Hopeless Part 21

Kamar yang dipesan.. tentu saja satu bed!! Untungnya ada sofa yang cukup besar di dalam kamar. Aku dan Rei bebagi bantal dan selimut. Selimut yang sebelumnya ditaburi mawar merah yang membentuk pola hati, yaelah, macem2 aja ni hotel. Yah, tapi pelayanan yang bagus karna memang ini untuk pengantin baru.
Kami mandi bergantian lalu turun untuk makan malam. Makan malam yang dirancang Rei sedemikian rupa agar katanya tidak mencurigakan. Kalau menurutku malah berlebihan. Ini kayak waktu dia nglamar aku, memesan semua tempat dan live bandnya mainin lagu ballad yang romantis-romantis. Makanannya juga nggak kalah wow, tau deh namanya apaan, yang pentingmah di mulut gwe enak aja haha.. memang aku sering dibilang jago masak, tapi bukan berarti aku tau nama-nama masakan yang suka aneh-aneh, aku mah masak ya masak aja.
"Aku sudah selesai, bolehkah aku ke kamar?" makanan enak langsung membuatku cepat kenyang dan ngantuk. Ingin rasanya cepat-cepat tidur dan melepas lelah. Kakiku rasanya juga mau copot berdiri seharian.
"Tunggu sebentar.. bisakah kita berdansa dulu? Anehkan di suasana seromantis ini kita nggak ngapa-ngapain." Dansa? Ya, kita akan berdansa dan akan kuinjak kakimu. Seumur-umur aku kan nggak pernah berdansa. Rei terlanjur menarik tanganku dan mendekat pada band yang sedang bermain.
"Rei aku nggak bisa dansa.."
"Dansa tak perlu teori apa-apa Vio.. bergrerak saja menurut irama musiknya.."
Aku tak tahu lagu apa yang mereka mainkan, tapi musiknya sangat lembut dan menggoda untuk bergerak. Rei menggamit dan menghelaku bergerak ke kanan dan ke kiri. Awalnya sedikit cepat, karna kami juga bersemangat, tapi lama-lama kami melambat dan tanpa kusadari entah dari kapan Rei menatapku tanpa berpaling sedikitpun. Pandanganku seperti tersedot ke matanya yang sehitam langit malam. Matanya terlalu indah seperti pendulum yang menghipnotisku ke dalam auranya yang begitu kuat.
Sampai akhirnya aku tersadar..
Bahwa dia terlalu dekat, dalam hal apapun. Kami hampir tak berjarak lagi, dan pertahanan hatiku mulai terkikis..
.
.
.
Andai aku bisa menghentikan waktu sekali saja, mungkin aku akan memilih saat ini. Aku tak mampu lagi melepaskan pandanganku darinya, wajahnya yang sayu seperti magnet alam yang terus menarikku mendekat. Bibirnya yang mungil terlalu menggodaku, aku tak tahan lagi untuk tak menciumnya!
Pertama aku hanya mengecup bibirnya dengan lembut, menunggu responnya apakah dia bersedia.. rasanya jantungku hampir berhenti..
Viona hanya diam saja, tak memberi respon apapun. Apakah artinya dia menerimaku? Aku sudah tak bisa berpikir jernih lagi, lidahku menggodanya agar bibirnya mau terbuka. Dan sebuah kejutan.. dia mempersilahkan bahkan balas memagutku.
Demi tuhan! Dia sangat lembut dan hangat, entah berapa lama kami berciuman, aku ingin momen ini tak pernah berakhir..
Tapi tiba-tiba Viona menegang dan menghentikan semuanya..
"Maaf.." katanya sambil tertunduk. Aku menarik dagunya agar bisa memandang wajahnya lagi.
"For what?" aku memandangi iris-iris matanya yang berwarna cokelat keemasan.
"I can't.. aku.. aku akan kembali ke kamar." Viona melepaskan gamitanku dan tanpa berpaling lagi keluar dari restoran.
Musik masih terus mengalun, aku termenung dengan kejadian barusan. Seharusnya aku tak terburu-buru. Aku sudah berhasil membawa ke pernikahan ini, jadi sudah semestinya aku bisa mengambil hatinya dalam waktu dekat..
Sewaktu kembali ke kamar, Viona sudah berbaring meringkuk dengan selimut menutup seluruh badannya. Hanya kepala munglnya saja yang menyembul dari balik selimut. Tapi dia belum sepenuhnya tidur, aku tahu karna wajahnya masih terlihat gelisah dan tubuhnya tegang dengan napas yang ditahannya.
Ya..memang terlalu terburu-buru rupanya tindakanku..
Kunyalakan televisi dengan suara pelan dan membaringkan tubuhku diatas sofa. Viona terus saja membolak-balikkan badan di ranjangnya. Sepertinya dia masih belum bisa tidur. Kumatikan kembali televisinya dan pindah ke ranjang.
Viona terkejut akan kehadiranku, dia agak beringsut matanya setengah terbuka. "Tenang, jangan takut.." aku menariknya ke dalam dekapanku.
"Ergh..Rei.." dia sedikit melawanku tapi kantuk sudah membuyarkannya.
