“Apa? Harganya dua juta
lebih??” suaraaku meninggi beberapa oktaf setelah mengetahui harga pena
yang kupesan beberapa waktu lalu.
“I…iya bu, gimana? Kalau
mbak jadi kami pesankan satu.” Pegawai toko buku menghubungiku setelah
mendapatkan stok pena yang kumaksud.
“Ya, jadi. Cuma emang harganya segitu ya?”
“Bener kok, ibu bisa cek harganya di toko online.” Sahutnya.
“Saya percaya kok, ya udah sebentar lagi akan saya ambil. Makasih ya mbak.”
“Sama-sama ibu.”
Segera kuketikkan
d’lighter pen price di mesin pencarian komputerku. Kumasuki halaman
teratas dari pencarian. 207$? Pantesan tadi minta 2.650.000. ya
ampun..itu memakan hampir sepuluh persen gajiku sebulan, sial! Kenapa
jadi pengeluarab yang gila-gilaan. Mending waktu itu terlambat 1 jam pun
gak papa.
Ring.. ring…
“Ya Gio?”
“Ada yang ingin bertemu
Vi. Sekretarisnya si Rei.” Mau apa sekretarisnya Rei ke sini?
Jarang-jarang sekretaris direktur menemuiku.
“Baik.” Kuletakkan
kembali gagang telpon ke tempatnya tepat ketika pintu ruanganku terbuka
dan menampakkan sesesosok perempuan tinggi dan cantik dengan balutan
blouse warna cokelat tua. Sanggulannya yang tinggi menambah jenjang
lehernya dan menampakkan aura cerah wajahnya. Pinter banget si Rei cari
sekretaris kayak super modek gini.
“Sore bu, maaf mengganggu.”
Aku mengangguk dan mempersilahkannya duduk di sofa tempat biasa aku menemui klien dan tamu lain.
“Pak Raihan tadi menitipkan pesan supaya bu Vio menjemputnya di rumah sakit..”
“Rumah sakit?!?” jeritan tertahanku menghentikan perkataan sekretaris Rei.
“I..iya.. tadi pak
Raihan pingsan di ruang kerjanya dan dibawa ke rumah sakit Adhi Bhakti.
Sampai rumah sakit beliau siuman dan menghubungi saya supaya menyerahkan
kunci mobil bapak pada anda dan beliau juga berpesan agar anda
menjemputnya.” Claara F.S., nama yang tercetak di name tag bajunya
menjelaskan kronologi kejadiannya dan menyerahkan anak kunci mobil Rei.
“Ya, nanti aku akan ke sana.” Sudah kubilang dia itu sakit tapi tetap bersikeras untuk pergi kerja.
“Kalau begitu, saya
permisi dulu..” Clara undur diri. Pas udah jam empat sore, waktunya
pulang. Mungkin aku akan mengajak Gio ke rumah sakit. Semua barang
kubereskan dan bergegas keluar ruangan. Tapi belum sempat aku membuka
pintu ruanganku aku melihat Gio sedang menerima telpon dari seseorang.
Dari wajahnya yang tampak sumringah kuduga panggilan itu dari Naya. Aku
tak mungkin mengajak Gio ke rumah sakit.
“Udah pulang Vi?” Gio menghentikan langkahku
“He em.”
“Tadi ngapain sekretarisnya Rei ke ruangan lo?” selidik Gio.
“Nganterin sesuatu.”
“Apaan.”
“Mau tau banget sih lo say, bdw lo mau jalan ama Naya ya sore ini?”
“Haha, iya. Kok lo tau sih?”
“Tau lah, kecetak jelas di jidat lo. Nitip salam ya ama calon bini lo.”
“Iye, ntar gwe salamin. Nanti itu mau ngambil undangan yang udah jadi.”
“Siapa?”
“Ya gwe sama Naya lah.”
“Yang nanya. Wek!!” aku berlalu sambil tertawa puas.
“Sialan lo.” Umpat Gio.
Aku gak mau ngrusak
kebahagian Gio dengan memberitahukan kabar Rei yang masuk rumah sakit.
Baru kalau sudah agak mereda aku akan memberitahunya. Dalam waktu kurang
dari sebulan, Gio dan kaNaya akan melangsungkan pernikahannya. Sebentar
lagi Gio resmi menyandang nama besar kusuma. Dan Naya adalah kandidat
terkuat pengganti sang kakek.
