Hopeless Part 5

“Apa? Harganya dua juta lebih??” suaraaku meninggi beberapa oktaf setelah mengetahui harga pena yang kupesan beberapa waktu lalu.
“I…iya bu, gimana? Kalau mbak jadi kami pesankan satu.” Pegawai toko buku menghubungiku setelah mendapatkan stok pena yang kumaksud.
“Ya, jadi. Cuma emang harganya segitu ya?”
“Bener kok, ibu bisa cek harganya di toko online.” Sahutnya.
“Saya percaya kok, ya udah sebentar lagi akan saya ambil. Makasih ya mbak.”
“Sama-sama ibu.”
Segera kuketikkan d’lighter pen price di mesin pencarian komputerku. Kumasuki halaman teratas dari pencarian. 207$? Pantesan tadi minta 2.650.000. ya ampun..itu memakan hampir sepuluh persen gajiku sebulan, sial! Kenapa jadi pengeluarab yang gila-gilaan. Mending waktu itu terlambat 1 jam pun gak papa.
Ring.. ring…
“Ya Gio?”
“Ada yang ingin bertemu Vi. Sekretarisnya si Rei.” Mau apa sekretarisnya Rei ke sini? Jarang-jarang sekretaris direktur menemuiku.
“Baik.” Kuletakkan kembali gagang telpon ke tempatnya tepat ketika pintu ruanganku terbuka dan menampakkan sesesosok perempuan tinggi dan cantik dengan balutan blouse warna cokelat tua. Sanggulannya yang tinggi menambah jenjang lehernya dan menampakkan aura cerah wajahnya. Pinter banget si Rei cari sekretaris kayak super modek gini.
“Sore bu, maaf mengganggu.”
Aku mengangguk dan mempersilahkannya duduk di sofa tempat biasa aku menemui klien dan tamu lain.
“Pak Raihan tadi menitipkan pesan supaya bu Vio menjemputnya di rumah sakit..”
“Rumah sakit?!?” jeritan tertahanku menghentikan perkataan sekretaris Rei.
“I..iya.. tadi pak Raihan pingsan di ruang kerjanya dan dibawa ke rumah sakit Adhi Bhakti. Sampai rumah sakit beliau siuman dan menghubungi saya supaya menyerahkan kunci mobil bapak pada anda dan beliau juga berpesan agar anda menjemputnya.” Claara F.S., nama yang tercetak di name tag bajunya menjelaskan kronologi kejadiannya dan menyerahkan anak kunci mobil Rei.
“Ya, nanti aku akan ke sana.” Sudah kubilang dia itu sakit tapi tetap bersikeras untuk pergi kerja.
“Kalau begitu, saya permisi dulu..” Clara undur diri. Pas udah jam empat sore, waktunya pulang. Mungkin aku akan mengajak Gio ke rumah sakit. Semua barang kubereskan dan bergegas keluar ruangan. Tapi belum sempat aku membuka pintu ruanganku aku melihat Gio sedang menerima telpon dari seseorang. Dari wajahnya yang tampak sumringah kuduga panggilan itu dari Naya. Aku tak mungkin mengajak Gio ke rumah sakit.
“Udah pulang Vi?” Gio menghentikan langkahku
“He em.”
“Tadi ngapain sekretarisnya Rei ke ruangan lo?” selidik Gio.
“Nganterin sesuatu.”
“Apaan.”
“Mau tau banget sih lo say, bdw lo mau jalan ama Naya ya sore ini?”
“Haha, iya. Kok lo tau sih?”
“Tau lah, kecetak jelas di jidat lo. Nitip salam ya ama calon bini lo.”
“Iye, ntar gwe salamin. Nanti itu mau ngambil undangan yang udah jadi.”
“Siapa?”
“Ya gwe sama Naya lah.”
“Yang nanya. Wek!!” aku berlalu sambil tertawa puas.
“Sialan lo.” Umpat Gio.
