kepalaku. Rasa kantuk memang
sudah menyerang dari tadi tapi aku susah sekali terlelap.
"And then you come and ease the pain
I don't want to lose this feeling ... "
Lagu itu terus mengalun hingga aku benar-benar terlelap.
Sekitar jam sebelas
malam aku terbangun mendengar dering ponselku. Aku lupa mengubah modenya
jadi silent. Sial. Siapa sih malem-malem gini. Kuraih ponselku yang ada
di nakas.
Alex.
Kenapa lagi dia ya
Tuhan... aku sudah sangat bersyukur dia nggak dateng tadi pas acara
nikahan. Kenapa sekarang dia menghubungiku. Aku harus segera
mengangkatnya sebelum Rei terbangun.
Eh.. lho.. Rei kok ada
di ranjang? Jadi.. lagu yang aku mimpiin itu apakah ..? ah.. bukan
waktunya mencari kesimpulan. Aku harus menjawab panggilan dari Alex
dulu.
"Ada apa?" aku terlanjur menekan tombol penerima. Dengan perlahan aku turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
"Gimana malam pertamamu?" dasar kampret, dia kan tahu yang sebenarnya kenapa harus bertanya seperti itu.
"Elo ganggu malam pertama gwe!"
"Haha.. cepat kemari, aku di gedung bioskop sebelah hotelmu."
"Kenapa aku harus kesana?" iya, ngapain aku harus repot-repot kesana.
"Kau udah lupa dengan janjimu ya?"
"Aku tak pernah menjanjikanmu apapun!" suaralu menggema di dalam kamar mandi.
"Aku tunggu sepuluh menit lagi, atau akan kukirim rekaman cctv di lorong pada polisi."
Tut..tut..
Damn.. damn..!! Alex kau
sungguh... ingin kubunuh kau sekarang juga!! Sepuluh menit?? Ya ampun..
dengan cepat dan hati-hati agar nggak ketahuan sama Rei aku keluar
kamar. Tapi tunggu, pakaianku terlalu mencolok.
Ruang karyawan.
Yap.
Aku menemukan jaket di ruang ganti para karyawan hotel untunglah. Tinggal delapan menit lagi! Ya ampun, aku harus cepat..
Sampai lantai bawah aku
baru menyadari kalau aku masih memakai sandal selop milik hotel. Dan itu
meyulitkanku saat berlari. Ampun deh.. aku tak punya waktu untuk
berganti lagi. Tapi ngomong-ngomong gedung bioskop sebelah kanan atau
kiri. Aku berlari ke arah kiri, dan ternyata bukan, malah ada club
malam. Dengan susah payah aku berbalik dan berlari kembali ke arah kanan
hotel. Uh.. selop yang kupakai benar-benar menyusahkan.
Sampai! Dimana pria brengsek itu?
"Kau telat dua menit!"
"so?!"
Si congak itu dengan
anggkuh berdiri di salah satu pintu masuk studio. Ada sekotak penuh pop
corn dan segelas besar minuman bersoda.
"Ayo, filmnya hampir dimulai."
Dia.. benar-benar ngeselin!
Hmm..bioskop nggak
terlalu buruk. Nggak akan ada orang yang memperhatikan, aku juga bisa
tidur. Capeknya tuh udah nggak ketulungan lagi. Begitu film dimulai aku
langsung menutup mata, tau deh filmnya apa, setelah logo production yang
terkenal benget muncul aku langsung tertidur.
.
.
TBC
.
TBC
0 Response to "Hopeless Part 21"
Post a Comment