Sebelum menjemput Rei di
rumah sakit, aku mampir ke toko buku untuk mengambil dan membayar
pesananku. Pena pesanan seharga 2.650.000. ah aku gak nyangka kenapa ada
pena dengan harga selangit kayak gitu, emang apa sih istimewanya. Apa
tintanya pake emas kali ya.
Jam lima kurang
seperempat sampai di rumah sakit adhi bhakti. Lobi depan tampak sunyi,
hanya ada dua wanita berpakaian ala perawat.
“Maaf mbak mau tanya. Kamar bapak Raihan al husyain dimana ya?”
Salah satu resepsionis
itu mengecek daftar pasien di layar komputer. “Bapak Raihan ada di kamar
207 lantai dua.” Ujar si wanita itu setelah mendapatkan nama Raihan di
layar monitornya.
“Oh, makasih mbak.”
“Sama-sama bu.” Si
perawat memberikan senyum manisnya. Lift ada di dekat meja lobi dan
masih terbuka. Segera saja aku masuk dan menekan tombol angka dua. Hanya
butuh beberapa detik untuk sampai lantai dua. Begitu pintu lift
terbuka, terpampang lobi kecil dengan seorang perawat pria yang
menjaganya. Kuhampiri dia dan menanyakan keberadaan kamar 207. Perawat
pria tersebut menunjuk ke pojok ruangan paling kanan. Aku mengerti dan
berterima kasih padanya sambil lalu.
Bau khas rumah sakit
menyeruak ketika aku masuk ruangan dimana Rei terbaring dan tertidur.
Wajahnya sayu dengan bibir tipisnya yang memucat.
“Rei..” gumamku. Aku
duduk di pinggir ranjang. Miris melihat keadaannya yang tergolek lemah
dengan jarum infus menancap di salah satu punggung tangannya.Kusapukan
tanganku di dahinya. Tak sepanas pagi tadi tapi bukan berarti dia sudah
sembuh. Kuperhatikan lagi wajah timur tengahnya. Rei adalah keturunan
turki, pantas wajahnya rupawan. Alis tebal menggaris indah di atas
matanya yang dalam dan mempunyai tatapan tajam ketika terbuka. Campuran
timur tengah dan asia. Kakek dan neneknya asli dari turki sementara
ibunya orang jawa. Entah kenapa tiba-tiba aku tak tahan untuk tak
menyentuh rambut hitamnya, dengan highlight sedikit pirang di
ujung-ujungnya. Pelan-pelan kubelai rambutnya.
“Jangan berhenti.” Suara Rei membekukan gerakanku.
“Ka..kau udah siuman Rei?”
“Gwe lagi tidur tadi,
kebangun gara-gara pijetan lo enak banget sih. Ayo kenapa berhenti
memijat kepalaku.” Rei berkata-kata tapi matanya masih tertutup.
Tanganku berpindah ke dahinya dan mulai memijitnya.
“Bukannya sudah kubilang kau itu sakit, kenapa masih tetep kekeh berangkat kerja sih. Jangan nyakitin diri sendiri.”
“Gwe gak papa kok. Kita pulang sekarang aja.” Rei malah ngajakin pulang lagi. Ni orang bandel banget sih.
“Nggak! Kali ini lo
harus nurut Rei.” Emosiku meninggi. Bukan karena apa-apa, tapi ini demi
kebaikannya juga. “Lo blum makan ya?” aku tahu itu dari lengser
makanannya yang tampak tak tersentuh sama sekali.
“Belum sempet, gak nafsu
juga.” Iya juga sih, seenak apapun makanan rumah sakit itu tak bikin
orang nafsu makan. Tapi dia harus makan.
Aku berhenti memijat kepalanya. “Lo pengen makan apa? Biar gwe cariin di kantin bawah.” Tawarku.
“Gwe nggak mau apa-apa. Gwe cuman pengen..” Rei menggantungkan kata-katanya.
“Apa?” tanyaku tak sabar campur gemes.
“Pulang” kata Rei tegas. “Ayolah Vi. Panggilin dokternya.” Rengeknya kemudian.