"Tidurlah.. kau mau kunyanyikan sebuah lagu?"
"Ergh.." Viona merengek lagi, seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan. Dia sangat lucu..
"Close your eyes, give me your hand, darling
Do you feel my heart beating ?
Do you understand ?
Do you feel the same ?
Am I only dreaming ?
Is this burning an eternal flame ?
I believe it's meant to be, darling
I watch you when you are sleeping
You belong with me
Do you feel the same ?
Am I only dreaming ?
Or is this burning an eternal flame ?
Say my name, sun shines through the rain
A whole life so lonely
And then you come and ease the pain
I don't want to lose this feeling ...
Aku sama sekali tak ingin kehilangan rasa ini Vio.. terima kasih telah hadir dan menghilangkan semua lukaku.. dan kau juga telah mencairkan gunung es yang ada di dalam hatiku, membakarku dalam rasa yang indah.."
Tanganku terus bergerak naik turun membelai lengannya, hingga nafasnya benar-benar teratur.
"Have a nice dream babby.." aku mengecup lembut bibirnya.
(Song by : Bangles, Eternal Flames)
Curcol dkit...
by the way umur saya 21, kejebak di tubuh 16,ceilleh :D , selera musik saya umur 30 wkwkw tapi bkan berarti nggak suka musik jaman sekarang (penyuka ariana grande tapi love roxxete juga, suka dngerin avril juga celin dion, gak ketinggalan super junior vs boyzone , selera gwe kayaknya nerd banget hehe
.
.
.
.
"Do you feel the same ?
Am I only dreaming ?"
Apa? Apa aku bermimpi? Entah ada sebuah lagu yang menyelinap ke kepalaku. Rasa kantuk memang sudah menyerang dari tadi tapi aku susah sekali terlelap.
"And then you come and ease the pain
I don't want to lose this feeling ... "
Lagu itu terus mengalun hingga aku benar-benar terlelap.
Sekitar jam sebelas malam aku terbangun mendengar dering ponselku. Aku lupa mengubah modenya jadi silent. Sial. Siapa sih malem-malem gini. Kuraih ponselku yang ada di nakas.
Alex.
Kenapa lagi dia ya Tuhan... aku sudah sangat bersyukur dia nggak dateng tadi pas acara nikahan. Kenapa sekarang dia menghubungiku. Aku harus segera mengangkatnya sebelum Rei terbangun.
Eh.. lho.. Rei kok ada di ranjang? Jadi.. lagu yang aku mimpiin itu apakah ..? ah.. bukan waktunya mencari kesimpulan. Aku harus menjawab panggilan dari Alex dulu.
"Ada apa?" aku terlanjur menekan tombol penerima. Dengan perlahan aku turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
"Gimana malam pertamamu?" dasar kampret, dia kan tahu yang sebenarnya kenapa harus bertanya seperti itu.
"Elo ganggu malam pertama gwe!"
"Haha.. cepat kemari, aku di gedung bioskop sebelah hotelmu."
"Kenapa aku harus kesana?" iya, ngapain aku harus repot-repot kesana.
"Kau udah lupa dengan janjimu ya?"
"Aku tak pernah menjanjikanmu apapun!" suaralu menggema di dalam kamar mandi.
"Aku tunggu sepuluh menit lagi, atau akan kukirim rekaman cctv di lorong pada polisi."
Tut..tut..
Damn.. damn..!! Alex kau sungguh... ingin kubunuh kau sekarang juga!! Sepuluh menit?? Ya ampun.. dengan cepat dan hati-hati agar nggak ketahuan sama Rei aku keluar kamar. Tapi tunggu, pakaianku terlalu mencolok.
Ruang karyawan.
Yap.
Aku menemukan jaket di ruang ganti para karyawan hotel untunglah. Tinggal delapan menit lagi! Ya ampun, aku harus cepat..
Sampai lantai bawah aku baru menyadari kalau aku masih memakai sandal selop milik hotel. Dan itu meyulitkanku saat berlari. Ampun deh.. aku tak punya waktu untuk berganti lagi. Tapi ngomong-ngomong gedung bioskop sebelah kanan atau kiri. Aku berlari ke arah kiri, dan ternyata bukan, malah ada club malam. Dengan susah payah aku berbalik dan berlari kembali ke arah kanan hotel. Uh.. selop yang kupakai benar-benar menyusahkan.
Sampai! Dimana pria brengsek itu?
"Kau telat dua menit!"
"so?!"
Si congak itu dengan anggkuh berdiri di salah satu pintu masuk studio. Ada sekotak penuh pop corn dan segelas besar minuman bersoda.
"Ayo, filmnya hampir dimulai."
Dia.. benar-benar ngeselin!
Hmm..bioskop nggak terlalu buruk. Nggak akan ada orang yang memperhatikan, aku juga bisa tidur. Capeknya tuh udah nggak ketulungan lagi. Begitu film dimulai aku langsung menutup mata, tau deh filmnya apa, setelah logo production yang terkenal benget muncul aku langsung tertidur.
.
.
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 21"

Post a Comment