Aku gak mau ngrusak kebahagian Gio dengan memberitahukan kabar Rei yang masuk rumah sakit. Baru kalau sudah agak mereda aku akan memberitahunya. Dalam waktu kurang dari sebulan, Gio dan kaNaya akan melangsungkan pernikahannya. Sebentar lagi Gio resmi menyandang nama besar kusuma. Dan Naya adalah kandidat  terkuat pengganti sang kakek.
Sebelum menjemput Rei di rumah sakit, aku mampir ke toko buku untuk mengambil dan membayar pesananku. Pena pesanan seharga 2.650.000. ah aku gak nyangka kenapa ada pena dengan harga selangit kayak gitu, emang apa sih istimewanya. Apa tintanya pake emas kali ya.
Jam lima kurang seperempat sampai di rumah sakit adhi bhakti. Lobi depan tampak sunyi, hanya ada dua wanita berpakaian ala perawat.
“Maaf mbak mau tanya. Kamar bapak Raihan al husyain dimana ya?”
Salah satu resepsionis itu mengecek daftar pasien di layar komputer. “Bapak Raihan ada di kamar 207 lantai dua.” Ujar si wanita itu setelah mendapatkan nama Raihan di layar monitornya.
“Oh, makasih mbak.”
“Sama-sama bu.” Si perawat memberikan senyum manisnya. Lift ada di dekat meja lobi dan masih terbuka. Segera saja aku masuk dan menekan tombol angka dua. Hanya butuh beberapa detik untuk sampai lantai dua. Begitu pintu lift terbuka, terpampang lobi kecil dengan seorang perawat pria yang menjaganya. Kuhampiri dia dan menanyakan keberadaan kamar 207. Perawat pria tersebut menunjuk ke pojok ruangan paling kanan. Aku mengerti dan berterima kasih padanya sambil lalu.
Bau khas rumah sakit menyeruak ketika aku masuk ruangan dimana Rei terbaring dan tertidur. Wajahnya sayu dengan bibir tipisnya yang memucat.
“Rei..” gumamku. Aku duduk di pinggir ranjang. Miris melihat keadaannya yang tergolek lemah dengan jarum infus menancap di salah satu punggung tangannya.Kusapukan tanganku di dahinya. Tak sepanas pagi tadi tapi bukan berarti dia sudah sembuh. Kuperhatikan lagi wajah timur tengahnya. Rei adalah keturunan turki, pantas wajahnya rupawan. Alis tebal menggaris indah di atas matanya yang dalam dan mempunyai tatapan tajam ketika terbuka. Campuran timur tengah dan asia. Kakek dan neneknya asli dari turki sementara ibunya orang jawa. Entah kenapa tiba-tiba aku tak tahan untuk tak menyentuh rambut hitamnya, dengan highlight sedikit pirang di ujung-ujungnya. Pelan-pelan kubelai rambutnya.
“Jangan berhenti.” Suara Rei membekukan gerakanku.
“Ka..kau udah siuman Rei?”
“Gwe lagi tidur tadi, kebangun gara-gara pijetan lo enak banget sih. Ayo kenapa berhenti memijat kepalaku.” Rei berkata-kata tapi matanya masih tertutup. Tanganku berpindah ke dahinya dan mulai memijitnya.
“Bukannya sudah kubilang kau itu sakit, kenapa masih tetep kekeh berangkat kerja sih. Jangan nyakitin diri sendiri.”
“Gwe gak papa kok. Kita pulang sekarang aja.” Rei malah ngajakin pulang lagi. Ni orang bandel banget sih.
“Nggak! Kali ini lo harus nurut Rei.” Emosiku meninggi. Bukan karena apa-apa, tapi ini demi kebaikannya juga. “Lo blum makan ya?” aku tahu itu dari lengser makanannya yang tampak tak tersentuh sama sekali.
“Belum sempet, gak nafsu juga.” Iya juga sih, seenak apapun makanan rumah sakit itu tak bikin orang nafsu makan. Tapi dia harus makan.
Aku berhenti memijat kepalanya. “Lo pengen makan apa? Biar gwe cariin di kantin bawah.” Tawarku.
“Gwe nggak mau apa-apa. Gwe cuman pengen..” Rei menggantungkan kata-katanya.
“Apa?”  tanyaku tak sabar campur gemes.