“Bentar.” Kataku tak
kalah sewot. Aku keluar kamar tapi tak bermasud untuk manggil dokternya
si Rei. Tapi turun ke bawah untuk beli makanan. Dua paket nasi gulung,
dua gelas jus jambu, serta beberapa bungkus makanan ringan dan air
mineral sepertinya sudah cukup untuk bekal malam ini. Rei memang
seprtinya sudah diperbolehkan untuk pulang. Tapi aku tak ingin dia
kelelahan, jadi semalam kurasa cukup untuknya beristirahat.
Saat melewati lobi depan
aku berpapasan dengan seseorang yang kutemui beberapa hari lalu.
Sebenarnya bukan aku temui tapi aku tabrak seminggu yang lalu.
“Pak?! Bapak..?! permisi sebentar..” kucegat dia yang sedang menuju lobi.
“Ya, anda siapa ya?”
sepertinya dia telah lupa padaku. Yah aku memang seorang yang tidak
mudah dikenal hanya dalam sekali perjumpaan saja.
“Saya yang telah menabarak anda waktu itu. Di gedung Orion dan telah merusak pena anda..”
“Oh..ya..ya.. aku ingat .
kau yang waktu itu terburu-buru kan..” ah yeah, aku sangat terburu-buru
sampai kehilangans eperempat gajiku.
“Saya minta maaf sekali
lagi, dan..” kurogoh kantong tasku dan mengeluarkan kantong kertas
kecil berisi pena yang baru saja kuambil sore tadi. “ini pena baru anda
pak. Maaf belum sempat saya kirim soalnya tadi baru dapat memesannya.”
“Hm.. sebenarnya kau tak
perlu repot-repot nona. Aku tak mengapa kehilangan pena itu.” Tidak
mengapa. Hah.. kalau aku mah udah kenapa-kenapa kehilangan pena semahal
itu.
“Tidak. Saya tidak repot
kok. Tapi maaf saya harus segera pergi” aku undur diri. Tak ingin
lama-lama meninggalkan Rei sendirian. Pria baya itupun juga berbalik
melanjutkan langkahnya menuju lobo sementara aku menuju lift. Yah, aku
sedikit beruntung setidaknya aku tak harus mengeposkan pena itu ke
rumahnya sehingga tak menambah biaya pengiriman.
Sekembalinya aku ke kamar, Rei tampak tertidur kembali. Kayak gitu ngotot pengen pulang. Kau itu masih perlu istirahat yang banyak.
Sekembalinya aku ke kamar, Rei tampak tertidur kembali. Kayak gitu ngotot pengen pulang. Kau itu masih perlu istirahat yang banyak.
“Rei bangun.. lo makan dulu ya..” pelan-pelan Rei membuka matanya.
“Kau ini lama banget sih. Mana dokternya?”
“Dokter jaganya lagi gak
ada, perawatnya bilang bisanya pulang ya besok nunggu persetujuan
dokter.” Maaf Rei, aku berbohong demi kebaikanmu. “Nih, aku beli
makanan. Kau makan ya, aku suapin ya?”
“Dikit aja. Aku agak mual.”
“Lo hamil ya, haha” candaku.
“Amnesia lo, gwe laki kali.” Balasnya.
“Udah-udah, makan nih.” Kusuapkan sepotong nasi gulung ke mulut Rei.
“Kau itu..” dia ingin
berbicara tapi mulutnya masih penuh makanan jadi mengurungkan
kata-katanya. “Pemaksa sekali sih..” katanya pada akhirnya setelah
berhasil menelan nasi gulung yang kusuapkan.
“Aku tau kau tipe orang
yanggak akan nurut sama hal-hal sepele seperti menjaga kesehatan, pola
makan dan sebagainya. Kau itu hanya patuh sama pekerjaan dan
peraturan-peraturan publik lagi pula..”
“Papa..?”
Papa? “Apa Rei?” aku
mengikuti arah pandangan Rei dan menemukan seseorang yang entah dari
kapan telah memasuki kamar dan duduk di sofa tunggu untuk mengamati
kami. Dan setelah kuperhatikan lagi itu kan orang yang…
Oh God..!!
TBC
0 Response to "Hopeless Part 5"
Post a Comment