“Pulang” kata Rei tegas. “Ayolah Vi. Panggilin dokternya.” Rengeknya kemudian.
“Bentar.” Kataku tak kalah sewot. Aku keluar kamar tapi tak bermasud untuk manggil dokternya si Rei. Tapi turun ke bawah untuk beli makanan. Dua paket nasi gulung, dua gelas jus jambu, serta beberapa bungkus makanan  ringan dan air mineral sepertinya sudah cukup untuk bekal malam ini. Rei memang seprtinya sudah diperbolehkan untuk pulang. Tapi aku tak ingin dia kelelahan, jadi semalam kurasa cukup untuknya beristirahat.
Saat melewati lobi depan aku berpapasan dengan seseorang yang kutemui beberapa hari lalu. Sebenarnya bukan aku temui tapi aku tabrak seminggu yang lalu.
“Pak?! Bapak..?! permisi sebentar..” kucegat dia yang sedang menuju lobi.
“Ya, anda siapa ya?” sepertinya dia telah lupa padaku. Yah aku memang seorang yang tidak mudah dikenal hanya dalam sekali perjumpaan saja.
“Saya yang telah menabarak anda waktu itu. Di gedung Orion dan telah merusak pena anda..”
“Oh..ya..ya.. aku ingat . kau yang waktu itu terburu-buru kan..” ah yeah, aku sangat terburu-buru sampai kehilangans eperempat gajiku.
“Saya minta maaf sekali lagi, dan..” kurogoh kantong tasku dan  mengeluarkan kantong kertas kecil berisi pena yang baru saja kuambil sore tadi. “ini pena baru anda pak. Maaf belum sempat saya kirim soalnya tadi baru dapat memesannya.”
“Hm.. sebenarnya kau tak perlu repot-repot nona. Aku tak mengapa kehilangan pena itu.” Tidak mengapa. Hah.. kalau aku mah udah kenapa-kenapa kehilangan pena semahal itu.
“Tidak. Saya tidak repot kok. Tapi maaf saya harus segera pergi” aku undur diri. Tak ingin lama-lama meninggalkan Rei sendirian. Pria baya itupun juga berbalik melanjutkan langkahnya menuju lobo sementara aku menuju lift. Yah, aku sedikit beruntung setidaknya aku tak harus mengeposkan pena itu ke rumahnya sehingga tak menambah biaya pengiriman.
Sekembalinya aku ke kamar, Rei tampak tertidur kembali. Kayak gitu ngotot pengen pulang. Kau itu masih perlu istirahat yang banyak.
“Rei bangun.. lo makan dulu ya..” pelan-pelan Rei membuka matanya.
“Kau ini lama banget sih. Mana dokternya?”
“Dokter jaganya lagi gak ada, perawatnya bilang bisanya pulang ya besok nunggu persetujuan dokter.” Maaf Rei, aku berbohong demi kebaikanmu. “Nih, aku beli makanan. Kau makan ya, aku suapin ya?”
“Dikit aja. Aku agak mual.”
“Lo hamil ya, haha” candaku.
“Amnesia lo, gwe laki kali.” Balasnya.
“Udah-udah, makan nih.” Kusuapkan sepotong nasi gulung ke mulut Rei.
“Kau itu..” dia ingin berbicara tapi mulutnya masih penuh makanan jadi mengurungkan kata-katanya. “Pemaksa sekali sih..” katanya pada akhirnya setelah berhasil menelan nasi gulung yang kusuapkan.
“Aku tau kau tipe orang yanggak akan nurut sama hal-hal sepele seperti menjaga kesehatan, pola makan dan sebagainya. Kau itu hanya patuh sama pekerjaan dan peraturan-peraturan publik lagi pula..”
“Papa..?”
Papa? “Apa Rei?” aku mengikuti arah pandangan Rei dan menemukan seseorang yang entah dari kapan telah memasuki kamar dan duduk di sofa tunggu untuk mengamati kami. Dan setelah kuperhatikan lagi itu kan orang yang…
Oh God..!!
TBC

Related Posts:

0 Response to "Hopeless Part 5"

Post a Comment